
***
Dua minggu telah berlalu, Rey masih belum pulih ingatan tentang masa lalu nya bersama dengan Rani dan semua kenangan tentang mereka.
"Rani, kamu yakin dengan keputusan mu akan kembali ke rumah sendiri membawa pulang Rey?" Tanya Mama penuh hangat.
"Ya Ma, Rani tidak ingin merepotkan Mama terus dan dengan begini Rani akan lebih banyak waktu bersama dengan Kakak." Sahut Rani lembut.
"Tapi Rani, disana hanya kalian berdua saja, bagaimana kalau Rey sewaktu-waktu akan mengamuk marah seperti kemarin." Ujar Nenek merasa khawatir.
"Jangan khawatir Nek, di rumah pun ada Bik Ati kan." Ujar Rani ramah.
"Sudah sepatutnya ini menjadi tanggung jawab Rani merawat Kak Rey, walau pun Kak Rey masih belum bisa menerima sepenuh nya pernikahan ini. Do'akan Rani kuat menghadapi ini, Rani akan berusaha yang terbaik untuk rumah tangga Rani Ma, Nek." Lanjut Rani dengan kata yang halus dan lembut.
"Baik lah sayang, jaga diri Rani baik-baik, kalau terjadi sesuatu telepon Mama." Ucap Mama setelah memeluk Rani.
***
Mobil terus melaju, terasa begitu sunyi. Supir terus mengemudi melajukan mobil ke tujuan. Rey tampak enggan berbicara, dengan kepala bersandar Rey memejamkan kedua mata nya, bukan tertidur. Terlihat rautan wajah yang begitu lelah dan tak berdosa. Rani sedikit pun tak berani menyentuh setiap likuk tubuh Rey, takut Rey akan marah seketika. Rey kecewa belum bisa menerima kenyataan atas pernikahan mereka.
"Kak, kita sudah sampai." Ucap Rani pelan tak berani menyentuh.
Rey membuka mata nya, melihat sekitar. Perlahan turun dari mobil dan terus berjalan sama sekali tidak ingin di bantu Rani.
"Kak hati-hati, ada tanjakan." Teriak Rani dari jarak yang sedikit jauh dan terus berlari memegang lengan Rey, tanpa Rani sadari dan kembali melepas tangan nya itu.
Rey memasuki rumah dan melihat sekeliling. Berkali-kali hanya foto diri nya dan Rani yang di dapati terpajang di dinding.
Tak banyak bicara Rey menaiki satu per satu tangga, sosok yang dulu begitu ceria dan suka bercanda kini menjadi dingin seperti es yang beku. Rani masih terus berjalan melangkah di belakang Rey.
"Kak, dan ini kamar kita." Tunjuk Rani dan membuka pintu kamar.
Masih tidak ada jawaban sama sekali dari mulut Rey. Hanya tatapan yang begitu misterius terpancar di wajah diri nya.
Rey melangkah masuk masih dengan mulut terkunci tak bersuara.
"Kakak istirahat lah dulu, Rani akan menyiapkan makan malam dulu." Ujar Rani lembut dan tersenyum simpul.
***
"Kak, makan malam nya sudah siap mari kita makan dulu." Perlahan Rani membuka pintu kamar dan berkata lirih.
Di sudut kamar nampak Rey berdiri sedang memandangi foto pernikahan mereka yg tertata di meja nakas berdampingan dengan vas bunga mawar putih.
"Kak, kakak baik-baik aja?" Tanya Rani lirih perlahan mendekati Rey.
"Berapa lama kita sudah menikah?" Tanya Rey tegas tak berbasa-basi membalikkan badan nya menatap Rani.
Pertanyaan yang membuat Rani sedikit terkejut tapi sekaligus bahagia karna Rey sudah mulai ingin berinteraksi dengan nya kembali. Perlahan, iya semua butuh waktu.
"Kita menikah sudah hampir setahun Kak." Jawab Rani pelan penuh kelembutan.
Rey hanya mengernyitkan dahi dan sedikit enggan mempercayai karna Rani adalah adik angkat nya sendiri. Tapi semua foto itu adalah fakta. Butuh waktu untuk Rey mengingat semua hal.
***
Malam semakin larut Rani masih tak bisa memenjamkan mata. Menunggu Rey kembali ke kamar tak kunjung datang. Rani semakin gelisah memikirkan yang akan terjadi dengan Rey.
Setiap tapak demi tapak Rani melangkah menyusuri tangga. Yah, diri nya mendapati Rey sudah terlelap di depan Televisi, dengan tangan memeluk bantal kecil yang tergeletak di sudut sofa.
Sungguh ini cobaan yang berat bagi Rani, mendapati suami tak seperti dulu.
Kembali Rani melangkah ke kamar dan kembali dengan membawa selimut menyelimuti tubuh suaminya, iya Rey.
Rani menatap setiap sudut wajah Rey, mata, hidung dan bibir yang selalu memanjakan nya setiap waktu.
"Kak, apa pun yang terjadi Rani akan selalu di sisi kakak. Rani sayang kakak, Rani mencintai kakak." Ujar Rani begitu lirih dan pelan penuh sesak di dada.
Tanpa terasa air mata terjatuh di pipi Rani, dengan cepat Rani menyapu kembali air mata yang mengenai pipi nya.
BERSAMBUNG...