My Butler

My Butler
Bukan Gempa Bumi (21+)



Hari semakin gelap. Kini Kasih sudah berada di kamar suaminya, lantai dua. Setelah aktivitas yang panjang sebagai istri Galang, Kasih mengalami kesulitan tidur. Galang memang sudah menyalakan lampu tidur, sesuai keinginan Kasih. Tapi Kasih tidak bisa terlelap.


Pikiran Kasih terganggu dengan ucapan mas Aan. Bila mengingat aktivitas malam pertama yang menghabiskan beronde-ronde dengan nafsu yang menggebu-gebu dari Galang, membuatnya takut berfikir kalau Galang menjadikannya pelampiasan saja. Ditambah ucapan Amelia yang mengatakan kalau pernikahannya ini adalah politik bisnis, seakan benar adanya. Kasih mengingat saat Galang menarik, menyeret dan membentaknya di tempat umum  gara-gara baju yang dia pakai. Seakan membenarkan kalau Galang hanya melindungi nama baiknya saja. Padahal ada beberapa tamu dan reporter yang membawa kamera saat Galang membentaknya di area garden party sore tadi.


Rentetan hal-hal kecil itu berhasil mengguncang pikirannya. Air matanya mengalir. Galang seolah benar-benar tidak tahu kalau istrinya saat ini sedang menangis dalam pelukannya. Dia sangat nyenyak tidurnya. Jika Kasih ingin beranjak dari tempat tidur, tangan Galang mengeratkan pelukannya.


Tiba-tiba Galang membuka matanya. Merasakan lengannya diremas istrinya.


“Hikss… hu hu…” Kasih menangis. Pinggangnya terasa berat untuk digeser. Ditambah Galang menindihnya dengan kaki.


“Sayang, kamu kenapa?” tanya Galang sambil meraih pipi Kasih. Mengusap air mata istrinya.


Galang sadar sudah berbuat kasar. Tapi Galang berbuat itu karena dia takut kalau sampai kehilangan Kasih dari sisinya.


“Sakit badanku… hiks. Lenganku memar ni mas. Tangan mas Galang tu kuat banget!” Kasih merasa diberi kesempatan untuk komplain. “Mas Galang mainnya kasar! Mas Galang pikir aku kuda! Hiks hu… huuu” Semakin keras suara tangisan Kasih di tengah malam itu.


Galang mulai menyalakan lampu utama dan duduk bersender di dinding bed. Mengecek lengan istrinya. Mengusap lengan kasih yang sedikit memar, ungu kebiruan.


Astaga, apa yang ku perbuat ini. Sensitive sekali kulitnya… Batin Galang sambil meniup dan mengusap luka memar Kasih.


“Mau dikompres air es atau air hangat?” tanya Galang sambil menatap mata istrinya. Galang mengusap air mata Kasih. “Udah, jangan nangis... Aku minta maaf ya. Kompres pakai air hangat ya biar enakan” kata Galang.


“He em… mau” jawab Kasih.


Galang segera memakai baju tidurnya sebelum keluar kamar. Kasih seperti mengingat kejadian saat Galang memarahinya tengah malam dan meminta es teh.


“Mas…”


“Ya?” tanya Galang sebelum beranjak keluar kamar.


“Buatin ice cinnamon ginger tea dong. Aku haus. Mau es teh spesial” kata Kasih.


“He em, ya…” Galang harus mengiyakan keiinginan istrinya itu. Lagian dia sudah membuat memar lengan Kasih. Galang segera pergi ke dapur.


Yes! Enak juga nyuruh mas Galang, batin Kasih. “Hihii” Kasih sedikit puas membalas tingkah laku suaminya dulu. Itu baru ku suruh bikin es teh… Belom ngosek (nguras) kolam renang, batin Kasih. Kasih merasa sedikit terhibur bisa mengerjai suaminya. Karena membuat ice cinnamon ginger tea itu ribet, tidak bisa 5 menit jadi.


Akhirnya setelah beberapa saat Galang kembali ke kamar dengan membawa mangkuk besar berisi air hangat dan kain di tangan kanan. Tangan kiri membawa es teh keinginan istrinya. Kasih sudah duduk memakai baju tidurya.


Galang mulai mengompres lengan Kasih  dengan lembut. Kasih menikmati perlakukan Galang yang lembut itu. Mengamati wajah suaminya dengan tesenyum. Galang melihat tingkah aneh istrinya itu.


Kenapa dia nih? Dulu waktu aku kompres juga senyam-senyum gini? Emang enaknya apa? Atau ini kode untuk mengompres seluruh badannya? Apa dia mau lagi? Batin Galang.


“Kamu mau minta lagi?” tanya Galang dengan penuh tatapan nakalnya.


“Iihh! Apa sih mas… Aku cuma suka aja liat kamu sweet gini. Hihii. Ga kaya tadi sore… ganas” Ucapan Kasih itu membuat Galang mengingat perbuatannya sendiri.


“Itu hukuman… Hukuman karena melirik lelaki lain” kata Galang sambil mengompres lengan yang lain.


“Loh mas… aku kan cuma melirik. Bukan suka! Bukan cinta! Lagian mas Galang belum nglamar aku waktu itu…” Kasih mulai protes. Tidak mau kalah sama suaminya.


“Kalau sekarang sudah suka sama saya?” Galang mulai menggoda istrinya. Meletakan kain kompres di meja.


Duh… ini… Jurus grepee nya keluar lagi… Kasih mulai memundurkan badannya dari Galang. Hmm… udah deh... bukaAA lagi maS… sesuka mu. Batin Kasih sambil melihat tangan Galang membuka kancing baju Kasih.


Galang mulai menikmati sajian tengah malamnya. Bermain ritme sedang.


“Mas… mainnya kaya gini aja… jangan keras keras kaya tadi” Kasih menawar sesuai keinginanya. Mencari kesempatan karena mood Galang sudah dirasa baik.


“Hm…” Menikmati setiap hentakan sedang yang dibuatnya.


“Jangan sebut nama dia lagi!” Galang mulai tidak suka aktifitasnya diganggu. Tidak mau mendengar nama mantan istrinya.


“Mmpph… Iya…”


Ishh… Emang ga bisa diganggu! Padahal aku cuma mau tahu pernikahan ini politik bisnis atau bukan… Ya sudahlah mas… yang penting getarannya ga kaya tadi… Macam gempa bumi. Kasih mulai menikmati permainan yang diberikan suaminya.


Awas aja kalau sampai lirik-lirik pria lain… Ku hajar kamu lebih dari tadi… Batin Galang.


Galang dan Kasih melanjutkan aktifitasnya. Kasih harus menikmati malam yang panjang dengan kenakalan yang dibuat suaminya. Kasih memprediksi kalau aktifitasnya ini akan menjadi kesukaan utama Galang yang akan ditambah di kitab preference.


Setelah cukup lama akhirnya Galang tumbang memeluk istrinya. Menikmati aroma tubuh Kasih, menghirupnya dalam dalam.


 


 


Galang Point Of View


Maafkan suamimu ini ya sayang. Aku mana tahu kalau kamu masih perawan. Andai kamu ga lirik-lirik Kris… aku pasti lebih halus melakukannya tadi.  Aku tidak mau kehilangan orang yang kusayangi lagi.


Ngomong-ngomong… badanmu harum sekali. Pakai apa kamu… Humm Atau ini yang buat aku ketagihan? Rasanya sangat menggairahkan… mengeksplor seluruh lekuk tubuhmu. Apa yang kamu rasakan saat aku meremas dua gundukan ini? Tubuhmu selalu menggeliat… Ah, ingin rasanya aku menciumi aroma yang menggairahkan ini. Aroma apa ini… Baunya sangat harum dan hangat…


“Kasih… buka kakimu sayang”


“Mas Galang mau apa?”


“Mengecek property utama”


Harumnya… Ramuan apa ini… sangat memabukan. Kamu membuatku ketagihan. Jangan salahkan aku kalau aku menjelajahinya. Kamu yang membuat ku gila terus ingin merasakan aroma ini. Hummm… Harumnya…


“Mas Galang… Auu… Auu… brewoknya mas… nyangkuttt!”


“Iya bentar…”


“Haduh… udah dong mas… Aku udah panas dingin nih…”


“Iya sayang… bentar… Rasain aja… Enak kan…”


 


Author Point Of View


Malam semakin larut. Galang tidak henti-hentinya menjahili istrinya. Kasih hanya bisa pasrah menerima pelajaran pelajaran baru yang diajarkan Galang. Galang berusaha membuat istrinya senyaman mungkin.


 


 


*****


Jangan salahkan pak bos Galang


Salahkan mama Sarah yang meracik ramuan


Bersambung…


*****