
Akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan yang diinginkan kedua tamu itu. Merasakan wisata kuliner pulau Bintan di kelong. Tempat terindah dengan sejuta aneka rasa masakan seafood.
Kelong itu lokasinya berada di atas permukaan air. Lagi-lagi Kasih dibuat terperana dengan property yang dimiliki perusahan Luxus tempatnya bekerja. Papan nama di tempat itu bertuliskan LUXUS KELONG RESTAURANT, terkesan seperti restaurant bintang 5 terapung di atas air.
“Wow… How beautiful this place.” Kasih menggigit bibir bawahnya. Keceplosan berkata di depan Galang dan tamu saat mereka memasuki kelong.
Mati aku… kok terkesan norak ya, malu-maluin banget sih. Jangan remas lenganku lagi pak Galang… Jangan marah-marah... Sorry… tempatnya emang cantik, batin Kasih sambil mengusap lengannya.
“Yes… Ini memang cantik. Itu mengapa kami suka berkunjung disini setiap bulan” ibu Nawa mengelus punggung Kasih. Membuat Kasih merasa lega.
“Mam, kita mau lunch dulu atau berkeliling mangrove?” tanya pak Gery sambil menggenggam tangan istrinya.
“Bagaimana bagusnya… Kalau mami suka berkelilig mangrove dulu. Setelah capek keliling mangrove kita baru makan dan balik ke hotel.”
“Boleh juga mam.”
“Saya setuju om, tante. Akan saya atur,” kata Galang membungkukkan tubuhnya.
Galang kemudian pergi menghampiri pos speedboat. Kasih yang tidak mengerti prosesnya bagaimana hanya mengekor bosnya saja.
“Pak Galang… pak Gery sama ibu Nawa itu keluarga bapak?” Bertanya sambil berjalan.
“Kenapa?”
“Maaf… Cuma heran manggilnya om sama tante ke mereka.”
“Teman mami,” Galang menjawab singkat.
“Ow gitu… Pak…" Ishh... cuek bebek gitu sih, batin Kasih. "Saya juga ikut naik speedboat ga pak?” bertanya ragu.
“Kamu mau?” menatap mata Kasih dari balik kacamata hitamnya.
“Maaf… kalau emang gak diajak saya tunggu di sini aja.”
Dan akhirnya mereka menikmati berkeliling mangrove. Berkeliling menggunakan speedboat mewah bertuliskan Luxus Boat Group.
HWINNNGGGG… Suara speed boat sepanjang perjalanan.
Alamak… kenapa speedboatnya harus beda sama pak Gery dan bu Nawa gini? Jadi berdua-duan kita. Hm… Itu speedboat ada yang muat 4 orang kenapa pilih yang kecil gini sih? Si bapak ada-ada wae... Batin Kasih sambil melirik ke Galang, orangnya sudah duduk santai di sebelah kanan bagian speedboat.
“Kok speedboatnya kecil sih pakK?”
“HaH? GAK dengar sayA.” Galang menunjuk mesin speedboat di belakang. “ApA?” Galang menunjuk telinganya agar Kasih mendekat kalau ingin bertanya.
Dan terjadilah… CUP yang mendarat tidak sengaja di pipi Galang waktu supir speed boat membanting setir ke kanan.
Supir pun tersenyum memandang Galang dari kaca sepion. Begitupun Galang tersenyum memperhatikan supir dari kaca sepion.
Aish… Begonya aku, batin Kasih membetulkan posisi duduknya kesemula. Perasan Kasih jadi canggung.
“MAU OMONG Apa?” tanya Galang.
“GAK Jadi PaKk!” kata Kasih sambil melambaikan tangan, mengisyaratkan tidak ingin bertanya lagi. Mulai mode cemberut bibir mengkerucut buang muka dari bosnya. Galang tersenyum penuh kemenangan. Seperti habis menang tender dapat group tamu satu kapal pesiar.
Setelah 5 menit Kasih mulai mengumpulkan energi positifnya. Berusaha menekan rasa bad mood dan malunya dari Galang. “Huft…” menghembuskan nafas kuat-kuat tidak masalah karena suara speedboat cukup berisik. Begitu pikirnya.
Kasih mulai mengambil foto mangrove, lewat kamera handphone saat supir speedboat menurunkan kecepatan.
Galang hanya memperhatikan tingkah staff barunya itu dari balik kacamata hitam.
Sudah balik mood dia. Hehee. Kenapa harus monyongin bibir cemberut tadi? Belum juga seberapa, batin Galang.
“Wah… ini keren banget. Harus lebih sering promote tempat kaya gini nanti ke tamu,” kata Kasih sambil memotret monyet yang bergelantungan.
“Yes, great idea,” Kasih mulai menoleh ke arah Galang setelah mendengar suara bosnya itu.
Kasih memandang serius beberapa detik wajah bosnya itu sampai mengerenyitkan dahinya.
Tiba-tiba… PLAKK!
Tangan Kasih mendarat tepat seperti menampar pipi kanan Galang.
“WHATT?” suara Galang mengeras menyembur Kasih. Galang Kaget dengan tamparan Kasih.
Maaf pak, ini adalah kesempatan saya untuk membalas kalian. Saya tahu kalian bersekongkol lewat kaca sepion. Cengar-cengir lewat kaca… kalian pikir saya tidak tahu… Terpaksa deh mengunakan cara mengkambing hitamkan nyamuk yang mendarat di pipi bapak, batin Kasih.
“Sorry pak, ada nyamuk… Jadi saya refleks.” Berakting pasang muka bersalah, begitu pikir Kasih agar Galang tidak balik marah.
“Huft…” Galang mendengus sambil mengusap pipinya.
Kamu pikir saya tidak tahu bedanya menampar dan memukul nyamuk… Ok… liat ini… batin Galang.
“Mosquito repellent?” tanya Galang sambil menyodorkan tangannya ke supir speedboat. Supir itu segera memberi obat nyamuk yang diminta Galang.
“Adanya lotion anti nyamuk pak," jawab sopir speedboat dengan memberikan lotion anti nyamuk ke tangan Galang yang sudah mengadah.
Ini kenapa jadi menggrayangi leherku? Balas dendam ya? Batin Kasih mulai risih, tidak nyaman karena Galang terus mengusap lehernya. Sampai bisa merasakan hembusan nafas bosnya itu.
“Pak udah pak. Gantian bapak juga butuh lotionnya.” Galang mulai menjauhkan tangannya dari leher Kasih.
Akhirnya setelah berkeliling di hutan bakau itu mereka turun dari speed boat. Galang melihat tamunya sudah mulai berjalan memasuki kelong restaurant untuk menikmati makan siang.
“Selamat menikmati makan siang pak,” kata supir yang mengemudikan speedboat Galang.
Dari kejauhan Kasih yang sudah hampir memasuki kelong restaurant, mengamati Galang memberikan berlembar-lembar uang ke supir tadi.
Apah? Bukannya ini kelong dan speedboat miliknya sendiri? Kenapa harus memberi uang sebanyak itu? Uang apa itu… uang tip kah… harus sebanyak itu ya? Batin Kasih sambil menggelengkan kepala.
“Pak… kenapa harus bayar lagi ke mas driver? Bukanya ini kelong sama speedboat milik bapak?”
“Jangan mikir macam-macam. Itu tip dari om Gery. Ayo masuk makan…” Galang mulai berjalan mendahuli Kasih. Kasih pun segera berjalan sedikit mensejajari bosnya itu.
Ish… gitu aja ngegas lagi. Driver yang mencurigakan. Mana ku tahu juga kalau itu dari pak Gery. Ah sudahlah… Awas aja kalau sampai mereka bersekongkol dibelakang, batin Kasih.
Tiba-tiba handphone Kasih berbunyi
Tilulit Tilulit Tilulit
Karena penasaran siapa yang menelpon, Galang berhenti berjalan dan berdiri di depan Kasih.
“Pak saya angkat telpon dulu ya”
“Siapa?”
“Kak Jun...”
“Angkat. Saya mau dengar. Ini masih jam kerja.” Galang mulai menyilangkan tanganya di depan dada.
Kasih mulai merespon telpon...
“Hallo kak… Iya… Bentar lagi mungkin kita balik resort. iya kak. Hm… Apah? Sama Tania? Iya… gak pa pa sih kak boleh aja. He em. Harus ijin pak Galang? Iya kak… see you later.” Kasih mulai menutup telpon.
“Kenapa?” tanya Galang
“Saya boleh minta izin main ke pantai pak? Main banana boat,” bertanya ragu-ragu.
“Dengan siapa?”
“Kak Jun dan Tania.”
“He em.”
“Terimakasih pak…” Ish… he em he em aja si bapak… yang penting boleh main di pantai… pakai banana boat, batin Kasih sambil tersenyum.
Mereka pun segera masuk ke Kelong untuk makan siang. Setelah itu kembali ke resort.
*****
Duh… kenapa Tania mau main banana boat dengan Kasih ya?
Pasti ada udang di balik batu
Hmmm
Bersambung…
*****
Note:
How beautiful this place : Betapa cantiknya tempat ini
Lokasi Mangrove Hutan Bakau
Kelong adalah restaurant terapung
Kelong Pak Galang yang Mewah