
Pagi hari jam 06:00 Alarm berbunyi…
Beep Beep Beep…
Kasih mulai membuka mata dan mematikan alaram. Dilihatnya Raka masih tertidur lelap.
“Raka…” Kasih mengusap rambut Raka dengan pelan agar tidak kaget. Anak itu setelah beberapa menit mulai membuka mata. Kasih masih mengusap rambut Raka dengan tersenyum.
“Good morning Raka!”
“Temen Raka udah datang ya…? Raka telat bangun ya tante…?” bertanya seperti kaget kalau terlambat bangun.
“Belum dek… masih satu jam lagi. Tante juga baru bangun,” jawab Kasih.
Tiba-tiba Cup! Raka memberi cium di hidung Kasih. Kasih hanya bisa tersenyum mendapat perhatian dari anak itu.
“Apa ini? Friendship kiss…?” tanya Kasih sambil mentoel pipi Raka.
“Hihii… Itu morning kiss tante… Oma sama tante Aca suka morning kiss bangun tidur dari Raka.” Raka masih tersenyum dengan gigi kecilnya yang nampak.
“Wauw… Senangnya… Nih (Cup! Mencium hidung Raka)… Morning kiss buat Raka,” balas Kasih.
“Thank you tante hihii…” Raka mengucek mata dan mulai duduk di bednya.
“Mandi yuk… Raka mandi dulu… Biar tante habis mandiin Raka bisa balik ke kamar tante dulu… Ganti baju dan main ATV sama temen Raka.” Membujuk dengan manis agar anak itu mengiyakan.
“Raka bisa mandi sendiri tahu…! Raka udah mau 6 tahun! Tante Aca yang ajari Raka.”
Pintarnya anak ini udah belajar mandiri dari kecil. Caca memang hebat, dia sosok ibu pengganti untuk Raka. Pasti dia menyayangi Raka seperti janin yang pernah ada di perutnya. Meski Raka anak Amelia. Hmmm Jadi nyesek kalau membayangkan aku di posisi Caca. Huft… membatin sambil mengusap rambut Raka.
“Tante… semalam papa ngapain duduk disamping tante…? Kaya peluk peluk gitu…”
Jegrek!
Mata Kasih yang masih sayu terbelalak menatap Raka.
“Apa? Papa kamu? Papa Galang?”
“Iya tante. Tapi Raka ngantuk berat… Jadi lanjut tidur lagi deh. Sana tante balik kamar! Raka bisa mandi sendiri. Ada tante Aca yang datang bentar lagi. Jangan boong ya… Tante harus balik cepat,” Kasih hanya bisa mengangguk dan tersenyum.
Kasih segera mengganti baju tidurnya dengan baju yang kemarin. Baju itu sudah kering karena suhu dingin di ruang berAC. Segera beranjak menuju kamarnya dengan buggy.
Kenapa tadi aku ganti baju bercak merahnya bertambah ya…? Hmmm. Kasih membatin sambil menyetir buggy menuju kamar hotel.
Masih memberi senyuman hangat untuk setiap tamu dan staff yang berpapasan dengannya.
Sesampainya di kamar, Kasih segera menuju kamar mandi dan membuka bajunya. Melihat bagian dada di depan cermin untuk mengecek lebih jelas.
Kenapa ini…? Bercak apa ini…? Kalau iritasi kena air laut harusnya gak nambah lagi dong. Soalnya aku gak ngerasa gatal. Hmmm. Sebenarnya semalam itu mimpi atau nyata sih…? Udah 3 hari berturut-turut seperti ini. Atau aku cek ke dokter saja ya… Ah jangan deh… aku kasih bedak tabur punya mama aja. Siapa tahu hilang. Nanti kalau ke dokter pasti kena pegang. Aku kan belum pernah dipegang. Kecuali kalau mimpi itu… ah sudahlah. Batin kasih sambil mengamati bercak merah di dadanya.
Pagi itu Kasih harus bergerak cepat. Membersihkan diri dan bermake up tipis. Dia memakai sepatu sport dan tshirt agar leluasa bergerak. Masih denga gaya rambut yang sama, dicepol naik ke atas.
Sebelum beranjak keluar dari kamar, Kasih mengecek whatsap mamanya. Dia berniat untuk menelpon mamanya karena mamanya selalu membalas pesan whatsapp nya singkat singkat. Hanya ‘Ya’, ‘Masih Sibuk’, ‘Baik’… Seputar satu kata atau dua kata saja. Itu membuat Kasih kuatir. Meski kakaknya ada di rumah, tapi Kasih ingin memastikan. Karena terkadang Aan harus pergi keluar kota untuk mengajar calon Barista baru dari kampus ke kampus.
Calling…
“Halo ma, apa kabar?”
“Kabar baik. Kamu apa kabar disana? Pagi betul telpon mama jam segini. Huamm,” Ibu Sarah masih berada di tempat tidur.
“Aku baik ma. Hari ini aku kerja pagi. Mama sihhh diwhatsapp jawabnya singkat singkat. Kasih kan kuatir…” Kasih menengok penampilannya dari kaca. Memastikan sudah rapi.
“Iya… Ibu Lily, ibunya bosmu kan masih disini. Jadi lebih sibuk.”
“Madam Lily ngapain aja ma disana?”
“Mmm banyak banget… Dia ajak mama ke rumahnya di Solo. Dia bilang orang tuanya asli Solo. Kamu tahu gak… Rumahnya gedeee… bagus banget. Padahal gak ada yang nempatin. Cuma ada tukang jaga sama bersih-bersih. Mama diajak nginep disana. Terus diajak berkunjung ke teman-temannya. Semuanya orang-orang penting kemarin itu...” Kata ibu Sarah sambil mengingat aktivitasnya berama madam Lily.
Mendengar ucapan mamanya Kasih semakin penasaran.
“Ma… mama gak diapa-apain kan sama madam Lily?”
“Ha? Maksudnya? Dia baik banget sama mama. Mama sampai bingung menolaknya. Dibeliin batik, parfum, tas kondangan. Banyak banget pokoknya. Terus diajak jalan-jalan ke Malioboro. Dia lebih hafal toko souvenir disana daripada mama hehee.”
“Iya ma… jangan capek-capek ya…”
“iya… Kamu tahu gak dek… Ibu Lily itu minta dibuatin ice cinnamon ginger tea. Katanya harus samaa rasa kaya buatan kamu. Padahal kan itu resep punya mama… welcome drink kita di spa, buat tamu-tamu sini.”
“Iya lah mama yang lebih jago buatnya… Hihii. Tapi Kasih belum pernah buatin ice cinnamon ginger tea buat madam Lily…” Kasih berfikir sejenak.
Apa pak Galang ada cerita ke maminya ya, tentang ice cinnamon ginger tea? Lebay banget sih… Apa orang kaya seperti itu… kalau suka, mau dijadikan daftar preference? Kasih semakin penasaran dengan cerita mamanya.
“Kalau itu mama mana tahu dek. Tapi dia bilang anak cowoknya suka sama es buatan kamu itu. Dia bilang waktu di Jerman sampai habis 20 gelas sehari. Ya mama buatkan auto yang paling wuenak kaya resep mama… Hahaa!” Ibu Sarah merasa bangga dengan resep minumannya itu.
Kasih hanya bisa ikut tertawa dengan mamanya. Meski masih penasaran… Bagaimana mungkin pak Galang di Jerman menghabiskan 20 gelas ice cinnamon ginger tea sehari? Sedangkan cuaca di Jerman sedang dingin saat ini. Mengingat acara di tv tv selalu penuh salju saat Christmas dan new year di negara itu.
Gak kaget juga sih… Dia aja kuat menduda 5 tahun. 20 gelas es teh sehari di tempat dingin… pasti biasa aja buat dia. Mikir apa sih aku ini… Itu hanya es tehhh. Batin kasih.
“Ma… udah dulu ya… Kasih ada kegiatan pagi ini. Nanti kita sambung lagi… Bye Bye mama!”
“Iya… hati-hati ya…” Ibu Sarah mematikan telpon.
Panggilan selesai.
Kasih mengecek penampilannya sekali lagi sebelum keluar dari kamar. Setelah dirasa semua siap. Kasih beranjak dari kamar dan menuju buggy yang dia parkir di bawah. Menyalakan buggy dan kembali ke villa Galang.
****
Waduh… Ketangkap basah sama Raka
Laporan peyuk peyuk…
Bersambung…
*****