My Butler

My Butler
I Miss You Kasih, I Miss You Sayang



Matahari pagi mulai menampakan sinarnya. Guncangan ombak laut sedikit terasa di kapal yang dinaiki Galang dan Roy. Ini tidak semudah membelah jalanan yang macet. Tinggal klakson atau berteriak ke pengendara lain kalau di daratan. Ini adalah lautan. Luasnya hamparan air laut yang bergerak-gerak bisa dirasakan kalau kita menaiki kapal yang ukurannya tidak besar. Galang dan Roy harus bertarung merasakan ombak yang mengguncang kapalnya.


“Good morning pak! Bisa tidur semalam?” tanya Roy yang mulai sibuk mengecharge handphoennya. Sudah sejak kemarin dia mencoba mengechargenya tapi tidak mau masuk. Pagi ini dia mencoba menggunakan kabel charger yang lain tapi lama sekali, masih 3%.


“Gak bisa tidur saya semalam. Ombaknya bikin pusing,” jawab Galang sambil meraih teropong yang ada di kapal itu. Mulai mengeker lautan lepas. Hanya ada kapal-kapal besar pengangkut barang yang dia lihat.


“Ya sorry, pak. Kapal yang gak kepakai cuma ini semalam,” kata Roy sembari tersenyum. Mulai menghidupkan handphoennya yang hanya dapat mengisi 3%.


“No worries. Yang penting saya bisa kejar istri saya secepatnya. Sudah sampai mana kita sekarang?”


“Bentar lagi kita sampai di pelabuhan Surabaya. Bahan bakarnya sudah mau habis. Harus kita isi dulu, pak. Tapi tenang aja. Cepat kok… Kalau menurut perhitungan, biasanya tamu di trip akan ditawari buat diving atau snorkling di utara pulau Bali. Ada banyak dolphine disana. Bisa jadi 3 sampai 4 jam kapalnya akan diam disana.” Galang hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan Roy.


“Pak, kita beli nasi bungkus aja kalau sudah sampai pelabuhan Surabaya. Biar nggak membuang waktu.” Sepanjang perjalanan, Galang hanya menuruti ucapan Roy.


Ini memang tidak mudah menaklukan lautan. Untung cuacanya gak buruk, bisa makin lama aku bertemu kamu, Kasih. Batin Galang sambil mengecek handphonenya. Tidak ada kabar dari Sam. Yang ada hanya pesan dari Kris kalau kasus Tania dan Amelia sudah masuk ke tahap penyelidikan polisi.


Roy mulai memarkirkan kapalnya di pelabuhan Surabaya untuk mengisi bahan bakar. Roy juga mengajak Galang untuk pergi ke kedai makanan.


“Pagi bu… bisa pinjam charger nggak? Mau numpang ngecharge,” kata Roy kepada penjual makanan.


Ibu itu berjalan mengambil kabel charger yang sesuai untuk handphone Roy dan menyuruh Roy menggunakan colokan yang ada disampingnya.


Sekitar 30 menit Galang dan Roy berada di pelabuhan Surabaya. Mereka mulai menaiki kapal kembali dengan membawa bekal makanan. Roy mulai menghidupan kapalnya dan melanjutkan perjalanan menyusul RP 07 yang dinaiki Kasih. Sambil mengendalikan kapal, Roy mengambil bungkus makanannya.


“Mari makan, pak. Seadanya ya,” Roy mulai membuka bungkus makanan.


“Iya jangan kuatir. Yang penting istri saya cepat ditemukan,” jawab Galang mulai tersenyum di pagi itu.


Mereka berdua mulai menikmati sarapan pagi dengan nasi bungkus. Bukan menu yang biasa Galang makan, American Breakfast Style kalau berada di resort. Galang mulai melahap nasi sayur dan telur pagi itu.


“Pak!” kata Roy sambil melihat handphonenya.


“Kenapa?”


“Istri saya ngirim pesan semalam. Ada istri bapak juga,” kata Roy sambil menyodorkan handphonenya ke Galang.


Betapa bahagianya Galang bisa melihat foto-foto istrinya. Rasa rindu semakin memuncak.


“Saya pinjam handphone kamu dulu ya,” Galang mulai berdiri dari tempat duduknya.


“Silahkan, bawa aja pak,” jawab Roy kembali melanjutkan menikmati sarapannya.


Galang berjalan ke bagian belakang deck. Sinar matahari cukup terik di bagian belakang kapal. Dilihatnya foto Kasih satu persatu. Lebih banyak murungnya wajah istrinya itu. Video yang tidak sengaja diambil Lia semalam juga dikirim ke Roy. Ada air mata mengalir yang Galang tangkap dari wajah Kasih.


Persaannya semakin tidak karuan… I miss you Kasih… I miss you, sayang… Batin Galang sambil mengusap air mata yang keluar. Ditambah teriknya matahari membuat air matanya terus mengalir.


“Roy, istrimu kenapa gak bisa dihubungi ya?” tanya Galang sambil menyodorkan handphone ke Roy.


“Kalau jam segini biasanya dia sibuk, pak. Saya coba kirim pesan aja biar nanti dia telpon saya,” kata Roy sambil mengetik pesan. Sudah beberapa detik tapi masih centang 1. “Kita tunggu aja ya, pak. Menghubungi kru lain di kapal itu juga pasti sama. Nggak akan diangkat kalau sibuk.”


Galang hanya bisa meremas-remas rambutnya lagi. Memiliki mu mengajarkan ku lebih banyak bersabar, Kasih… Jangan lagi kamu menangis disana. Aku sangat merindukanmu, batin Galang mulai meneguk air mineralnya. Selera makan jadi hilang karena melihat istrinya penuh beban.


Perjalanan masih jauh harus ditempuh Roy dan Galang. Roy juga mencoba menghubungi RP 07 lewat radio VHF. Tapi jaraknya yang masih jauh mengakibatkan suara yang di tangkap tidak jelas.


Apa yang kamu pikirkan saat ini, Kasih? Apa kamu merasakan kalau aku akan menjemputmu? Jangan ada air mata lagi… Tunggulah aku sebentar saja, batin Galang. Hanya kuatir memikirkan kondisi istrinya.


Sudah 4 jam lamanya Roy dan Galang mengitari sekitar utara perairan Bali. RP 07 juga belum ditemukan. Roy sudah mengecek setiap spot diving yang biasanya menjadi incaran para tamu untuk menyelam. Roy juga berusaha menelpon kru kapal tapi tidak ada respon.


Pesan yang dikirim ke Lia, istrinya juga belum ada balasan. Bahkan masih centang 1. Semakin empati Roy melihat kondisi Galang.


“RP 07… RP 07… Please respond… KP 21 need your position,” kata Roy mencoba terus menghubungi kapal yang ditumpangi Kasih. (RP 07… RP 07… Mohon responnya… KP 21 butuh posisi mu)


Setelah banyak kali mencoba menghubungi melalui radio VHF, akhirnya ada jawaban dari RP 07. Nakhoda yang mengemudi RP 07 itu menyuruh Roy untuk menelponnya. Karena suara Roy tidak begitu jelas di Radio VHF.


Tut… Tut… Tut…


“Hallo Roy! Kenapa?” tanya Nakhoda RP 07.


“Om, ada tamu yang mau ketemu tamu di kapalnya, om. Bisa pelan-pelan bawa kapalnya? Kami segera menuju kesana,” kata Roy.


“Tamu yang mana? Kamu yang agak cepat. Tamu-tamu disini lagi nyari spot sunset. Kami masih disekitar timur pulau Bali,” jawab Nakhoda itu.


Roy segera menutup telponnya. Memutar kapal yang masih berada di utara pulau Bali. Kapal yang tidak begitu besar dinaiki Galang dan Roy itu mulai melaju lebih cepat. Goncangan yang ada di kapal semakin terasa dirasakan Galang. Seperti dikocok-kocok perut mereka berdua. Bagi Roy ini sudah biasa. Tapi bagi Galang ini tidak biasa. Namun keingian Galang untuk bertemu istrinya tidak bisa diundur terus.


Perjalanan untuk mencapai perairan di timur pulau Bali sekitar 1 jam. Belum lagi mereka saat ini harus memilah-milah keberadaan RP 07. Banyak kapal phinisi di sekitar sana, membuat Roy harus cermat untuk menjaga jarak juga. Agar tidak terjadi kecelakaan.


Roy terus melakukan komunikasi lewat handphone dengan Nakhoda RP 07. Akhirnya kapal dengan design interior klasik itu bisa dikejar oleh Roy.


 


*****


Selamat pak Galang…


Bersambung…


*****