
Keesokan harinya Galang masih dengan posisi yang sama. Duduk bersender di dinding bed dengan mengusap kepala Kasih.
Kasih mulai menggeliat menggerakkan badannya di bawah selimut. Mengusap mata dan area wajah memastikan tidak ada bolot dan air liur di mulut. Galang yang melihat pergerakan Kasih, berharap agar Kasih tidak marah atau ngambek lagi dengannya.
“Good morning sayang” kata Galang dengan mendaratkan ciuman di hidung Kasih. Kasih membiarkan Galang melakukannya. Tidak mau berdebat pagi-pagi. Toh hanya di hidung.
“Good morning mas…” balas Kasih dengan suara khas bangun tidur.
Galang melihat ada senyuman yang merekah di bibir Kasih. Hal itu membuat Galang sedikit lega. Setelah malam panjang menyaksikan Kasih menangis, membuatnya kesal dengan tindakannya sendiri. Melakukan secara kasar dan penuh pemaksaan.
“Mas…” Kasih berusaha bangun dan duduk agar bersejajar dengan Galang.
“Iya…” Galang menggeser tubuhnya memberi space agar Kasih bisa duduk.
“Aku tuh suka mimpi-mimpi aneh semenjak kerja disini… hihii” kata Kasih sambil menutup mulutnya. Masih membayangkan mimpi disaat dia tertidur lelap.
“Mimpi apa?” tanya Galang. Merasa sangat lega karena Kasih bisa bicara normal kembali dengannya. Galang mulai meraih tangan Kasih.
“Aku… Hihii… Dibeliin terong yang gedeee banget ama kamu. Mas Galang suruh aku pegang-pegang gitu sampai terongnya berair air… Aneh kan… Terong apa itu? Gak jelas mimpinya. Jadi aku lanjut tidur. Capek karena ulah mas Galang semalam” Kasih masih berusaha mengingat-ingat mimpinya dengan menggibit bibir bawahnya.
Galang semakin lega dengan sikap Kasih. Ditambah perbuatan terakhir semalam hanya diartikan mimpi oleh Kasih.
Hm… bagus lah kalau dia senang memegangnya. Biar malam pertama gak pingsan. Batin Galang sambil merapikan rambut Kasih yang acak-acakan.
Tak lama kemudian terdengar suara bel berbunyi di kamar Kasih.
TING TONG…
Ada banyak suara orang yang didengar Galang dan Kasih.
“Siapa tuh…?” tanya Galang. “Kaya suara mami… sama siapa dia…” Galang berusaha mengenali suara yang lain.
Kasih mulai sadar kalau itu adalah suara mamanya.
“Ya ampun… astaga…” Kasih mulai beranjak berdiri dari tempat tidurnya. Mondar-mandir kebingungan, merasa ketangkap basah berduan dengan Galang. “Itu… itu suara mama” Kasih mulai menunjuk-nunjuk pintu dan melotot kepada Galang.
“Bagus lah Kasih, mama mu dah datang. Kenapa bingung?” tanya Galang heran dan ikut beranjak dari tempat tidur.
“Pasti mama marah lihat kita berduan gini maS! Kita belom nikah tahu… Ntar apa kata mama? Aduh… gimana ni…?”
Galang jadi kuatir mendengar ucapan Kasih. Mulai berfikir untuk menelpon seseorang. Tapi Kasih menariknya keluar teras kamar.
“Mas… sini sinii…!” Kasih menarik lengan Galang. “Mas lompat dari sini ke bawah…” Galang menatap Kasih penuh gemas dengan ide gila calon istrinya itu. “Ayolah maS! Gak akan mati… Paling encok doang!” Kasih sudah panik mencari akal mengelabuhi mamanya. “Rumputnya tebel tebel (lebat)… Gak akan sakit… Mumpung sepi gak ada orang” Kasih menunjuk rumput-rumput di lantai bawah. “Ntar aku pijit kalau sakit… Ayo cepetan!” Kasih menggoncang lengan Galang.
“Gak bisa Kasih… Sayang… Ini terlalu tinggi…” Galang tidak mau ambil resiko. Mereka mulai berdebat.
“Katanya mau nikah… Gimana sih?! Ntar mama marah kalau liat mas Galang udah gituan sama aku”
Hm… Sial! Ni anak mau lihat aku terjun bebas dari lantai 2. Lagian mamanya mana tahu kejadian semalam. Galang kesal dengan ide gila Kasih.
“Ya iya… ambil selimut ama seprei sana! Biar aku ikat disini” pinta Galang.
“Oia ya… buat gelantungan… bentar bentar…” Kasih mulai beranjak ke kamar dan mengambil selimut dan seprei.
Galang mulai mengikatkan selimut dan seprei di pagar teras.
“Kasih…”
“Apa mas? Cepat turun sana…! Mama udah ting tang ting tong!” Kasih semakin panik mendengar suara bell kamar.
“Cium saya” Galang masih mencari kesempatan.
“Ish… gak banget!” Terpaksa Kasih mengiyakan kemauan Galang agar cepat pergi.
Bukan ciuman biasa, tapi pagutan demi pagutan Galang daratkan ke bibir Kasih. Mencoba meremas bagian favoritenya tapi tangan sudah di dicekal Kasih.
“Mmpp...! Udah sana mas!” Kasih memalingkan wajahnya. Galang sudah cukup puas mendapat camilan pagi dari Kasih.
Galang akhirnya turun ke lantai 1 dengan bantuan seprei dan selimut. Melambaikan tangan dan memberi flying kiss. Sudah tidak peduli lagi kalau dirinya diperhatian tamu di lantai satu. Kasih sibuk menarik seprei dan selimut, membawa masuk kembali kedalam kamar.
Ternyata kejadian itu dilihat oleh Raka. Anak kecil itu tertawa melihat papanya pergi lewat teras atas.
“Huaa Hihiii papa kenapa ma?”tanya Raka sambil berguling-guling diatas kasur.
Kasih mulai mendekati Raka. Memberi penjelasan agar anak itu mengerti.
“Raka… jangan bilang-bilang ya… Ini rahasia. Hihii. Ok?” Kasih memberikan jari kelingkingnya dan disambut oleh Raka.
“Iya ma…”Kata Raka penuh senyum memamerkan giginya. “Beliin kuda gede ya…” Masih berunding mengajukan permintaan.
Aduuhh… Bapak ama anak sama aja copy paste… Kasih semakin gemas dengan Raka.
“Ia… ntar mama mintain ke papa…” Kasih mulai menggendong Raka dan berjalan untuk membuka pintu.
Ceklek… (Membuka Pintu)
“Omaa… Good morning!” Raka menyambut kedatangan omanya.
“Selamat pagi…” kata Kasih.
“Pagi… Yuk masuk yuk jeng (diajeng/adik perempuan) Sarah” Ajak madam Lily.
Mereka mulai masuk ke kamar Kasih. Madam Lily sangat terkejut melihta kamar yang berserakan itu. Bantal sudah berserak di lantai. Selimut dan seprei salah satu bed sudah tergeletak di lantai. Sangat berantakan.
Gila… anak ku hebat betul main kuda kudanya. Berapa ronde semalam? Wah cucu baru on the way nih, batin Madam Lily tersenyum puas melihat kekacauan di kamar Kasih.
Ibu Sarah yang melihat kamar Kasih berantakan sangat malu. Ini tidak seperti Kasih yang biasanya. Duh nduk (anak perempuan) bikin malu wae kamu tuh. Udah mau nikah tapi gak isoh (bisa) beres-beres kamar. Pie tow kamu ni? (Gimana sih kamu ni) batin ibu Sarah.
“Maaf ya kamarnya berantakan. Mau ganti seprei sama cover selimutnya…” Berakting semaksimal mungkin meyakinkan tidak terjadi hal-hal aneh.
Mereka mulai ngobrol membahas tanggal pernikahan Kasih dan Galang. Kasih sangat kaget kalau tanggal pernikahan pun sudah ditentukan madam Lily dan mamanya. Padahal baru semalam mendapat lamaran dari Galang.
“Gak pa pa kan tanggalnya minggu ini? Semakin cepat semakin bagus. Ya kan Kasih?” tanya madam Lily.
“Em, saya ikut mama aja. Gimana baiknya” jawab Kasih.
“Hloh dek, kan kamu yang nikah… Bukan mama. Mama setuju setuju aja. Kalau malam ini kalian mau nikah… ya ayok… mama dukung gimana baiknya. Kalau adek udah rasa pas cocok sama nak Galang, ya mama dukung” ucap ibu Sarah sambil mengeluarkan oleh-oleh dari tasnya.
“Kalau gitu saya telpon Galang dulu ya… Siapa tahu bisa besok nikahnya” madam Lily berkata santai sambil mencari kontak nomor Galang.
Aduh… kalau nikahnya besok, terus pakai baju adat ketahuan semua tanda cuphang mas Galang. Ish… ngeselin deh! Mas Galang sih gak sabaran, batin Kasih.
Madam Lily sangat bersemangat mempercepat pernikahan Galang dan Kasih. Galang sudah pasti setuju dengan ide maminya. Madam Lily juga berencana untuk memberitahu kabar bahagia itu ke Amelia. Sudah sangat kesal selalu ditelpon dan dikirimi pesan Amelia ingin kembali kepada Galang.
*****
Wah wah… undanganya ya pak bos
Tetap jaga stamina…
Jangan sampai encok
Bersambung…
*****