My Butler

My Butler
Wo Pu Ce Tau



Jun yang mendapat telpon dari Galang untuk menjemput Kasih, segera menuju villa Galang. Galang mengantar Kasih sampai depan villanya.


“Pak, saya permisi dulu ya…” Kasih membungkukan badannya dengan membawa tas berisi gaun.


“Hm, hati-hati. Jangan lupa nanti pakai gaun itu” ucap Galang.


“Iya pak… mari…” Kasih menganggukan kepala dan mulai menuju buggy untuk duduk disamping Jun.


“Pergi dulu pak” kata Jun dengan mengangguk saat duduk di kursi pengemudi.


Jun mulai menjalankan buggy yang disetirinya. Dari kaca sepion, Jun melirik Galang yang masih berdiri memandangi buggynya dari jauh. Diliriknya Kasih juga memandangi Galang dari kaca sepion.


Hm… pertanda ini. Batin Jun tersenyum simpul, seperti melihat dua sejoli yang dimabuk cinta.


Di perjalanan menuju kamar, mereka berpapasan dengan banyak karyawan yang sedang bekerja. Tatapan sinis tidak suka atau senyum licik yang berseringai dilihat oleh Kasih. Mayoritas adalah karyawan perempuan.


Hal itu membuat Kasih semakin down perasaannya. Gemas dengan kondisi tempat kerja yang tidak kondusif seperti sebelumnya.


Tapi mau bagaimana lagi… Kasih memutuskan untuk tegar dan tidak mau ambil pusing. Toh, tudingan miring itu tidak pernah dia lakukan.


“Udah sampai dek…” ucap Jun.


“Makasih banyak ya kak” Kasih mulai turun dari buggy.


“Kakak langsung pergi ya… Banyak tamu mau check in. Bye bye Kasih…” Jun segera pergi dengan melambaikan tangannya. Begitupun sebaliknya dengan Kasih.


“Bye bye kak Jun…” ucap Kasih dengan melambaikan tangannya.


 


Kasih segera berjalan menuju kamarnya di lantai 2. Kasih mulai merebahkan badannya. Memegangi kedua lengannya dan membayangkan Galang saat memeluknya. Mulai tersenyum dan beguling-guling di kasur.


Mimpi apa aku bisa nangis sampai mewek di dekapan pak Galang… Hihii Baik banget sih pak Galang… Coba baiknya dari dulu kaya tadi… gak musiman. Baru mimpiin jorok sama dia aja udah kena fitnah suka ganjen sama bos. Apa pikiranku bisa dibaca ya sama orang-orang…? Gimana kalau aku ganjen betulan ke pak Galang… Pasti semua rakyat Indonesia bakal ngebully aku… hmm ngerii, batin Kasih dengan bergedik merinding membayangkan para perempuan menjambak rambutnya.


 


Tiba-tiba telpon Kasih bergetar


Tilulit Tilulit Tilulit... (Suara handphone)


Kasih segera mengecek panggilan yang masuk itu. Dilihatnya panggilan dari madam Lily.


“Selamat Siang madam” sapa Kasih. Belum ada balasan sapaan. Ajakan panggilan untuk melakukan video call bergetar.... Kasih segera menyetujui ajakan video call. Tumben, batin Kasih. Dilihatnya muka Raka di layar handphonenya. Kasih mulai tersenyum melihat muka Raka yang lagi menunjukan giginya sambil meringis.


“Hihii Mama…” ucap Raka.


Deg! Ucapan Raka itu seolah menghentikan detak jantungnya sejenak.


Anak ini… Tidak salah ngomong dia? Mama? Batin Kasih. Kasih segera memusnahkan perasaan canggungnya itu. Menganggap Raka salah memanggilnya.


Belum sempat membalas ucapan Raka itu, panggilannya sudah terputus. Jantung Kasih mulai berdetak kencang.


“Betulkan dia berkata mama? Apa Raka salah pencet nomor?” Pertanyaan ini terus terlintas di pikiran Kasih. Mengingat bibir Raka yang tertawa kas dengan memamerkan gigi sambil berkata mama, membuat perasaan Kasih uring-uringan sendiri. Rasa bahagia, senang bercampur aduk menjadi satu. Membuat dia semakin berguling-guling ria di kasur.


Ingin sekali Kasih memastikan untuk menelpon Raka tentang panggilan ‘mama’ kepada dirinya. Tapi berfikir kalau itu akan berlebihan.


Jarum jam terus berputar. Sore harinya pukul 0500, Kasih mulai bersiap dengan membersihkan diri di kamar mandi. Dari sejak siang, Kasih tidak henti-hentinya mengingat wajah Raka dengan berkata mama.


Apakah panggilan itu untukku? Batin Kasih sambil senyam-senyum di depan kaca kamar mandi.


“Aaaaa udah gila aku berharap jadi mamanya Raka” ucap Kasih di depan kaca kamar mandi sambil senyam-senyum kegirangan.


Malam itu Kasih memilih untuk menggerai rambutnya. Membiarkannya jatuh tanpa mengikat. Hal itu dipilih untuk mensiasati pemakaian gaun yang diberikan madam Lily karena sedikit terbuka.


“Gaunnya pas banget, press body gini… hm… Selera madam Lily sexy betul. Pasti dingin nanti… gaunnya gak berlengan gini. Duh… pak Galang ada-ada aja maunya. Ke kelong pakai baju beginian. Pakai lotion dulu ah…” Kasih mulai memakai lotion anti nyamuk.


Waktu sudah menunjukan pukul 0600. Handphone Kasih berbunyi. Dilihatnya ada pesan dari Galang.


Mr. Double Espresso


(Kasih, saya tunggu di parkiran mobil)


“Eh, tumben pakai ketik namaku dulu...” Kasih tersenyum melihat isi pesan Galang.


Kasih hanya membaca dan berlalu keluar kamarnya memakai masker untuk menutupi wajahnya Sebagian. Dia tidak mau ada orang yang melihat kalau dia akan pergi bersama Galang dan Raka. Kasih bahkan tidak memakai buggy untuk menuju area parkir mobil. Karena buggy hanya diperbolehkan untuk karyawan. Sekarang dia memakai gaun. Berakting seperti seorang tamu.


“Lumayan juga nih jalan dari kamar ke tempat parkir. Macam anak sekolah mau pergi pacaran pakai acara sembunyi-sembunyi” berbisik kecil sambil melihat karyawan-karyawan hotel yang berpapasan dengannya.


Rasanya jantung udah mau copot kalau ada karyawan yang menyapanya. Kasih hanya bisa mengangguk. Takut kalau menjawab ada orang yang mengenali logat bicaranya.


Setelah dekat dengan mobil Galang, Kasih segera mengetuk pintu mobil agar terbuka. TUK TUK…! Bergegas masuk kedalam mobil setelah Galang membuka dari dalam. Jantung sudah hampir copot. Karena berusaha menghindari para karyawan resort.


“Kenapa nafas mu ngos-ngosan? Lepas itu masker… ganggu pernafasan” kata Galang sambil menahan senyumnya. Menurutnya ini sangat lucu.


Kasih masih memegangi dadanya. Masih terengah-engah karena mengelabuhi security yang curiga dengan dirinya.


“Saya dikejar-kejar security pak…” Kasih mulai melepaskan maskernya. “Soalnya dia menyapa saya… good evening, selamat sore, selamat malam, ni hao ni hao… wo pu ce tau kan pak… saya gak mau menyapa balik” menjelaskan masih sedikit ngos-ngosan. “Untung mereka gak lihat saya naik mobil bapak. Kalau sampai lihat bisa tambah heboh resort bapak”


Hihiii kasian sekali anak ini… Lucu juga melihat dia kaya gini. Marah-marah aja makin cantik… Hmm… Sabar sabar… Sudah mulai menegang ni di bawah, batin Galang.


“Ya udah, panggilnya jangan bapak ya malam ini. Kan kita lagi gak kerja…” ucap Galang sembari tersenyum memandang Kasih.


Galang mulai menyalakaan mobil dan melaju keluar dari area parkir. Kasih yang mendengar permintaan galang agar dipanggil mas mulai bergidik merinding. Ditambah saat mencari keberadaan Raka tidak ada di dalam mobil.


“Pak, Raka nya mana?” tanya Kasih sambil menoleh ke belakang.


“Dia sama omanya diajak jalan ke hotel sebelah” jawab Galang dengan santai.


Kasih hanya bisa menatap kesal. Merasa seperti dikibuli. Pada kondisi hotel yang tidak bersahabat seperti ini seharunya tidak memperkeruh suasana dengan jalan berduaan.


Hm… Ya sudahlah pak… kamu bosnya, batin Kasih.


 


*****


Raka sama oma dulu ya…


Papa lagi sibuk…


Bersambung…


*****


Note: wo pu ce tau \= saya tidak tau


Visual Kasih dengan dress dari pak Galang