My Butler

My Butler
Resort Dalam Kondisi Darurat



Setelah menjalani prosesi make up dari tangan MUA profesional, Kasih diarahkan untuk memilih kostum. Sudah beberapa  baju Kasih coba di ruang ganti, tapi Kasih tidak suka dengan model yang ada. Semua baju sebenarnya sangat cantik. Hanya saja, model bajunya terlalu mengekspose. Sudah bisa dibayangkan kalau Galang tahu pasti akan terjadi perang seret menyeret menuju kamar.


“Ca, bisa pakai kostum yang berlengan ga? Daripada ntar mas Galang marah…”


“Em… bentar ya, Caca cek dulu,” Caca mulai memilah milah baju yang digantung. Selagi Caca memilih baju, Kasih mengecek keberadaan Raka.


“Ca, liat Raka ga?”


“Raka diajak Teo sama Sam pesan jus ke cafe,” jawab Caca singkat.


“Oo… Ok.”


Akhirnya Kasih mendapatkan baju yang pas sesuai harapannya. Baju dengan kerah putih terlihat elegant dipakai Kasih. Mereka pun melanjutkan sesi pengambilan video. Ini hal yang baru bagi Kasih. Tidak semudah yang Kasih bayangkan ternyata. Koreografer meminta Kasih untuk menjiwai perannya sebagai bintang iklan yang sudah lama memakai product yang ditawarkan. Selain itu Kasih harus fokus ke kamera.


Haduh… ini aku kaya ngomong sama angin… Capek juga diulang berkali kali, batin Kasih sambil meraih botol mineral untuk meneguknya. Kasih harus mengucapkan kata sesuai arahan koreografer dan fokus mata harus ke kamera.


Banyaknya kru di sekitar Kasih membuatnya gugup. Ini tidak semudah pembuatan video youtube Jack saat bermain paralayang, hanya berteriak semaunya dan selesai, begitu pikir Kasih. Disini kasih harus fokus dan menghayati perannya sebagai bintang iklan. Setelah beberapa take video, akhirnya Koreografer mengatakan, “Excellent!” (luar biasa).


Semua kru bertepuk tangan untuk Kasih. Rasanya ada kebanggaan tersendiri saat mendengar hasil kerjanya yang baru dipuji. Meski menghabiskan banyak waktu, hehee.


Setelah pengambilan video selesai, Kasih diminta untuk melanjutkan pemotretan. Caca ingin menggunakan foto kakak iparnya itu untuk membuat banner. Perencanaan promosi harus dilakukan dengan berbagai media. Itu yang diinginkan Caca.


Lagi-lagi Kasih harus mengikuit gaya koreografer yang super detail dan perfect itu. Ini tidak sesulit saat pengambilan video, tapi foto yang ingin diambil cukup banyak. Harus mengganti kostum beberapa kali dan sesekali MUA melakukan tacap make up.


Duh… kemana ya si  Raka? Kok ga keliatan dia…? Kasih mulai kuatir memikirkan anaknya. Ini sudah jam makan siang. Kasih ingin segera mengakhiri pemotretan dan berlari mencari Raka.  


“Ca, Raka dimana?” tanya Kasih disela-sela pemotretan.


“Masih sama Teo dan Sam. Dibawa pergi makan siang,” jawab Caca. Kasih hanya bisa mengangguk anggukan kepala. Melanjutkan prosesi pemotretan.


Ternyata ini sangat menyita waktu… Gimana ni… Mas Galang udah miscall berkali kali. Mati aku malam ini… Kasih mulai memikirkan kejadian apa yang akan berlangsung di ranjang tempat tidurnya.


Setelah menghabiskan waktu kurang lebih 5 jam, akhirnya pengambilan video dan foto selesai. Semua kru sangat mengapresiasi usaha Kasih berakting di depan kamera. Hasil pemotretan juga sangat bagus.


“Wah… semua kru muji mbak Kasih terus loh…” kata Caca sambil mengecek kamera hasil pemotretan.


“Kalau ga da koreografer mana bisa aku, Ca… hihii,” Kasih ikut nimbrung memperhatikan setiap slide foto.


Tiba-tiba Jun muncul menghampiri Kasih dan Caca. Dia terlihat tergesa-gesa berlari kearah Kasih dan Caca.


“Kenapa kak?” tanya Kasih bingung melihat Jun terengah-engah nafasnya.


“…Itu dek… Kalian cepet ke kantor pak Galang,” raut muka Jun terlihat sangat serius dan penuh ketakutan.


Kasih dan Caca sangat heran melihat sikap Jun yang tidak seperti biasanya. Terlihat sangat tegang dan panik.


“Kenapa mas Galang kak?” tanya Kasih sambil menerka-nerka apa yang terjadi dengan suaminya. Kasih tidak bisa membayangkan kalau terjadi hal yang buruk terhadap suaminya.


“Kenapa dia?” tanya Kasih menggoyangkan kedua lengan Jun. Jun masih diposisi mengontrol nafasnya setelah berlari-lari.


Kasih segera berlari meninggalkan ballroom. Berlari sekuat tenaga sambil menerka-nerka apa yang terjadi dengan Galang. Semua karyawan terlihat heboh melihat Kasih yang berlari menuju ruang kerja Galang.


Banyak jajaran direktur dan manager memenuhi ruang kerja Galang sampai ruang kerja Sam yang berada didepan ruangan Galang juga ikut penuh. Kasih berusaha menelusup masuk di kerumunan orang itu. Rasanya sangat panik, heran melihat ruang kerja suaminya penuh dengan kerumunan orang.


Disaat Kasih bisa menerjang kerumunan dan melihat suaminya tengah mondar-mandir di depan meja kerja membuatnya sedikit tenang. Karena suaminya masih ada dalam kondisi sehat. Merasa lega karena sempat berfikir Galang mengalami hal buruk. Tapi…


“IBU MACAM APA KAMU?! DIMANA RAKA?!” Itu adalah kalimat pertama yang didengar Kasih, bagai petir yang menggelegar. Kasih bingung… melirik dengan dua bola mata ke segala sudut pada ruang kerja Galang. Yang dia temukan hanya pandangan mematikan dari orang-orang di sekelilingnya. Sorotan mata yang mengintimidasi.


“BERAPA JAM KAMU NINGGALIN RAKA?!” Galang membentak Kasih lagi.


Caca, Teo dan Sam mulai bermunculan di depan meja kerja Galang. Mereka ikut bingung. Tidak tahu apa yang sedang terjadi.


“Mas Galang kenapa? Kenapa marahi mbak Kasih? Raka tadi sama Teo dan Sam,” celetuk Caca menjawab pertanyaan Galang yang sempat dia dengar saat berjalan masuk ke ruang kerja Galang.


Teo dan Sam yang disebut namanya oleh Caca saling berpandangan. What? Kita? Sejak kapan? Gue ga tahu! Loe kali! …… Gue juga ga tahu! Asal aja si Caca! Begitu kurang lebih bahasa sorot mata Teo dan Sam yang beradu pandang.


Mereka tidak tahu keberadaan Raka.


Tak lama kemudian, Kris muncul menerobos kerumunan orang yang ada di ruang kerja Galang.


“Pak, Raka dibawa kabur Amelia lewat pelabuhan ferry umum. Kami berhasil melacak lewat cctv dan handphonenya,” kata Kris dengan cepat.


Mendengar itu, Galang bergegas keluar dari ruang kerjanya. Kasih berjalan mengikuti Galang. Kasih merasa bersalah dalam kasus ini. Merasa sangat teledor telah membiarkan Raka bermain sendirian. Merasa menyesal telah mengiyakan keinginan Caca untuk mengikuti prosesi pembuatan video dan pemotretan. Kasih hanya bisa merutuki tindakannya itu.


Kasih bisa merasakan betapa kemarahan suaminya itu meluap-luap. Galang pergi menjalankan buggynya dengan kencang meninggalkan Kasih yang ingin ikut menaiki buggy. Seakan tidak melihat Kasih yang juga panik mengetahui Raka dibawa kabur Amelia.


 


Sam segera menyalakan buggy dan menyuruh Kasih untuk naik ke buggynya. Mereka menyusul Galang yang menuju villa. Prediksi Sam saat ini adalah kalau Galang akan mengambil passportnya dan mengecek passport Raka. Sam paham betul bagaimana bosnya itu akan bertindak. Begitulah informasi yang diberikan Sam kepada Kasih.


Sesampai di villa, Kasih segera naik menuju kamar. Dia ikut panik mencari passportnya.


“Mas… aku ikut ya. Aku ikut cari Raka.”


“Minggir Kamu.”


Rasanya sudah mau runtuh dirasakan Kasih. Penolakan dari Galang itu membuat Kasih sedih. Kasih sudah merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Raka. Tapi saat dia ingin menebus kesalahannya itu justru ditolak oleh Galang.


Sam yang melihat adegan barusan merasa kasian dengan Kasih.


“Buk, sabar. Pak Galang lagi emosi. Jangan diganggu,” bisik Sam kepada Kasih.


Sam segera mengikuti Galang. Kasih tetap dengan pendiriannya ingin ikut mencari Raka. Kasih mengejar Galang dengan buggy yang terparkir di villa.


3 Buggy itu saling kejar-kejaran. Mereka menuju LFT. Sesampainya di LFT, Galang menelpon Kris.


“Kris, share lokasi keberadaan Raka,” kata Galang yang kemudian menutup telpon dan bersiap menaiki yacht pribadi. Galang membiarkan Sam mengikutinya. Tapi berbeda dengan Kasih. Galang seolah tidak mengizinkan Kasih menaiki yacht.


Yacht yang dinaiki Galang dan Sam itu melaju dengan cepat. Kasih hanya bisa menangis.


Segitu besarnya kah mas kesalahanku? Lagi pula Raka pergi bersama Amelia. Mama kandungnya. Bukan orang lain… Kasih menatap yacht dengan penuh kekecewaan.


 


*****


Jangan sedih sedih Kasih…


Yuk Bagi jempol, favorit, hadiah dan votenya


Biar Kasih happy


Bersambung…


*****