My Butler

My Butler
Konsultasi



Pagi harinya, Kasih hanya menikmati sarapan bersama Raka. Banyaknya acara di akhir tahun membuat Galang harus datang ke kantor lebih awal. Banyak jajaran direktur meminta approvement atau persetujuan untuk menandatangani perencanaan yang sudah disusun.


Madam Lily sibuk mengurusi bakti sosial yang selalu diselenggarakan akhir tahun di Batam. Caca sibuk mempersiapkan peluncuran produk make up nya yang bermerek ‘Caca Cosmetic’ atau disingkat ‘CC’. Caca mengundang beberapa orang penting seperti cameraman, fotografer, editor dan masih banyak lagi, untuk membuat iklan berupa video yang akan di sebarkan lewat media sosial.


Pagi ini setelah selesai sarapan, Kasih membawa Raka ke klinik resort untuk meminta obat batuk kepada dokter. Kasih merasa Raka mengalami penurunan berat badan, berfikir mungkin karena akhir-akhir ini sering batuk. Kasih juga ingin berkonsultasi ke dokter tentang program kehamilan. Dokter di klinik resort hanya dokter umum. Sebenarnya ingin sekali Kasih berkonsultasi ke dokter kandungan, tapi banyaknya acara di resort membuatnya sungkan untuk mengajak Galang ke dokter kandungan. Tidak mau membebani Galang.


“Good morning Raka… apa kabar…?” ibu dokter menyambut Raka. “Mari masuk bu Kasih,” kata dokter sambil membuka pintu ruang periksa.


Raka yang digendong Kasih mulai memberontak dan menangis. “HUAAA mama jahat…!” Raka berusaha lepas dari gendongan Kasih.


“Sayang… ga pa pa kok. Bu dokter cuma mau pegang-pegang Raka aja… Kaya digelitik gitu…” Kasih membujuk Raka sambil mengusap air mata di pipi Raka. “Mama janji deh… Ga ada tusuk tusuk atau suntik suntik,” Kasih memberikan jari kelingkingnya ke Raka. “Masih mau kuda poni? Atau… unicorn? Nanti mama beliin,” Kasih membujuk terus. Akhirnya Raka membalas mengaitkan jari kelingking Kasih.


“Raka mau kuda Besar… Yang besarR,” Raka mulai setuju untuk diperiksa.


Kasih mulai menjelaskan ke dokter kalau Raka akhir-akhir ini sering batuk setelah berteriak. Biasanya mau berapa oktaf Raka berteriak, anak itu tidak pernah batuk. Apalagi sampai nafasnya berbunyi nghik nghik.


Dokter mulai mengecek Raka denga stetoskop. Meminta Raka untuk menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya untuk mendeteksi bagaimana kondisi pernafasan Raka.


“Gimana dok?” tanya Kasih setelah dokter selesai mengecek. “Kok kaya gejala asma ya? Ayah saya dulu punya asma… nafasnya mengi,” Kasih membandingkan gejala yang dialami Raka dengan ayahnya yang sudah meninggal.


“Semoga bukan asma ya…” Kasih mulai membenarkan baju Raka. Membawa anaknya untuk turun dari bed dan duduk di kursi.


“Kita lihat dulu ya bu perkembangannya bagaimana, saya akan pesankan inhaler. Sebetulnya kita ada alat untuk pendeteksi asma. Cuma rusak 2 hari yang lalu, ibu Amelia datang kemari dan tidak sengaja menyenggol dan membuat alatnya pecah. Jadi semalam kami baru mendapat approvement untuk memesan spirometer ke Singapore. Mungkin 2 atau 3 hari lagi bu alatnya baru datang,”


“Terus kalau inhalernya, dok?”


“Stoknya hari ini juga habis buk. Hari ini akan saya usahakan, paling lambat besok. Atau bu Kasih mau bawa Raka check up ke rumah sakit? Alat-alat disana pasti lengkap. Bisa dilakukan rontgen juga,”


Kasih mulai berfikir. Hari ini Kasih sudah memiliki janji kepada Caca untuk melakukan pengambilan video dan foto. Tidak mungkin untuk diundur, karena Caca sudah memberitahunya agar segera menuju ke ballroom tempat pemotretan dan pengambilan video iklan caca cosmetic.


“Dok, hari ini sepertinya tidak mungkin. Banyak sekali acara hari ini,” jawab Kasih dengan muka penuh bimbang. Memilih Raka atau memilih Caca.


“Gimana kalau saya beri syrup untuk meredakan batuknya dulu. Saya akan usahakan inhaler dan spirometer secepatnya. Kalau bisa hari ini akan saya usahakan. Saya akan memesan obat asamanya juga kalau sampai nanti kita check, memang positif asma. Atau mungkin besok kalau ibu Kasih tidak sibuk bisa bawa Raka check up ke rumah sakit,”


“Mmm… boleh dok,” Kasih mulai menyetujui saran dokter. Mau bagaimana lagi, resort ini hanya memiliki klinik kesehatan, bukan rumah sakit yang lengkap.


Akhirnya Kasih hanya mendapat syrup obat batuk untuk Raka. Kasih berharap nanti sore atau malam, dokter bisa mendapatkan obat dan alat untuk mendeteksi kondisi tubuh Raka.


“Ini buk, syrupnya untuk Raka. Sehari 3x,” Kasih memasukan syrup itu ke tasnya.


“Maksih dok... Ow ya dok, Mm…”


“Ya buk, kenapa?” tanya dokter lagi.


“Saya mau tanya-tanya tentang program kehamilan… Boleh saya konsultasi ke dokter?” Kasih menatap dokter penuh malu. Sesuatu hal yang baru baginya bertanya tentang kehamilan.


Belum sempat Kasih menanyakan lebih lanjut tentang program kehamilan, handphonenya sudah berbunyi.


Layar handphonenya menunjukan kalau ada panggilan dari Caca. Kasih segera mengangkat panggilan itu.


 


“Maaf dok, saya angkat dulu,” kata Kasih. “Iya Ca… He em… Iya bentar lagi. Ini lagi meriksain Raka sama konsultasi di klinik… Cuma klinik di resort kok. Iya aku ingat ada pemotretan hari ini. Iya… Aku tutup dulu ya… See you there,” Kasih segera memasukan handphone ke tas. Bergegas menggendong Raka. “Dok, terimakasih ya… Konsultasinya lain kali aja. Ini Caca sudah nelpon saya. Maaf ya dok, ngrepotin,”


“Ga pa pa buk. Nanti kita bisa lanjut lain kali. Terimakasih sudah berkunjung kesini,” kata dokter sembari tersenyum.


“Raka, bilang makasih dulu sayang ke bu dokter,” pinta Kasih.


“Makasih bu dokter,” Senangnya Kasih mendengar Raka selalu menurutinya.


_____


Kasih segera menuju ballroom tempat pemotretan akan berlangsung. Berjalan sedikit cepat karena Caca sudah mulai menelpon lagi.


“Ma, mau kemana kita?” tanya Raka dalam gendongan Kasih.


“Mau foto foto. Raka ikut ya…”


“Raka laper ma… mau pizza.”


“Ok… nanti mama pesenin ya kalau udah sampai ballroom.”


Akhirnya Kasih sampai ballroom tempat yang dipilih Caca untuk pengambilan foto dan video. Banyak kru yang sibuk mengecek peralatan, menata make up dan menata aksesoris di stage. Kasih yang baru sampai disana langsung disuruh duduk di depan cermin untuk dirias oleh MUA.


Raka tidak mau pisah dari Kasih. Semakin manja tidak mau jauh dari mama barunya itu. Raka tidak mau disentuh atau digendong orang lain. Maunya nempel dengan Kasih.


“Ma… pizzanya dah pesan?” tanya Raka yang sedang duduk di pangkuan Kasih.


“Udah sayang… ini baru mama check lagi sama tante Jun,” kata Kasih sambil mengecek handphonenya. Kasih membiarkan MUA merias mukanya. Fokus Kasih selalu memberikan perhatian ke Raka. Mengajak Raka ngobrol tentang aktivitas apa saja yang Raka lakukan saat bersama mas Aan.


Tak lama kemudian pizza yang dipesan sudah sampai. Pizza Margherita dengan topping saus tomat yang penuh keju mozzarella itu mampu membuat Raka turun dari pangkuan Kasih. Raka segera mengikuti Jun yang meletakan pizza tadi di meja pojok ballroom. Kasih terus memperhatikan Raka lewat kaca besar yang ada di depannya. Merasa senang karena Raka bukan tipe anak yang susah makan.


 


 


*****


Enaknya jadi Raka bisa nempel terus sama mama Kasih


Bersambung…


*****