My Butler

My Butler
Raja Phinisi Berkode RP 07



Gelapnya suasana malam, dihiasi bintang yang bertaburan, terlihat sangat romantis. Malam ini di kapal Raja Phinis berkode RP 07 itu ada acara birthday party dan lamaran. Kasih dan Sekar yang bekerja part time ikut menyaksikan betapa romantisnya kedua sejoli yang sedang dimabuk cinta.


Sekar hanya cengar-cengir menyaksikan setiap adegan pasangan itu. Sesekali menyenggol bahu Kasih yang ada di sampingnya.


“Lamaranmu dulu gimana, Kas? Kaya gini juga ga?” Sekar menyenggol pinggang Kasih.


“Gak ada!” Kasih menyenggol balik pinggang Sekar.


“Wah… kalau kamu jadi cerai, cari yang kaya begituan. Romantis… Hihii,” melirik wajah Kasih.


Kasih hanya tersenyum kecut. “Ou ouuu… Cincinnya ituhhh. Bikin silau sampai sini. Batu Giok atau batu bara… gede betul?” terbelalak mata Sekar melihat cincin lamaran tamunya.


Tiba-tiba terdengar suara perempuan memanggil Kasih dan Sekar.


“Kar! Kas!” Sekar dan Kasih menoleh mencari asal suara.


“Kenapa mbak Lia?” tanya Sekar.


“Bantuin bawa hidangan seafood ke meja makan yok! Banyak banget ini…”


Kasih dan Sekar segera pergi ke dapur. Membantu mbak Lia juru masak di kapal itu. Mereka mulai mengeluarkan semua hidangan makan malam untuk tamu yang berjumlah 20 orang itu. Tamu-tamu di kapal RP 07 itu masih muda semua. Kasih yang tahu temannya masih single, sudah sejak pagi menggoda Sekar untuk memilih salah satu agar dijadikan gebetan.


“Yang gondrong itu… Ku bilangin ya!” … “Jangan!” … “Yang pipinya gembul itu… Ku bilangin ya!” … “Jangan!” Kurang lebih seperti itu Kasih menggoda temannya. Sebagai balas dendam karena selalu dituduh hamil.


“Cumi udang lada hitamnya kok belom ya? Bisa kamu ambilin Kas?” tanya Lia sambil sibuk menata hidangan di meja makan.


“Iya mbak bentar,” kata Kasih sambil membawa kantong plastik hitam.


Kenapa aku ini… Rasanya ga kuat nyium bau seafood… Haduh… itu cumi jarak 1 meter aja baunya amis betul. Padahal udah kena lada… Gak bisa aku angkat piring itu. Cuminya bikin eneg, batin Kasih mencoba untuk mengangkat hidangan cumi di piring. Tapi badannya menolak untuk mengambil hidangan cumi itu. Kasih terus-terusan memasukan wajahnya ke kantong plastik. Rasa mualnya semakin menjadi-jadi, tapi tidak mengeluarkan apa-apa dari mulutnya.


“Kasih… mana cuminya?” tanya Lia dengan suara sedikit keras karena berada di ruang makan.


“Iya, mbak! Bentar…” jawab Kasih sambil berusaha menggapai hidangan cuminya.


Ini seperti melakukan pertarungan sengit. Kasih mulai membekap mulutnya dengan tissue yang banyak dan mengangkat hidangan cumi. Dengan langkah kaki seribu menuju ruang makan secepat kilat. Lia terbengong-bengong melihat sikap Kasih yang menurutnya lucu. Lia segera menerima sepiring hidangan cumi dari tangan Kasih.


“Aku ke toilet dulu, mbak…” Kasih segera berjalan ke toilet.


Untunglah toilet yang dituju Kasih tidak sedang dipakai karyawan atau kru lainnya.


“Huweekk! Hmmpp… Huweekk!” Haduh… kenapa bau amisnya masih terasa aja… Ini kenapa sih ni… “Hweekk! Hmmmpp… Hweekk!” Padahal dah gak makan biar gak muntah. Rasanya kok mual terus. Kasih mulai merasa lelah karena rasa mual yang tak kunjung reda.


Kasih mulai duduk sebentar di toilet bowl. Meremas kedua lututnya yang sedikit gemetaran. Keringat dingin mulai keluar. Dulu naik kapal gak kaya gini. Gak pernah mabuk laut.


Dengan sekuat tenaga Kasih kembali ke ruang makan. Disana ada Lia dengan beberapa kru kapal lainnya.


“Kamu kenapa? Sakit perut?” tanya Lia dengan berbisik.


“Enggak mbak… kaya nya masuk angin,” jawab Kasih mendekat ke telinga Lia.


“Kamu bantu Sekar aja beres-beres kamar tamu. Kalau berdiri disini kena angin terus. Sana… biar kamu gak makin parah masuk anginnya,” bisik Lia ke telinga Sekar.


“Ok mbak,” jawab Kasih dengan mengangguk.


Padahal aku paling doyan seafood, ini malah anti seafood sekarang. Kasih mencoba mengelus-elus dadanya. Menenangkan  tubuhnya karena rasa mual.


Di perairan laut utara pulau Jawa itu ada banyak kapal. Kapal yang ditumpangi Kasih saat ini sudah berada di utara Jawa Timur. Banyak lampu yang terlihat saat kapal Kasih melewati tempat itu. Ada juga kembang api yang diluncurkan dari daratan sana.


Kasih dan Sekar menikmati suasana malam itu di bagian deck paling atas. Beberapa kru juga ikut bergabung dan menawarkan cemilan untuk Kasih dan Sekar.


“Eh, foto yuk…! Mumpung ada banyak kembang api. Pas banget momentnya,” ajak Lia kepada Kasih dan Sekar.


Bagian berfoto-foto ini adalah hal yang paling disukai Sekar. Berbeda halnya dengan Kasih. Tidak bersemangat dan lesu karena sudah banyak kali mondar-mandir ke toilet. Rasa mualnya tak kunjung reda.


Perasaanya mulai cemas. Duh… kalau aku hamil gimana ni. Mas Galang udah pasti mau minta cerai sama aku. “Huft…” Rasanya pengen ku tonjok-tonjok mukanya! Enak betul udah bikin aku hamil terus lari ke perempuan lain! Air mata Kasih mulai mengalir dan tersapu angin laut. Perasannya semakin hancur menghadapi kenyataan yang ada.


“Eh… maaf… Hahaa! Itu tadi videoo...” celetuk Lia.


“Yang betul ah, mbak! Pose ku udah paling yahud tadi… Sini aku yang pegang hapenya,” kata Sekar sambil meraih handphone Lia.


Mereka melanjutkan berfoto. Sudah banyak foto yang diambil tapi Kasih masih belum menunjukan ekspresi senyum maksilamnya.


“Kasih! Senyum lah… jangan murung terus,” Sekar mulai protes karena hasil jepretannya ternoda dengan muka Kasih yang cemberut.


 


“Hm… Iya.”


Mereka mulai berpose ria malam itu. Lia segera mengambil handphonenya dari Sekar. Lia sangat senang mengirim hasil jepretannya kepada suaminya. Karena itu adalah cara Lia berkomunikasi dengan suaminya yang bernama Roy. Kesibukan mereka membuat keduanya jarang bertemu. Telpon pun jarang, hanya via pesan whatsapp yang banyak mereka lakukan.


“Wah… hasil jepretan yang terakhir bagus banget. Ku pakai foto profil ah,” celetuk Lia sambil ikut makan camilan.


Lia dan Sekar banyak ngobrol malam itu, termasuk membicarakan kasus yang dihadapi Kasih. Lebih tepatnya bergosip ria.  Kasih hanya asyik menikmati suasana malam. Tidak begitu memperhatikan pembicaraan Lia dan Sekar. Suara Lia dan Sekar pun tidak begitu bisa didengar oleh Kasih karena suara angin malam lebih terdengar di telinga Kasih. Hurukk hurukk hurukk… Itulah yang lebih di dengar Kasih.


“Kita hajar rame rame kalau dia berani muncul!” kata Lia berkobar penuh semangat.


“Kita pites pites! Injak injak! Beraninya selingkuh!” Sekar semakin memprovokasi keadaan.


“Pokonya sampai babak belur!” kata Lia dengan tangan yang menghantam lantai deck kapal.


“Sampai gepeng gak bersisa!” Sekar semakin ahli memprovokasi. Kakinya menggedor-gedorkan lantai deck kapal. (Gepeng: pipih/tipis)


Kasih hanya tersenyum melihat keanehan di depannya. Mengangguk-angguk tidak tahu apa yang dibicarakan Sekar dan Lia. Lebih tepatnya bukan mengangguk. Kondisi kapal yang terkadang oleng ke kanan dan ke kiri membuat kepala Kasih terkesan mengangguk mengiyakan niat Lia dan Sekar. Mereka bertiga saling berpelukan.


 


****


Semangat buat Lia, Sekar dan Kasih ya…


Bersambung…


****