
Malam itu suasana hati Galang sedikit lebih tenang. Seperti memenangkan tender pekerjaan yang menguras emosi. Dia berjalan menuju lounge bar untuk menemui Kris. Ada hal penting yang ingin disampaikan Kris mengenai Raka.
“Selamat malam pak…” Sapa Kris yang tengah duduk di kursi tinggi bar konter.
“Malam” Galang mulai duduk disamping Kris.
“Mau whisky? Single atau double?” Kris menawarkan minuman yang biasa Galang pesan kalau di Bar.
“Saya mau ice cinnamon ginger tea” jawab Galang singkat.
Galang membuka tabletnya. Memposisikan screen tablet agar tidak bisa dilihat Kris. Galang sempat mengambil foto Kasih saat dia bernyanyi dan bermain piano di restaurant Kelong. Zoom in… zoom out… zoom in… zoom out… diulanginya berkali-kali untuk melihat wajah Kasih. Foto itu membuatnya candu. Sesekali menutup mulutnya karena tidak ingin orang disekelilingnya tahu kalau dia sedang tersenyum membayangkan wajah Kasih.
Galang Point Of View
Untunglah tadi sore aku mengetahui kalau Joe membawa Kasih ikut pergi ke Kelong. Meski sedikit terlamabat, setidaknya bisa menikmati reff lagu yang dia nyanyikan. Ternyata anak itu pandai sekali bermain piano. Dress yang dia pakai juga cantik. Hm… Bagian itu selalu jadi daya magnetku.
Senangnya bisa berdansa dengannya lagi… Meskipun ada jarak aneh yang dia tahu dari google… Setidaknya aku bisa memeluknya sekali waktu ada pasangan lain menyenggolnya… Jadi bukan salah ku kalau dia sampai terdorong memelukku hihii....
Author Point Of View
Kris memperhatikan gerak gerik Galang. Memastikan suasana hati Galang. Kris merasa ini bukanlah waktu yang tepat untuk bercerita. Menurut isi pesan whatsapp Joe mengatakan, ‘pak Galang sedang puber ke-2’. Begitu gaya bahasa Joe, singkat padat dan jelas kalau memberi informasi.
Tetapi Kris berfikir lagi… Ini tentang anak bosnya. Mau tidak mau harus segera diinformasikan.
“Pak, bagaimana acara makan malam dengan mama Laura?” tanya Kris sambil memberikan ice cinnamon ginger tea yang dipesan Galang.
“Perfect” jawab Galang setelah mencicipi sedikit minuman yang dia pesan. “Gimana informasi Raka dan wanita itu?” ini merupakan hala yang ingin dibicarakan Kris. Baguslah kalau pak Galang masih ingat untuk bertanya tentang anaknya, begitu pikir Kris. Karena biasanya kalau orang sedang dimabuk cinta, suka tidak mau diberi beban untuk berfikir berat. Maunya happy happy aja sambil cengar-cengir.
“Raka diajak pergi ke Thailand pak” Mata Galang langsung melotot melihat Kris. “Teo bilang kalau Amelia lebih suka check up di Thailand dengan dokter spesialis kulitnya. Dan disana ada orang tua Amelia. Raka semakin senang bermain dengan oma opa nya disana. Jadi… Teo terpaksa menunggu waktu yang tepat untuk membawa kembali Raka”
“Pintar sekali dia menggunakan orang tuanya untuk menahan Raka. Ck!” Mood Galang berubah tidak baik lagi. “Suruh Teo untuk selalu stand by dekat Raka. Jangan sampai dia membawa Raka ke negara yang lain”
“Siap pak”
“Ambil salah satu staff kita dari cabang kota lain untuk menggantikan pekerjaan Teo sementara disini” Galang memberi instruksi, tidak mau tugas Teo terbengkalai.
“Siap pak”
Setelah menerima laporan dari Kris, Galang kembali ke villa. Merebahkan diri untuk segera tidur.
Di kamar yang lain, Kasih masih berguling guling di kasurnya. Mengingat setiap kejadian yang ada di restaurant kelong.
Ishh kenapa sih… ekspresi muka pak Galang waktu pegang kakiku bikin panas dingin... Untung aja gak ketendang… hihii. Menggemaskan sekali melihat muka sedihnya itu… Emang dia aja yang bisa marah… Aku juga bisa marah.... Ngapain juga dia putar lagu Armada... ‘Mau Dibawa Kemana Hubungan Kita’… ? berkali-kali… hihii… Rasanya masih belum puas ngerjain dia… Malah aku dikerjain lagi. Masa sih aku harus manggil dia ‘mas’… mas Galang, gitu? Hihii… Ishh, kok aneh ya…? Kasih terus menerus berguling guling dibawah selimutnya. Sesekali tertawa cekikikan, berlatih memanggil nama ‘mas Galang’.
Awan gelap mulai berganti dengan sinar cahaya pagi. Hari ini cuaca cukup bagus. Cerahnya warna biru langit menandakan rencana bermain paralayang akan berjalan dengan baik.
Kasih mulai mempersiapkan dirinya untuk mengantar tamu. Memakai tshirt berlogo Luxus Resort Bintan dan memakai celana dan sepatu sport. Ini merupakan pertama kalinya untuk Kasih mendatangi lokasi bermain paralayang. Sangat bersemangat, berharap bisa bermain juga.
Dia bergegas menuju villa pak Ben. Tamu itu lebih suka dipanggil ‘pak’ katanya supaya akrab daripada dipanggil ‘mister’, begitu keinginannya saat memberi tahu Kasih waktu main golf.
Setelah menghampiri pak Ben dan anaknya, Kasih menuju Lobby untuk menaiki mobil bersama pak Ben. Tapi sebelum masuk kedalam alphard, Kris dan Caca muncul memakai baju sport juga.
“Mau kemana Kasih?” tanya Caca.
“Mau mengantar tamu main Paralayang” jawab Kasih sembari tersenyum.
“Wah… pas kali! Mas Kris sama aku juga mau main paralayang. Ada teman lama invite buat main paralayang. Rencananya sih mau buat vlog. Dia vlogger terkenal loh… Nanti aku kenalin” Caca sangat semangat betemu teman lamanya. “Mas Kris, bisa kita satu mobil dengan Kasih?” Caca menoleh Kris yang sibuk mengecek tas ransel.
“Boleh… Kalian masuk mobil duluan” jawab Kris singkat.
Mereka menuju lokasi untuk melakukan lepas landas paralayang. Lokasinya cukup jauh. Membuat Caca tertidur lelap di samping Kasih. Setelah kurang lebih menempuh jarak 1,5 jam, akhirnya mereka sampai di lokasi. ‘Bintan Pelangi Paralayang’, begitulah tulisan papan nama di depan area masuk.
Sedangkan Kasih dan Caca sibuk mencari teman Caca.
“Dia emang orangnya suka menghilang gini… Tapi kadang-kadang muncul… terus menghilang lagi…” kata Caca. Kasih hanya mengikuti kemana Caca pergi. Dia merasa pak Ben sudah aman bersama Kris.
Sekarang yang harus dia amankan adalah Caca. Kondisi adik bosnya ini terkadang naik turun. Takut kalau Caca tiba-tiba teringat masa lalunya dan drop. Jangan sampai ada kasus bunuh diri di ketinggian 1.500 Mdpl (meter diatas permukaan air laut), begitu pikir Kasih.
“Hai Ca…!” Seorang laki laki berlari menghampiri Caca.
“Hai! Apa kabar?” tanya Caca yang kemudian melakukan cipika cipiki.
“Great! Dimana Kris?” tanya laki-laki itu. Mukanya dan gayanya terlihat masih muda, sekitar seusia Caca. Tapi gayanya memanggil nama Kris saja… menandakan orang itu menganut budaya barat. Tanpa ‘pak’, ‘mas’, ‘bang’, ‘kak’… begitu pendapat Kasih menilainya diawal.
“Mas Kris lagi sama guest (tamu). Kamu sama siapa?” tanya Caca balik.
“Aku sendiri. Siapa ni…? Cantik betul…?” pertanyaan itu hanya ditanggapi Kasih dengan senyuman.
“Oh kenalin… dia Kasih, Kasih… ini Jack. Nama panggung travel vlogger nya” kata Caca. Jack dan Kasih bersalaman.
“Yap!” Jack mengangguk-angguk mendengar Caca. Laki-laki itu menggeret tangan Caca, menjauh dari Kasih sambil berbisik ke telinga Caca. Bzzbzzbzztt, begitu bunyinya. Tidak ada yang bisa didengar Kasih karena angin cukup kencang di ketinggian tempat itu.
Kasih tidak bisa mendengar pembicaraan Caca dan Jack. Dia juga tidak bisa mendekati kedua orang itu. Akan sangat terkesan tidak professional dalam bekerja kalau ketahuan menguping. Yang dilihatnya Caca hanya mengangguk-angguk dan tertawa.
Sepertinya mereka memang sudah akrab, batin Kasih sambil membetulkan rambutnya yang beterbangan oleh angin.
Akhirnya mereka berada di titik lokasi lepas landas paralayang. Pak Ben dan anaknya sudah melaju terlebih dahulu melakukan penerbangan. Mereka menerbangkan 1 parasut untuk berdua, karena anaknya belum memilki izin terbang sendiri.
“Kasih… kamu main sama Jack ya!” teriak Caca karena suara angin sangat kencang.
“Iya… Main sama aku yuk! Tenang aja, aku dah sering main… 1500 meter kecil…!” Rasa excited untuk bermain sangat menggebu. Kasih mengiyakan ajakan Jack.
Mereka menikmati bermain paralayang. Kris bersama Caca dan Kasih bersama Jack. Permainan ini sangat mendebarkan untuk Kasih. Sempat terhuyung oleng beberapa detik karena angin begitu kencang. Wzzzzz. Menghantam ke wajah. Tapi Karena Suara teriakan Jack begitu kencang, membuat kesadaran Kasih kembali. Jack cukup lihai menggerakan tongsis untuk membuat video.
“Waaaaaa Finally …! We are done!” Teriak Jack saat berhasil mendarat. (waaaaa akhirnya...! kita selesai)
“Huuufffttt yah… Finally … Hahaaa” Kasih mengumpulkan keseimbangan untuk berdiri. Kepalanya masih sedikit pusing.
Mereka berjalan menjumpai Kris dan Caca.
“Gimana…? Kamu suka…? Hahaa” tanya Caca sambil membiarkan Kris melepaskan seluruh peralatan yang dia pakai.
“Keren banget Caa…! Ini pertama kalinya aku main” Kasih masih tidak percaya sensasi bermain paralayang sangat mengasyikan.
“Mana Jack?” tanya Caca.
“Ada tadi…” Kasih menoleh ke belakang mencari Jack. Orang yang dicarai tengah sibuk dengan gadgetnya. Mata Caca menangkap keberadaan Jack.
“Oh, Disana dia…” kata Caca.
“Mau dipanggilin?”
“Biar aja, gak usaha... Paling lagi upload video ke youtube…” Caca berkata dengan santai. Kris mulai melirik keberadaan Jack. Memang benar Jack tengah mengotak-atik handphonenya.
Gawat kalau sampai pak Galang melihat videonya. Di youtube lagi… Kris hanya bisa membatin dan memijat keningnya.
*****
Tetap semangat Kasih…
Next time main paralayang lagi ya…
Bersambung…
*****