
Hari semakin gelap di tengah laut itu. Tapi kemeriahan pesta di kapal RP 07, terus berlanjut. Para kru kapal sibuk dengan tugasnya masing-masing. Berbeda halnya dengan Kasih. Dia masih mengurung diri di dalam kamar sempitnya.
“Pak Galang, ngapain berdiri disini?” tanya Sekar ketika akan memasuki kamarnya. Galang menoleh ke Sekar. Perempuan yang menghajarnya tadi sore itu terlihat biasa saja. Seperti tidak terjadi apa-apa. Padahal muka Galang masih terasa kaku dan perih.
“Kamu temannya Kasih?” tanya Galang berusaha untuk akrab. Memusnahkan emosi yang ada. “Bisa bantu saya ajak Kasih agar mau keluar gak?” tanya Galang dengan bersilang dada. Sekar hanya melirik sebentar melihat luka-luka Galang bekas tonjokannya.
Tok… Tok… Tok…
“Kas… Kasih… Makan yuk! Kasian dek bay nya nanti sakit. Kamu belom makan dari tadi siang,”
kata Sekar sambil mengetuk pintu.
Mendengar suara temannya itu, Kasih segera membuka pintu. Melihat Sekar dan melirik mata Galang. Galang yang melihat istrinya, segera meraih tangan Kasih.
“Makan yuk. Jangan ngambek lagi ya,” ajak Galang. Kasih berusaha menarik tangannya, tapi pinggangnya justru diraih dan dirangkul Galang. Kasih segera menginjak kaki Galang. Tapi Galang tetap merangkul pinggang Kasih.
Duh Kas… ini cuma salah paham loh… Mesranya suamimu ini. Super sweet! Dikejar sampai di tengah laut. Sampai sini malah kena tonjok bogemku. Masih kena injak kaki mu lagi, gerutu Sekar dalam batinnya.
“Udah sana makan berdua… Jangan cakar-cakaran ya,” bisik Sekar ke telinga Kasih.
Kasih yang merasa lapar, terpaksa makan berdua bersama Galang. Galang memilih memesan makanan di kamar. Banyak tamu yang sedang melakukan pesta. Galang tidak mau Kasih merasa terganggung dengan suara bising pesta.
Selama menunggu makanan, hanya keheningan yang ada di dalam kamar Galang. Kasih masih tidak mau melihat muka suaminya. Galang mencoba meraih tangan Kasih lagi.
“Mas Galang bau banget… Jangan sentuh-sentuh! Mandi sana! Bau amis,” kata Kasih menjauhkan tangannya dari Galang.
Ucapan Kasih itu sudah membuat Galang kesal sebenarnya. Tapi mengingat kata dokter yang memeriksanya tadi kalau istrinya sedang hamil, Galang berusaha memahami situasi Kasih.
Mungkin bawaan bayinya, batin Galang. Mengalah dan menuju kamar mandi untuk mandi.
Padahal aku baru selesai mandi sebelum ke kamarnya. Ini sudah disuruh mandi lagi. Rasanya ingin ku memeluknya. Tapi susah betul hanya sekedar memegang tanganmu. Trik mengajak dansa gak mungkin lagi mempan, batin Galang saat berada di bawah shower. Mengguyur badannya dengan air lagi. Memikirkan cara untuk mendekati istrinya.
Galang mulai memakai handuk, mengaitkan di pinggang dan keluar dari kamar mandi. Dilihatnya istrinya itu sedang berdiri melihat suasana luar dari jendela. Galang mulai merangkul Kasih dari belakang.
Mengusap-usah perut Kasih. Menghirup aroma leher Kasih dalam-dalam. Mencium leher Kasih dan menggenggam tangan Kasih yang mencoba melakukan perlawanan.
Galang mulai memutar tubuh istrinya itu. Mencium kening istrinya… kedua mata Kasih… dan bibir istrinya. Kasih yang masih malas-malasan melihat wajah Galang mulai membuka matanya. Dilihatnya mata suaminya itu sedang terpejam. Ada sedikit air mata yang mengalir di kantung mata suaminya. Kasih yang merasakan gigitan kecil di bibirnya itu mulai membuka akses untuk lidah suaminya yang ingin menikmati setiap sudut mulutnya.
Rasa rindu dan gemas terhadap suaminya itu bercampur menjadi satu. Kasih menikmat setiap pagutan dan permainan lidah dari suaminya. Galang yang sadar kalau Kasih mulai menikmati permainanya, mulai meraih tengkuk Kasih. Tangannya mulai meraba ke pengait bhra dan melepaskannya.
Kasih mulai sadar kalau suaminya itu menginginkan lebih. Kasih berusaha menjauhkan bibirnya dari Galang, tapi Galang terus mendekatkan tengkuk Kasih agar menikmati ciumannya. Tangannya mulai bergerilya, meremas benda favoritenya dan memainkan bulatan kecil yang menjadi incarannya.
Menggiring tubuh Kasih ke bed dan membaringkan tubuh istrinya itu dengan hati-hati.
“Mas…” Kasih melihat suaminya itu seperti kelaparan.
Menyingkap naik t-shirt istrinya dan melahap kedua gunung kembar milik Kasih dengan halus. Menumpahkan seluruh rasa rindunya. Galang kembali mencium bibir istrinya dan menguluumnya kembali sambil melepaskan handuk yang masih mengkait di pinggangnya. Menempelkan barang yang sudah menegang ke bagian property incarannya.
“Mas… mmm Aku belum bisa,” Kasih berusaha menghindar.
TING TONG! (Sura bel kamar berbunyi)
“Itu makanannya datang kayanya, mas,” kata Kasih sambil membetulkan bajunya. CUP! Galang mengkecup kening istrinya.
“Aku buka pintunya ya, kamu betulin bhranya di kamar mandi,” kata Galang yang kemudian mengambil handuk yang dia jatuhkan.
Duh… gimana ni kalau dia minta malam ini. Rasanya kenapa lebih berdebar-debar jantungku. Betulkan itu suamiku… Biasanya macam singa. Obat apa yang dikasih dokter tadi... Kenapa dia jadi berubah gini. Macam malam pertama di film-film. Tapi kenapa rasanya masih kesal!! Apa aku terjun berenang ke laut ya… Huft… Pasti juga dikejar lagi… batin Kasih sambil mencuci mukanya. Wajahnya masih terasa panas setelah mendapat ciuman dari suaminya.
Kasih mulai keluar dari kamar mandi. Matanya tertuju ke sudut jendela. Disana sudah ada Galang yang duduk di depan banyak hidangan. Galang berjalan menghampiri Kasih dan menuntun istrinya untuk duduk menikmati makan malamnya. Mereka mulai menikmati hidangan yang ada.
Setelah selesai makan, Kasih pergi ke kamar mandi. Rasa mualnya kambuh lagi. Di kapal itu tidak ada obat untuk ibu hamil. Galang membantu istri yang sudah beberapa kali keluar masuk kamar mandi.
“Huuftt… capeknya,” kata Kasih mulai mendaratkan pantanya ke bed. Mengusap mulut, dada dan perutnya.
“Sayang, besok kita balik ke Bintan ya. Buat check up kehamilanmu,” kata Galang membuat Kasih melirik kearahnya.
“Siapa yang hamil?” tanya Kasih.
“Kamu sayang,” Galang kembali mencium kening Kasih. “Tadi sore dokter bilang kamu hamil.”
Akhirnya seluruh pertanyaan Kasih mengenai kondisi tubuhnya terjawab sudah. Galang kembali memeluk istrinya yang sedang duduk itu. Memeluk erat-erat perempuan yang berhasil membuatnya jungkir balik melakukan apa saja.
“Mas…”
“Hm…?”
“Tangannya jangan grepe-grepe dong…”
“Enggak… Ini cuma mau mengusap perutmu aja…”
“Kok jarinya sampai ke bawah-bawah? Aku tu masih kesel tahu!”
“Ya udah… liat kembang api di luar mau? Tamu-tamu yang lain pada pesta fireworks di luar,” ajak Galang meraih tangan Kasih untuk berdiri dari bed.
“He em…”
Galang mulai menuntun istrinya berjalan ke deck atas di kapal itu. Menikmati kembang api yang diluncurkan. Memeluk tubuh Kasih dari belakang. Mengusap dengan pelan perut istrinya. Kasih pun heran. Rasanya sangat nyaman saat suaminya mengusap perutnya. Sebelumnya hanya rasa geli yang dirasakan sebelum kehamilannya.
“Sekarang kita ada dimana, mas?” tanya Kasih sambil mendongakan kepalanya melihat wajah suaminya.
“Ada di utara perairan Lombok,” jawab Galang.
Melihat wajah istrinya yang terlihat imut itu membuat Galang tidak mau kehilangan kesempatan untuk mencium bibir Kasih lagi.
Mereka mulai terbawa suasana malam dengan banyaknya kembang api dari tamu-tamu yang menyalakannya. Galang mulai melu*mat bibir Kasih. Tidak peduli dengan tamu dan kru lain yang melihat adegan mereka.
*****
Ikut menikmati fireworksnya ah….
Bersambung…
*****