
Kondisi cuaca hari ini sangat panas, terlebih saat ini mereka duduk di lounge bar dekat area swimming pool.
“Silakan pak” bartender tadi memberi minuman yang dipesan Galang.
Galang, Jack dan Sam mulai menikmati minuman alkoholnya masing-masing. Galang kembali sibuk dengan tabletnya. Jack semakin merasa aneh dengan Galang. Bukannya mengajak ngobrol tapi Galang justru menunjukan sikap sok sibuk. Merasa menyesal telah mengiyakan ajakan Galang untuk minum di lounge bar, karena ini hanya membuang waktu saja menurut Jack.
Sam sudah menggaruk kepalanya berulang kali melihat keanehan sikap Galang sejak sarapan di restaurant. Jack melirik Sam yang duduk disampingnya. Yang dilirik hanya mengangkat bahunya memberi tanda kalau dia juga tidak tahu.
“Beri 3 gelas minuman lagi” pinta Galang kepada bartender yang sama. Dia segera meracik dan memberi pesanan yang diminta Galang. Jack semakin bad mood melihat gelas baru di mejanya.
Kalau ini dibiarkan akan habis sampai bergelas-gelas. Menghadapi orang cemburu yang super kelewatan. Padahal baru lihat belajar billyard… coba kalalu lihat belajar yang lain… hm… Jack mulai berfikir memperhatikan gerak-gerik bartender yang ada di dalam area bar konter.
“Bang, toilet sebelah mana?” tanya Jack kepada bartender yang sama. Bartender itu menoleh melihat Jack. “Bisa antar saya?” tanya Jack.
“Bisa pak. Mari…” jawab bartender yang kemudian beranjak meninggalkan area bar konternya.
“Bang, ke toilet dulu…” kata Jack sambil menepuk bahu Galang.
“Hm” Galang hanya melirik sebentar ke arah Jack.
Jack dan Bartender tadi berjalan cepat menuju toilet. Panas terik matahari sangat menyengat siang itu.
“Ini pak toiletnya” kata bartender sambil menunjuk dengan jari jempolnya. Jack tidak masuk ke tempat itu. Dia memilki rencana lain.
“Bang…” Jack menepuk bahu bartender. “Nanti kalau bos mu Galang itu pesan whisky lagi, isi gelas saya dengan air teh aja. Biar sama warna kaya whisky. Saya lagi gak mau mabuk. Ada jadwal pergi snorkling…” Kata Jack yang kemudian merogoh kantongnya memberi $100 singapore dollar.
Bartender itu mengabil uang dari tangan Jack. Dia terdiam sejenak, berfikir kalau sampai aksinya itu diketahui oleh Galang… bisa habis karirnya bekerja di Luxus. Tapi mengingat alasan orang yang ada di depannya itu, masuk akal juga. Melakukan Snorkling tidak boleh dalam kondisi mabuk.
“Pak… saya gak berani… Mending bapak bilang terus terang aja ke pak Galang,” bartender mengembalikan uang Jack.
Hm… susah ni orang diajak kerjasama. Aku kan mau bikin dia mabuk… biar dia gak ngekor kegiatan aku dengan Kasih… Jack membatin sambil mengambil 4 lembar $100 singapore dollar lagi.
“Nih, saya tambahin…” Jack memaksa memberikan uangnya. “Jangan beri whisky ke gelas saya!” Jack kemudian pergi kembali ke lounge bar meninggalkan bartender yang sudah dia beri uang. Dia mulai duduk kembali di sebelah Galang.
Dan memang benar dugaan Jack. Galang memesan whisky bergelas-gelas terus menerus. Dengan berat hati bartender itu memberi es teh yang mirip whisky, karena dipakasa menerima uang dari Jack. Sekertaris Sam sudah sempoyongan. Dia paling tidak bisa banyak minum alkohol. Sedangkan Jack hanya berpura-pura mabuk. Galang masih steady menikmati whisky dengan mengecek pekerjaan lewat tabletnya. Meski mata sudah sangat merah.
“Bang… aku balik kamar. Udah pusing mau muntah” kata Jack beranjak berdiri dari tempat duduknya. Galang melihat muka Jack. Akting Jack kalau dia sudah mabuk berat itu dipercayai oleh Galang.
“Hm… ok take care” kata Galang dengan mengangguk. (hati-hati)
Jack mulai pergi berjalan meninggalkan lounge bar sedikit cepat. Merasa bebas dari Galang yang aneh. Mengajak minum tapi malah sibuk dengan tablet dan tidak bicara sama sekali.
Sukurin aku kibulin! Dia pikir aku gak tau kalau dia mau bikin aku mabuk! Jangan harap gagalin jadwalku sama Kasih! “Ck!” Jack berdecak dengan kesal melihat jam tangannya. Waktunya sudah terbuang 1 jam sia-sia hanya untuk duduk mengiyakan kemauan orang yang sedang cemburu.
Galang yang masih ada di lounge bar menerima panggilan telpon dari maminya. Madam Lily protes mengenai keberadaan Raka. Dia sangat kesal kenapa Galang bisa memberi izin Amelia untuk membawa Raka pergi ke Singapore dan sekarang justru dibawa ke Thailand. Semakin jauh saja cucunya itu dibawa kabur. Semua informasi yang dia tahu itu berasal dari Teo yang saat ini masih di Thailand.
“Galang! Apa maksudmu memberi izin ke mantan istrimu membawa Raka?! Sekarang malah sampai ke Thailand! Sesibuk apa kamu disana? Ha?! Hari ini mami tanya ke Kris kenapa kaki Kasih bisa luka. Dia bilang karena ulah mu! Kamu apakan butler itu?!” Suara madam Lily berdengung di telinga Galang.
Kepalanya yang sudah pusing akibat alkohol, dihantam lagi dengan pertanyaan berat dari maminya. Membuat gelas yang ada disampinya tersenggol jatuh dan pecah.
PYAR!
Bartender yang ada di konter, dengan sigap mengambil sapu dan membersihkan pecahan kaca dibantu waiter yang ada. Galang menjauh dari pecahan kaca tadi, melanjutkan pembicaraan dengan maminya.
“Mam, disana ada oma opa Raka juga. Raka pasti ngamuk kalau dijemput paksa…” Galang memberi penjelasan sambil memijat pelipis kepalanya.
“MAMI GAK MAU TAU! MAMI MAU KE THAILAND HARI INI JUGA!” Suara madam Lily membuat handphone Galang bergetar. Galang sampai kaget mendengar kemarahan maminya yang melebihi emosinya.
Madam Lily memutuskan paggilan telpon terlebih dahulu. Kesal dengan tindakan Galang yang tidak berfikir kedepannya, kalau Amelia punya rencana lain.
“Ck!” Galang berdecak kesal karena berselisih pendapat dengan maminya. Masih memijit pelipis sambil melihat Sam yang sempoyongan membenarkan kacamatanya.
Bartender tadi mulai mendekati Galang. Mau tidak mau dia harus memberanikan diri untuk memberi informasi tentang tindakan Jack. Takut kalau sampai Galang mengetahuinya nanti, permasalahan akan semakin panjang mengancam pekerjaannya.
“Kenapa kamu bilang sekarang?!” suara Galang mengeras, membuat sekertaris Sam sedikit tersadar dari pengaruh alkohol.
“Maaf pak. Dia bilang mau pergi snorkling… Jadi dia tidak mau banyak minum. Saya tidak punya alasan untuk tidak mengikutinya” menjawab sesuai keinginan Jack. Melaporkan dengan detail, jangan sampai bos nya mengetahui aksinya diakhir.
“Ck!” Emosi mulai meluap. Berdecak kesal sambil mencoba menghubungi nomor telpon Jack dan Kasih. Keduanya tidak ada respon. Galang semakin kesal.
“Sam, kamu bisa renang?”
“Kenapa pak?” tanya Sam bingung dengan pertanyaan Galang karena dia tidak tahu maksud bosnya. Ditambah pengaruh alkohol yang kuat membuatnya tidak bisa berfikir jernih.
“Ck! Saya mau Jack sekarang juga!” menjawab penuh amarah menatap Sam dan bartender di depannya.
Galang berlari keluar dari lounge bar meninggalkan Sam yang masih berfikir untuk apa cari Jack lagi.
“Hm… Ck! Kenapa lagi dia ini?” Sam berkacak pinggang menatap galang yang pergi tanpa menunggunya. Dia melirik ke arah bartender disebelahnya.
“Pak Galang kayanya mau nyusul orang tadi pergi snorkling” jawab bartender yang ikut bingung kenapa bosnya sampai marah segitunya hanya gara-gara ditinggal snorkling.
Oh Sial! Saya ga siap kena ombak pak Galang…! Membatin sambil berlari terhuyung-huyung. Berusaha untuk berjalan normal saja sudah susah sekarang. Ini harus mencari Jack yang lagi snorkling, yang entah berada di kedalam sebelah mana, pikir Sam sambil mengejar Galang yang sudah pergi membawa buggy.
Sam memakai buggy lain yang tidak terpakai di dekat lounge bar. Dia berusaha menghubungi Kris. Tapi Kris tidak menerima panggilannya. Terpaksa hanya bisa menulis pesan di whatsapp grup.
Sam
(DARURAT! Pak Galang nyusul Jack yang snorkling sambil marah-marah)
Pesan Sam belum ada yang menanggapi. Karena saat ini Kris, Joe dan Teo sedang sibuk dengan urusannya masing-masing.
Galang yang sudah kalang kabut pergi ke post jaga water sport untuk mengecek apakah Jack dan Kasih pergi bersnorkling bersama.
“Kamu tahu Kasih pergi snorkling dengan… ck! Sial!” Galang malas menyebut nama Jack. Dia menggebrak meja resepsionis water sport dengan keras.
Semua staff dan para tamu sampai kaget melihat kemarahan Galang. Mereka saling pandang. Resepsionis water sport yang melihat kemarahan Galang segera merespon. Dia ingat ada karyawan baru VIP butler bernama Kasih.
“Iya pak, tadi Kasih sempat kesini buat pinjam peralatan buat snorkling” menjawab dengan guggup. Galang memejamkan matanya beberapa detik. Mengambil nafas dalam dalam.
Kejadian yang pernah menimpa Caca adiknya waktu Edo melakukan hubungan terlarang di laut Karimunjawa terlintas di pikirannya. Ada air mata yang dia tahan agar tidak terjatuh di depan karyawannya. Pikirannya semakin kalut. Membayangkan jari-jari Kasih disentuh oleh Jack saja sudah mebuatnya geram. Apalagi ini dibawa snorkling tanpa dirinya di sekitar Kasih.
Dia melepaskan jas kerja dan bergegas mengambil peralatan snorkel yang tergantung di dinding resepsionis.
“Kearah mana Kasih pergi snorkling?” nada suara sudah mulai gemetaran, menggenggam erat fins, kacamata renang dan snorkel (selang alat bantu pernafasan) yang baru saja dia ambil.
“Mereka pergi ke ujung sana pak…” jawab karyawan resepsionis sambil menunjuk arah Kasih pergi snorkling. Mendengar kata mereka sudah dipastikan orang yang bersama Kasih adalah Jack. Itu semakin membuat perasaannya berantakan. Masih dengan sekuat tenaga menahan air matanya.
Galang berjalan menuju buggynya. Menyalakan mesin buggy dan mengendarai dengan kencang. Sepanjang perjalanan menuju lokasi titik awal Kasih melakukan snorkling, pikiran Galang bercabang kemana mana. Menerawang mengapa Jack sampai berakting mabuk untuk membawa kabur Kasih tanpa seizinnya. Apa maksud tujuan Jack? Berharap laki-laki itu tidak akan melakukan hal bodoh kepada Kasih.
*****
Tidak tega melihat pak Galang sedih…
Hm…
Selamat deh buat mas bartender dapet $500 singapore dollar
Bersambung…
*****