My Brother Is My Husband

My Brother Is My Husband
Merenung



***


Rey sedari tadi termenung berdiri di teras samping rumah, mata nya memandang persawahan yang hijau, tak tahu kemana arah pikiran nya sekarang.


Apa yang di buat kakak di luar, pikir ku dalam hati. Dan aku beranjak menemui nya. Seperti nya Rey tidak merasakan kehadiran ku yang sedang di belakang nya sekarang. Apa yang sedang di lakukan nya disini, pikir ku lagi.


Dari belakang aku memeluk Rey, melingkar kan kedua tangan ku di dada nya sambil sesekali aku mengelus dada nya yang kekar itu dengan kedua tangan ku.


Rey tak bergeming.


"Kak..." panggil ku pelan.


"Eummm." jawab Rey santai.


Dan Rey berbalik arah melihat ku. Kedua tangan ku yang kini memegang di pinggang nya, dan tangan Rey yang sudah memegang kedua lengan ku. Tatapan kami bertemu sangat lama. Aku terus memeluk nya menyelam kan wajah ke dada Rey dengan tangan melingkari punggung nya.


"Kak, akan kah kita selalu seperti ini?" tanya ku pelan sedikit mengaget kan Rey dengan pertanyaan ku itu


Apakah karna Rani hanya menganggap nya seperti seorang kakak, pikir Rey keras.


"Iya, kita akan selalu seperti ini" jawab Rey pelan menenangkan ku


"Kak, kalau Rani menikah......"


tanya ku lebih pelan lagi tapi terpotong


Rey melepaskan pelukan nya dan terus menyentuh hangat bibir ku dengan bibir nya itu. Aku sudah tak bisa melanjut kan kata-kata ku tadi.


Aku hanya menikmati setiap *** lidah dan gigitan-gigitan kecil di bibir yang di lakukan Rey itu.


Rey menyibak rambut kiri ku ke belakang dan menenggelam kan wajah nya di leher, Rey terus melumat dan membuat stempel cinta di belakang telinga.


Aku hanya bisa mengerang menahan aktivitas Rey. Mata ku yang masih memenjam menikmati sentuhan demi sentuhan yang di lakukan Rey.


"Menikah lah dengan Kakak" Bisik Rey di telinga ku


Membuat ku tersentak dan melepaskan pelukan nya menjauh kan diri dari Rey dan langsung pergi masuk ke kamar.


**


Rey merasa bersalah, dengan apa yang sudah di lakukan dan di kata kan nya terhadap Rani. Ini semua karna Rey takut kehilangan Rani.


"Ranii..." panggil Rey berkali sambil mengetuk pintu kamar Rani,


Dan tak ada jawaban.


**


Kakak dengan Nenek sedang duduk di ruang tamu mengobrol-ngobrol.


"Mau kemana?" tanya Rey dan Nenek serentak.


"Nia mau balik pulang Nek, sudah seminggu lebih Nia di sini."


"Tapi ini sudah malam" jawab Nenek lagi.


"Tak apa-apa Nek, Nia sudah menyuruh Pak Uki menjemput. Itu seperti nya di luar Pak Uki sudah datang" sahut ku lagi sambil keluar melihat.


"Kak, kalau kakak mau menginap di sini lagi nggak apa-apa, tapi Rani harus kembali malam ini."


Rey tak berkomentar, dia merasa bersalah dengan Rania. Seharus nya Rey tak melakukan nya tadi siang. Lagi pun mana mungkin Rey akan menginap lagi di sini yang tanpa seorang Rani, dia pun ikut pulang juga malam ini, tapi dengan mobil nya sendiri.


**


Aku sangat malas keluar kamar hari ini. Dari pagi tadi aku hanya menghabiskan waktu ku di kamar saja.


Aku tahu Mama dengan Papa sedang mengkhawatirkan ku sekarang. Begitu pula dengan Rey.


Bolak-balik menelpon ke rumah dari kantor nya menanyakan ku ke Bik Sum, apakah aku baik-baik saja dan sudah makan atau belum.


Aku tak pasti perasaan seperti apa yang aku rasakan sekarang ini. Kecewa, aku pun tak begitu merasa kecewa. Owh ya ampun, perasaan macam apa ini.


**


Berturut-turut sudah 3 hari aku mengurung diri ku di kamar ini. Makan dan minum di antar Bik Sum ke kamar. Sudah seperti bak seorang putri raja.


Aku sudah bosan.


Akhir nya aku keluar dari kamar hari ini dan terlihat rumah begitu sepi. Biasa nya mama dan papa juga Rey jam segini sudah pulang bekerja.


Hanya Bibik saja yang terlihat di halaman belakang yang sedang mengangkat jemuran.


"Non Nia mau makan apa? biar Bik Sum siap kan" tawar Bik Sum tiba-tiba


"Tak perlu Bik, Nia tidak lapar. Oya Bik... kenapa sepi sekali" tanya ku ingin tahu


"Tuan dengan Nyonya besok sore baru balik Non, ada hal yang harus di selesai kan kata nya di ******, mereka buru-buru pergi tadi pagi tanpa sempat bertemu Non Nia dulu." jawab Bik Sum menjelaskan.


"Oowh..." jawab ku seadanya


"Tuan muda Rey sudah 2 hari ke luar kota ada hal kantor. Belum pasti kapan akan balik." lanjut Bik Sum menjelaskan.


Aku menuju ke kamar ku lagi.


Sangat membosan kan juga di rumah ini.


BERSAMBUNG...