My Butler

My Butler
Naik Turun Tangga



Hari semakin gelap. Kasih masih tertidur lelap setelah kejadian siang tadi. Malam itu Galang bersama Kris menuju kamar Jack. Dia ingin membatalkan perjanjian kontrak kerja dengan Jack. Belum sempat Galang dan Kris sampai di kamar Jack, mereka mendengar suara keributan di koridor jalan menuju kamar Jack. Suara cek-cok mulut dari arah kamar Jack terdengar jelas, karena pintu kamar itu terbuka.


“Kamu ini emang gak pernah berubah ya kalau ada cewek bening dikit main hajar! Main sosorrr!” Caca menjambak menarik-narik rambut Jack dengan keras. Yang dijambak hanya merintih kesakitan.


“Duhh... Aduh Ca… iya ampun… ampun…” berusaha melepaskan tangan Caca dari rambutnya yang terus menarik. Jack sampai berlari naik ke kasur tapi Caca juga ikut naik ke kasur.


“Ini sakit Ca…! Lepasin! Au… Sakit sakit sakit...” masih menjambak dan memukuli Jack dengan bantal. Jack tidak berani berbuat kekerasan dengan Caca. Dia hanya bisa mengelak menjauhi serangan tarikan meremas rambut dan hantaman bantal.


“Biarin! Biar kamu tahu rasa! Aku ga mau kamu ambil video videoan sama Kasih! Gak akan Caca izinkan! Gak ada lagi acara pegang-pegang tangan sekalipun!” masih menjambak rambut Jack. Jack terus-terusan memberontak, sampai dahi Jack terbentur tembok. JDUAR!


“Au… Sakit tahu ini. Gila kamu ya. Tega betul. Aduh Ca…! Ishhh!” Merintih kesakitan.


“Hahaa! Sukurin!” Caca senang melihat temannya itu kesakitan. Meskipun tidak tega juga. Tapi harus tetap diberi pelajaran agar Jack tidak mengulangi tindakan bodohnya itu.


Suara Caca memberi pelajaran ke Jack, didengar oleh Galang. Galang hanya tersenyum kecil mendengar suara perkelahian Caca dan Jack.


Ah, bagus lah kalau sudah dihajar Caca… Gak usah repot-repot aku memberi pelajaran anak sialan itu! Membatin sambil melirik Kris di sampingnya.


“Masih mau dilanjutkan menemui Jack, pak?” tanya Kris.


“Sudahlah, biarkan saja. Ini sudah lebih dari cukup. Jangan sampai dia mengganggu Kasih lagi” menjawab dengan nada dingin.


“Baik pak”


Galang berjalan meninggalkan kamar Jack. Dia menoleh ke belakang lagi saat kris tidak mengikutinya.


“Kamu… ngapain masih berdiri disana?” tanya Galang menatap Kris.


“Boleh saya menemui mereka, pak?” tanya Kris yang takut kalau Caca ditinggal akan terjadi hal gila lainnya.


“Ya, boleh. Jaga Caca” kata Galang.


“Terimakasih pak, selamat malam” Kris membungkukan badan memberi hormat kepada Galang. Galang hanya mengangguk sekali dan pergi kembali ke villanya.


Malam itu setelah sampai di villa, Galang tidak langsung menuju ke kamarnya di lantai atas. Dia berjalan menuju kamar tamu. Dia membuka kamar itu dan berjalan menuju tempat Kasih terbaring . Galang menghidupkan lampu tidur yang ada disamping Kasur. Dengan cahaya remang-remang, Galang mengecek suhu badan Kasih dengan menempelkan tangannya di dahi Kasih. Dia juga mengecek infus yang tergantung disamping Kasih.


Huft… Sudah mendingan suhu badannya, meski masih sedikit panas. Tapi lebih baik dibanding sore tadi… Galang mulai duduk disamping Kasih. Melihat wajah perempuan yang sudah membuatnya tergila-gila sampai menangis. Mangusap pipi Kasih dengan lembut. Galang mengecek obat-obatan yang diberikan oleh dokter.


Dokter itu memberikan obat dengan dosis yang cukup tinggi agar membantu Kasih beristirahat dengan nyenyak. Karena rasa panas dan gatal masih dirasakan Kasih waktu sore hari tersadar dari pingsan.


Galang mencoba memiringkan badan Kasih untuk mengecek luka sengatan di pinggang. Lukanya masih merah dan hangat saat Galang menyentuh pinggang Kasih. Dia mulai menutup baju Kasih setelah selesai mengecek.


Membenarkan selimut sampai menutupi dada. Mencium bibir dan kening Kasih dengan lembut. Galang mulai beranjak pergi dari kamar itu dan menuju kamarnya.


Sudah 15x aku naik turun tangga huft… Capek juga. Kenapa dia bisa tidur sampai lelap seperti ini… Apa dia tidak butuh minum atau ke toilet… Posisi tidur juga masih sama… hm… Galang memandangi Kasih dengan pencahayaan lampu remang-remang di samping tempat tidur.


Dia mulai duduk di samping Kasih lagi. Memandangi perempuan yang sedang tertidur itu. Galang teringat dengan jawaban Kasih kepada Raka saat belajar berenang. Kasih mengatakan kalau bercak merah di dadanya mungkin karena berlamaan berendam di air pantai. Galang sangat penasaran apakah bercak itu masih ada atau tidak. Dia mulai memuka kancing baju Kasih.


Bercaknya sudah hilang… berarti itu memang karena gigitanku malam itu… Hm… masih ada pasir pantai di sini rupanya… pasti perih kalau tidak segera dihilangkan, batin Galang sambil mengusap dua benda kenyal di depannya untuk menghilangkan pasir pantai yang masih menempel di kulit.


Naluri kelakiannya mulai bergejolak memandangi bagian yang baru saja dia bersihkan. Rasa rindu untuk merasakan sudah tidak bisa dibendung lagi. Tangannya mulai meremas salah satu benda itu dengan lembut. Melancarkan aksinya, menciumi… mengusap… dan mengkecup kecup bagian favoritenya. Membuat aliran darahnya semakin panas. Galang mulai mematikan lampu tidur disampingnya.


^^-^^


Matahari yang cerah mulai nampak. Cahaya matahari mulai masuk kamar lewat jendela yang sudah dibuka.


“Good morning Kasih…” Jun menyapa Kasih yang baru saja membuka mata.


“Kak… huamm” Kasih menggerakan tanggannya meregangkan otot. Tapi pinggangnya masih nyeri. “Ish… masih sakit…” mengrenyitkan alisnya.


“Hati-hati dek… Belum sembuh kamu tuh…” Jun mulai duduk disamping Kasih.


“Iya kak… hihii maaf. Kok kak Jun disini? Bukannya harusnya kerja?” tanya Kasih sambil mengusap mukanya dengan tangan.


“Iya… pak Galang minta kakak jagain kamu. Pak Galang berangkat ke Batam untuk urusan pembangunan restaurant underwater. Terus Caca sama pak Kris juga pergi ke Batam. Urusan mereka yang kemarin masih belum selesai. Gak tahu urusan apa juga itu…” Jun menjelaskan dangan mengusap tangan Kasih.


“Ow…” Kasih tersenyum mendengarkan penjelasan Jun. “Kak, pak Galang berangkat ke Batam kemarin Malam atau tadi pagi?” tanya Kasih.


“Gak tahu dek... Pak Galang cuma telpon bang Joe buat jagain kamu pagi ini. Kenapa dek? Kalau tamu hotel kakak bisa cek. Kalau bos mana bisa dicek. Hehee. Kena tabok nanti kakak ngecek kegiatan bos. Hihii” Kasih ikut tertawa mendengar jawaban Jun.


Oh… jadi semalam itu betulan mimpi… Ternyata dia di Batam… Padahal aku merasa ada rambut-rambut halus yang kupikir brewok pak Galang… Di hotel ini kan yang punya brewok Cuma pak Galang… Karyawan lain mana boleh pelihara gituan… Ternyata dia ngak melakukan itu ya… hm…  Gara-gara dokter menyuruh ku minum 2 tablet obat ituhh, aku sampai susah buka mata… banyak mimpi… berhalusinasi jorok. Ishh menyebalkan… Atau ini gara-gara aku tidur di Kasur ini? Ruangan ini kan tempat mereka melakukan itu… Kenapa sih aku harus dibawa ke kamar ini…! Emang gak bisa ya dibawa ke rumah sakit aja kalau emang harus dirawat inap! Ngeselin! Kasih memandangi obat yang berada disamping tempat tidurnya. Mengepalkan tanganya di Kasur. Merasa jengkel harus berbaring di Kasur yang sama dengan Amelia.


 


*****


Pak Galang…


Tolong jelas kan tanda apa itu ^^-^^


Bersambung…


*****