
Malam harinya, Kasih menyuapi Raka dengan memesan makanan dari room service. Malam itu Kasih juga memesan aneka makanan sehat untuk dirinya. Steak, seafood, sayuran dan susu ingin dilahap oleh Kasih sebelum Galang pulang dari kantor.
“Ma… banyak amat makan?” tanya Raka heran melihat banyaknya menu makanan di meja.
“Iya sayang… mama laperrr banget. Biar punya tenaga buat gendong Raka,” Kasih sibuk menghabiskan makanannya.
“Mama ntar endut loh…” Ucapan Raka itu menyadarkan Kasih.
Duh… nanti kalau sampai gendut… terus mas Galang ga suka lagi sama aku gimana? Kasih mulai kuatir dan menghentikan aktifitas mengunyah. Segera menelan makanan terakhir.
Ini membuat Kasih dilema. Akhirnya Kasih menaruh makanan yang belum habis di kulkas. Sayang kalau dibuang. Masih bisa dimakan besok lagi, begitu pikirnya.
Kasih mulai mengajak Raka ke kamar untuk tidur. Berusaha menidurkan Raka dengan mengusap rambut Raka.
“Raka… besok kita pergi ke dokter ya… Raka harus periksa. Biar dikasih vitamin sama bu dokter. Ok sayang?” ajak Kasih.
“GAK! Raka ga mau,” menolak keras ajakan Kasih.
“Kenapa kok ga mau… Padahal bu dokternya baik… Nanti bu dokternya ngecek perut Raka kaya gini…” Kasih memperagakan gaya dokter yang menggerakan stetoskop. “Terus pernafasan adek juga diperiksa gini…” tangan Kasih berpindah ke dada.
“Gak ma!” Raka masih menolak tidak mau.
“Ntar badan Raka kena tusuk sakit!”
Hm… Kena tusuk emang sakit sih dek. Papa mu suka tusuk-tusuk mama tiap malam. Siang pun iya. Sore… pagi pun iya… Tapi ni tusuknya jarum suntik biar cepet sembuh… Kasih berfikir mencari cara agar Raka mau pergi ke dokter.
“Ya dah… bobok yuk…” Kasih mengalah, membiarkan Raka untuk tidur. Berfikir untuk membujuk Raka besok lagi. Toh sudah malam juga. Kasian kalau sampai membuat Raka ngambek dan menangis.
Jarum jam sudah menunjukan pukul 22.00 Galang masih belum pulang. Raka sudah tertidur lelap dari tadi.
“Kemana sih mas Galang…? Di telpon ga diangkat. Tumben. Atau jangan jangan… Ah ga mungkin. Kenapa sih otakku ini dari tadi siang berfikir negatif terus. Sabar… sabar…”
Kasih akhirnya tertidur. Sudah capek memikirkan kenapa dan mengapa tidak hamil.
Jam sudah menunjukan pukul 01.00 dini hari. Galang baru memarkirkan buggynya. Berjalan dan memasuki kamarnya. Dilihatnya Kasih sudah tidur terlelap di sofa. Galang segera memindahkan istrinya untuk berpindah ke bed.
Malam ini hatinya seperti teriris iris mendengar ucapan Amelia. Amelia mengatakan kalau dirinya akan menggugat Galang untuk mengambil hak asuh anak. Amelia sadar kalau dirinya dulu seorang pecandu. Tapi itu dulu waktu dirinya masih menjadi istri Galang.
Bagi Amelia, Galang sangat memprioritaskan pekerjaannya. Sangat sibuk dan jarang memberikan nafkah batin untuknya.
Itulah mengapa saat Amelia hamil, Amelia melampiaskan ke obat-obat terlarang. Sampai akhirnya dia merasa nyaman saat berbagi kisahnya ke Edo, pacar Caca waktu itu.
Perhatian Edo memuat dirinya merasa lebih nyaman. Merasa ada orang yang memperhatikannya saat hamil. Perhatian yang Amelia butuhkan dari Galang, tapi dia temukan di diri Edo.
Alasan itu yang mengiyakan Amelia saat ayah mertuanya mendesak bercerai dengan Galang. Amelia merasa nyaman dan mulai menyukai Edo. Hal yang Amelia sesali adalah saat ayah mertuanya membawa kabur Raka saat berada di rumah sakit. Terlebih lagi ayah mertunya itu menggunakan kelemahan Amelia. Melaporkan Amelia sebagai seorang pecandu untuk mengambil hak asuk anak secara penuh ke tangan Galang.
Galang yang mendengar cerita Amelia merasa sangat geram terhadap mantan istrinya itu. Jadi sudah selama itu mantan istrinya mengkhianatinya. Itu membuat emosi Galang mendidih.
Flash Back On
“IYA… Sudah selama itu aku bersama Edo. Mas Galang gak pernah perhatian sama aku! Apa kamu masih cemburu…?”
“Jaga ucapanmu!” Galang sudah mengepalkan tangan. Rasanya ingin mencekik perempuan di depannya itu.
“Aku tahu kalau di dalam sini cuma ada aku,” Amelia menunjuk nunjuk dada Galang. Galang segera menolak dan menghempaskan tangan Amelia.
Sial! Kenapa ga ketok pintu dulu tadi, batin Kris. Galang yang melihat Kris membuka pintu, segera memerintah Kris.
“Kris, BAWA DIA PERGI! JANGAN SAMPAI MENGINJAKAN KAKI DISINI!” Galang menyambar membuat tamu yang ada di belakang Kris mundur tidak jadi melangkahkan kaki ke ruang kerja Galang.
Kris mulai meraih tangan Amelia. Tapi Amelia mengibaskan tangan Kris.
“Aku akan mengambil Raka… Aku mamanya! Bukan perempuan itu!”
Flash Back Off
Kalimat terakhir Amelia itu membuat Galang meradang. Galang tidak mau kalau Raka diambil oleh Amelia. Ingin sekali Galang meluapkan emosinya. Tapi tidak tahu harus bagaimana. Memukul Edo? Orangnya tidak ada saat ini. Memukul Amelia? Seperti tidak bisa Galang lakukan. Terlebih saat mengingat Raka begitu menyayangi ibu kandungnya.
Galang hanya bisa memeluk istrinya saat ini. Menghirup aroma tubuh Kasih dalam dalam untuk memberikan ketenangan. Mencium tengkuk Kasih dengan lembut. Tidak mau mengganggu istrinya. Takut akan meluapkan emosinya yang hanya bisa membuat Kasih menangis. Galang tidak mau Kasih sampai pergi meninggalkannya seperti Amelia yang lebih memilih Edo.
Sentuhan-sentuhan yang diberikan Galang itu membuat Kasih terbangun. Kasih mulai membalikan badannya dan menghirup aroma dada bidang Galang. Aroma tubuh suaminya itu sangat disukai Kasih. Terlebih Kasih bisa mengusap-usapkan hidung di dada suaminya.
“Kamu belum tidur?” Galang mengeratkan pelukannya.
“Udah… tadi,” Mengusap punggung suaminya. Memainkan jarinya di punggung Galang. “Mas… Aku boleh ambil tawaran dari Caca ga buat jadi brand ambassador make up dia…?” bertanya dengan sangat manja agar diizinkan. “Caca bilangnya modelnya cuma aku aja. Ga ada cowok kok… Lagian ga akan menyita banyak waktu. Caca bilang pengambilan video dan foto disini. Aku ga akan kemana mana. Jadi tetap bisa jaga Raka dan nemeni kamu kerja… boleh ya…?” membujuk Galang dengan sangat hati-hati.
“Kamu suka jagain Raka…?”
“He em… iya mas…” jawab Kasih. Galang semakin mengeratkan pelukanya.
“Boleh. Yang penting kamu tahu batasnnya,” Galang mengelus punggung Kasih.
“Makasih, mas.”
Kasih dan Galang terdiam sesaat. Kasih merasakan ada yang berbeda dengan sikap Galang. Biasanya kalau sudah posisi pelukan seperti ini, Galang tidak bisa menahan diri untuk menjahilinya. Tapi malam ini seperti dingin. Tidak ada tangan bergerilaya yang selalu Kasih rasakan seperti hari sebelumnya atau siang tadi.
Duh… kenapa ni? Kok dia beda ya? Dingin… Ga kaya biasanya. Menaiki gunung lewati lembah… Mana sihh jurus ninja hatorinya? Kok ga masuk masuk? Mami dah nagih cucu tadi… Kasih ingin mendongakan kepala dan melihat suaminya, tapi tangan Galang menyuruh agar Kasih membenamkan wajah ke dada bidangnya.
Padahal aku tahu dia sudah menegang… Kok ga dimasuk masukin sih? Ngeselin…!
“Sayang… good nite,” ucap Galang. Memberi kecupan di kening Kasih sebelum tidur.
“Good nite mas.”
Loh… loh… loh… kok tidur sih? Tumben? Hm… Gimana sih mas Galang ni… Batin Kasih semakin penasaran kepada suaminya.
Perasaannya menggebu-gebu ingin segera membuat cucu untuk keluarganya, tapi Galang seolah memberi jarak kepadanya, begitu yang dirasakan Kasih malam ini.
*****
Coba Pakai ramuan mama lagi Kasih…
Bersambung…
*****