My Brother Is My Husband

My Brother Is My Husband
Rey menyesal



***


"Kak, apa yang kakak lakukan?" ujar ku cepat dan terkaget melihat baju tidur yang ku kenakan sudah terlepas


Cepat-cepat aku menarik selimut di tepi ku yang terbaring untuk menutup tubuh ku yang terbuka. Tapi lebih cepat tangan Rey menahan. Tatapan Rey begitu tajam menatap ku. Kenapa Rey terlihat tidak seperti biasa nya.


"Kak, hentikan." ujar ku keras melihat Rey menjamah setiap lekukan tubuh ku bersemangat dan tak seperti biasa nya


"Kak, tolong lah." pinta ku memohon


Rey sama sekali tak peduli. Mencium kedua bukit dan membuat stempel merah di sana. Entah berapa banyak sudah Rey membuat stempel cinta nya itu. Aku benar-benar sudah tidak mampu bertahan. Rey begitu memaksa ku kali ini. Sentuhan nya tidak seperti biasa di lakukan nya. Kenapa sentuhan nya begitu kasar sekali.


"Sayang, please... Rani mohon hentikan." ujar ku di setiap desahan-desahan yang keluar dari pada mulut ku


Sentuhan Rey semakin turun ke bawah, membuat ku ingin melawan dan mencegah nya. Gerakan Rey begitu cepat dan terus melepas pakaian yang dikenakan nya itu. Cepat-cepat kembali melanjut kan aktivitas nya itu.


"Kak, hentikan lah." sahut ku dengan suara keras tapi Rey sama sekali tak mendengar dan terus saja melakukan


Membuat ku kesakitan dan seluruh tubuh ku bergetar tidak seperti biasa nya. Degup jantung berdetak lebih cepat.


Kenapa wajah Rey terlihat seperti memendam kemarahan sekarang dan menjamah ku seperti ini.


"Kak, Rani mohon hentikan." pinta ku di sela isak dan tangis dengan mata terpejam menahan kesakitan yang begitu mendalam.


Air mata ku terus keluar bercucuran. Dengan tangan mengcengkram kuat spre. Menutup mulut rapat-rapat sama sekali tak mengeluarkan desahan dan menikmati nya. Hanya dentingan jam di ruang tengah atas yang terdengar megisi ruangan kamar sekarang menjadi saksi bisu kesakitan yang ku alami malam ini.


"Aagh." samar-samar terdengar sahutan di mulut Rey dan tubuh nya tergeletak lemas di sisi ku.


Aku masih belum membuka kan mata sama sekali. Ini sungguh menyakit kan. Ini sungguh memalukan. Aku mempercayai suami ku tapi kenapa dia mengkhianati ku seperti ini.


Aku ingin berteriak sekeras-keras nya tapi mulut tak mampu bersuara. Aku meremas selimut yang menutup tubuh ku itu dengan kedua tangan. Aku begitu geram melihat wajah Rey yang tertidur di sisi ku.


Ini akan menjadi malam yang panjang bagi ku. Entah berapa jam aku menghabiskan waktu ku di kamar mandi terduduk dengan siraman air shower ke tubuh ku yang mungil itu, aku masih terus mengeluarkan air mata.


Samar-samar terdengar suara azan subuh berkumandang. Aku masih dengan hati yang penuh kekecewaan dan air mata. Melanjut kan mandi dan setelah nya menunaikan shalat fardhu subuh sendiri.


Setelah mengenakan mukena, aku terus keluar dari kamar dan menuju ke kamar ku sendiri. Rey masih tertidur pulas dan nyenyak.


**


Sama sekali tak ada sahutan. Rey meraba-raba tangan nya mencari Rani, tidak ada.


Rey membuka kan mata nya dan melihat seisi kamar tanpa istri nya, Rania.


Kemana?


Ah, mungkin sudah bangun awal tadi. Tapi kenapa tidak membangunkan Rey, pikir nya.


Rey menurun kan selimut di tubuh nya dan hendak turun dari tempat tidur. Rey tertegun sejenak dan pandangan nya melihat sebercak darah segar yang mengenai spre.


Darah. Dan Rani.


Rey berusaha mengingat setiap kejadian tadi malam yang di lakukan nya ke Rani.


Oh Tuhan. Apa yang sudah ku perbuat tadi malam?


Kenapa aku begitu ego dan melukai hati istri ku. Kenapa aku begitu bodoh. Kenapa aku tidak mempercayai nya. Sayang, maafkan kakak.


Rani tidak akan memaafkan kecerobohan ku.


Rey beranjak dari tempat tidur dan mencari Rani di seisi rumah. Tapi tidak ada sama sekali. Kenapa dirumah begitu sepi sekarang.


Sial.


Ini sudah pukul 7 pagi, dan bisa telat berangkat bekerja. Rey kembali naik ke atas menuju kamar nya dan bersiap-siap akan ke kantor.


**


"Sayang." panggil Rey melihat Rani sedang menuangkan teh ke gelas yang di meja makan


BERSAMBUNG...