
Kasih memutuskan untuk menginap di rumah Sekar. Kasih tidak tahu kalau mas Aan menjalin hubungan dengan Tia, kakaknya Sekar.
Aan meminta Sekar dan Tia agar menjaga adiknya. Aan tidak mau kalau Kasih kabur ke tempat yang lebih jauh. Aan harus bersabar menunggu sampai Kasih mau bercerita dengannya. Meskipun Aan sudah tahu kalau adiknya kini sedang terluka hatinya. Aan sudah berusaha menghubungi Kasih, tapi adiknya itu tidak menjawab panggilannya. Apapun itu alasan Kasih tidak menjawab, Aan berfikir kalau adiknya saat ini takut atau malu terhadap keluarga. Jadi memberikan ruang untuk Kasih menenangkan diri adalah pilihan yang harus diambil Aan.
“Sekar, mama mu mana?” tanya Kasih saat berada di kamar Sekar.
“Lagi pergi ke Bandung pagi tadi. Yang ada cuma mbak Tia sama aku,” jawab Sekar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
“Kamu mandi gih… Dah mau malem juga pun. Kita jalan ke angkringan depan. Ada Musisi Jogja Project… Live music zaman now. Harus diajak piknik dikit kamu ni… Biar ga galau. Dari tadi melamun. Kasian dek bay nya kalau emaknya sedih terus…”
“Ish… apalah kamu ni. Dibilangin aku ga hamil kok,” Kasih segera menuju kamar mandi.
Sekar senang sekali menggeretak Kasih dengan menakut-nakuti kalau Kasih hamil. “Kalau gak digitukan ntar dia jadi sakit gak bisa merawat diri. Aku lagi ntar yang kena marah sama mas Aan. Nasib… nasib… ngurusin bini orang,” bisik Sekar di depan cermin.
Saat Kasih berada di dalam kamar mandi, Sekar mulai menghubungi Aan.
Tut… Tut… Tut…
“Hallo mas Aan…” Sekar berbicara dengan pelan.
“Gimana Kasih? Dia udah baikan belom?”
“Ya pasti belom lah mas… Banyak melamunnya dia. Mau ku ajak ke live musik angkringan. Biar suasana hatinya lebih baik gak ngrasa kesepian. Kayanya dia mikir suaminya terus deh mas… Tadi sore aku liat Kasih nengok foto nikahannya di hape… Sambil berkaca-kaca mewek gituu,” Sekar memberi informasi selengkapnya tanpa memikirkan kalau ini membuat Aan geram ingin menghajar Galang.
“Kamu temeni Kasih terus ya Kar… Ini aku sama Tia mau pergi ke angkringan musisi Jogja project juga. Biar kita bisa ketemu disana.”
“Eh eh… jangannn! Ntar Kasih marah sama aku, masss. Kasih cerita kalau dia belom siap ambil keputusan mau dibawa kemana rumah tangganya itu. Jadi dia belom siap juga buat nemui mas Aan sama tante Sarah.”
“Ya udah. Aku datang kesana tapi nengok dari kejauhan aja.”
“Ok ok mas… Terus… for your information Kasih beli sim card baru tadi sore. Katanya capek ditelpon banyak nomor baru. Suami sendiri malah ga nelpon katanya,” Sekali lagi ucapan Sekar tanpa filter membuat Aan mengepalkan tangan, gemas tidak bisa berbuat apa-apa untuk Kasih. “Eh eh… aku tutup dulu. Kasih udah selesai mandi,” Sekar buru-buru menutup telponnya.
Kasih mulai keluar dari kamar mandi. Mengeringkan rambutnya, mengusap kepala dengan handuk dan memberi pijatan di kepala. Rasanya masih terasa berat. Masih seperti mimpi harus merasakan rumah tangganya yang baru seumur jagung sudah goyah.
“Sekar, aku gak ikut ke live musik ya…”
“Loh… Kenapa? Seru tahu, disana rame... Banyak orang, kamu harus ganti suasana baru,” Sekar membujuk Kasih agar mau ikut. Mengambil handuk Kasih dan membantu Kasih mengeringkan rambut. Kasih hanya diam saja, merasakan pijatan kepala dari Sekar.
“Justru karena rame itu… Makanya aku gak mau ikut. Ntar kalau banyak yang tahu muka ku gimana? Pasti mereka ngecap yang jelek jelek ke aku.”
“Siapa bilang kamu dicap jelek…? Bilang sama aku...! Emang kamu ga tahu ya kalau produk make up Caca atau apalah itu namanya CC itu yang kamu iklanin di IG jadi bahan perbincangan juga…?”
“Maksudnya?”
“Pokoknya ada netizen yang bilang kamu itu cantik… muda… pantas lah jadi istri bos hotel,” Sekar terus memuji Kasih.
“Masa sih?” Kasih mulai penasaran. “Sayangnya IG aku dah aku delete. Jadi ga update info terbaru. Apa aku download dulu ya…” Kasih berusaha meraih handphone yang ada di depannya, tapi Sekar menarik pelan kepala Kasih.
“Eh, gak usah. Ntar kamu nengok nengok yang lain. Jadi kacau lagi pikiranmu. Ntar kalau ada berita apa aku bagi tahu. Kamu ga usah lihat-lihat media sosial dulu,” kata Sekar sambil terus mengusap rambut kepala kasih dengan handuk. Kasih hanya menuruti perintah Sekar. Karena pendapat Sekar itu ada benarnya juga.
Kasih Kasih… Maaf ya aku tipu kamu lagi. Sebetulnya komentar itu cuma aku aja. Itu pun bikin netizen murka, katanya aku pro sama penggoda. Malah yang ada… mereka ngecap kasus mu ini settingan, karena ada produk baru yang kamu iklanin. Malangnya nasib mu ni Kas Kas… Ngenes pake banget, batin Sekar. (Ngenes: mengenaskan)
Akhirnya Kasih mengikuti ajakan Sekar untuk pergi ke angkringan tempat live music. Disana ada Musisi Jogja Project yang setiap acara live musik nya akan diupload ke channel youtube.
Malam ini suasana tempat angkringan sangat ramai. Selain banyaknya pengunjung yang menggandrungi live music itu, besok juga merupakan perayaan malam tahun baru. Jadi semakin ramai sepanjang jalan Malioboro malam itu.
Kasih sampai terbawa suasana karena padatnya penonton pada live musik angkringan. Masker penutup wajah yang dia pakai sampai lepas karena Kasih ikut bernyanyi setiap lagu yang dibawakan. Ada beberapa pengunjung sampai menangis karena menghayati lagu yang dibawakan. Gitaris dan penyanyi yang sudah terkenal di youtube itu memang selalu sukses mengcover setiap lagu.
“Selamat malam buat semuanya… Lagu kali ini akan sedikit menguras emosi… Buat kalian yang lagi patah hati… galau… ditinggal pacar… boleh dihabiskan air matanya di akhir tahun… ‘Kenanglah Aku’ dari Naff,” kata penyanyi wanita yang kemudian bernyanyi.
Kasih mulai terbawa suasana lagi mendengar setiap lirik lagu. Aku bukan ditinggal pacar, tapi ditinggal suami, mata Kasih mulai berkaca-kaca lagi. Sekar jadi merasa bersalah, seperti salah tak-tik mengajak Kasih ke angkringan. Karena yang ada kebanyakan lagu galau.
“Kasih…”
“Apa?”
“Kamu kangen ya sama suamimu?” tanya Sekar mendekat ke telinga Kasih. Kasih tidak menjawab pertanyaan Sekar. “Kamu mau nyumbang lagu gak? Lagu-lagu ceria… Biar kamu gak galau. Hihii. Sana nyanyi… Maju ke depan. Gak usah takut sama orang-orang. Bintang iklan resikonya emang kaya gitu. Jangan dipikirin… Masa bodo pokonya! Gak usah dipikirin omongan orang-orang,” kata Sekar menyemangati Kasih.
Tanpa persetujuan dari Kasih, Sekar maju ke depan mendekati gitaris Tri Suaka yang sudah terkenal itu. Kasih mulai panik mendengar namanya dipanggil untuk maju ke depan. Terpaksa Kasih harus maju ke depan mengiyakan keinginan Sekar menyumbang sebuah lagu.
Beberapa penonton dan pengunjung angkringan mulai berbisik-bisik. Ada beberapa dari mereka yang mengenali wajah Kasih. Kasih tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Sudah merasa tidak nyaman berada di depan menjadi pusat perhatian orang-orang. Sedikit mulai geram karena pengunjung yang tadi hanya fokus menonton, mulai memperhatikan layar handpone dan melihat Kasih. Seperti membandingkan sesuatu.
“Selamat malam mbak Kasih… Terimakasih mau maju kedepan menyumbang lagu untuk kita semua disini. Beri tepuk tangan yang meriah karena mbak Kasih ini adalah salah satu pendatang baru di industri entertainment,” kata gitaris itu dengan menggunakan mic pengeras suara. “Mau nyanyi lagu apa mbak?” tanya gitaris itu berbisik ke telingan Kasih. Entah kenapa Kasih menjadi gugup. Bingung mau menyanyikan lagu apa. “Lagu Agnes Mo yang ‘Teruskanlah’ bisa gak? Tadi ada yang request lagu itu. Nengok di handphone aja liriknya,” bisik gitaris itu memberi ide ke Kasih. dengan menjauhkan mic pengeras suaranya.
“Boleh-boleh…” Kasih mengangguk menyetujui ide gitaris.
Lagu yang dinyanyikan kasih itu cukup galau. Membuat penonton tidak mempedulikan siapa yang sedang bernyanyi sekarang. Mereka hanya mendengar dan menikmati suara Kasih. Kasih pun semakin menjiwai lagu itu mulai berkaca-kaca sampai lagunya selesai dinyanyikan.
“Boleh nyanyi 1kali lagi, mas?” tanya Kasih.
“Boleh… mau diborong 1 album juga boleh,” jawab gitaris tadi sambil bercanda. Kasih mulai bisa mengontrol suasana hatinya. Kasih membisikkan lagu apa yang akan dinyanyikannya ke gitaris tadi.
Kasih menatap para pengunjung yang ada di depannya. Mengumpulkan energi... menarik nafas dalam dalam, mempersiapkan diri untuk memberikan ucapan pembuka.
“Selamat malam semua…” kata Kasih menyapa penonton lagi. Kasih menggenggam mix dengan erat, berusaha memusnahkan rasa nervousnya. “Disini saya mau minta maaf… Saya ingin minta maaf terkhusus untuk para perempuan yang mengenal saya lewat berita sebagi Butler Penggoda. Saya benar-benar minta maaf untuk isu yang beredar itu… Saya tidak membenarkan isu itu, tapi asumsi dan opini publik yang merebak mengharuskan saya meminta maaf atas beredarnya isu itu. Para butler hotel dan resort… saya tahu betapa beratnya pekerjaan kalian. Maafkan saya karena merebaknya isu itu membuat pekerjaan kalian tercoreng. Tapi percayalah… saya bukan seorang penggoda bos seperti yang diberitakan,” Air mata Kasih sudah tidak bisa dibendung lagi. Mulai tumpah membanjiri pipi. Sekar mulai maju memberikan tissue untuk Kasih.
“Mmm… Untuk mas Galang... orang yang bersama saya di unggahan tripadvisor… Terimakasih sudah mau menikahi saya… Saya sangat bahagia, meskipun ada beberapa cibiran kalau pernikahan saya hanya untuk kepentingan perusahaan. Saya sangat percaya dengan kamu mas…” Kasih mulai terdiam beberapa detik. Suaranaya mulai getir bercampur dengan tangisan. Hkzzzzz… Kasih menjauhkan mic nya. Para penonton sibuk mengambil video Kasih. “Tapi mungkin beberapa dari kalian yang sudah tahu tentang hastag Clbk Ceo Luxus… Rasanya… kepercayaan saya sudah runtuhh…” Kasih mulai memberi aba-aba kepada gitaris untuk memulai musik
“Biarlah… ku sentuhmu
Brikanku rasa itu
Pelukmu yang dulu
Pernah buatku
Ku tak bisa paksamu
‘tuk tinggal di sisiku
Walau kau yang selalu sakiti
Aku dengan perbuatanmu
Namun sudah kau pergilah
Jangan kau sesali
(Reff)
Karena ku sanggup walau ku tak mau
Berdiri sendiri tanpamu
Ku mau Kau tak usah ragu
Tinggalkan aku
Huu... Kalau memang harus begitu
Tak yakin ku kan mampu
Hapus rasa sakitku
Ku kan selalu perjuangkan cinta kita
Namun apa salahku
Hingga ku tak layak dapatkan
Kesungguhanmu…
(Back To Reff)
Tak perlu kau buat aku mengerti
Tersenyumlah karena ku sanggup…”
Kasih membungkukan badannya setelah banyak orang memberi tepuk tangan untuknya. Tepuk tangan yang begitu meriah dengan sorak sorai "Keep strong Kasih! We love you!"
“Terimakasih… Terimakasih… Mas Galang dan mbak Amelia… saya bahagia untuk kalian.” Banjir air mata Kasih tidak bisa dibendung lagi. Sekar mulai memeluk Kasih dan berjalan meninggalkan area angkringan secepatnya.
****
Semangat Kasih…
Bersambung…
*****