
***
Yes. Presentasi yang menegangkan. Boss menyukai dan menerima beberapa desain yang ku buat.
Ada notifikasi pesan masuk, dari mama. Menyuruhku untuk awal pulang hari ini. Aku sangat enggan rasa nya untuk pulang kerumah menyaksikan pertunangan mereka.
"Rania." Panggil seseorang mengagetkan ku.
Seseorang yang sangat ku kenal. Mia rekan kerja ku dan sekaligus teman dekat ku saat ini.
"Kau ada masalah." tanya nya lagi.
"Aku melihat mu setelah selesai presentasi tadi kau hanya termenung saja." lanjut Mia lagi bicara dengan ku.
"Bukan kah seharus nya kau bahagia hari ini karna Boss menerima beberapa desain mu." Ucap nya lagi melanjutkan bicara nya.
"Ya Mia, cuma aku sedang memikirkan akan kah karya ku akan di produksi dan terbitkan secepat nya, hehehe" Ucap ku yang bercanda.
Mia tersenyum karna bicara ku yang sangat aneh.
"Tentu, kau hanya perlu waktu untuk menunggu. Dan..." lanjut Mia lagi.
"Dan apa?" cepat aku menjawab.
"Kau akan menjadi Designer terkenal suatu hari nanti." ucap nya lebih serius.
"Hehee... Mia Mia aku hanya bercanda tadi." ucap ku lagi.
"Tapi karya-karya mu sungguh luar biasa Rania, seperti tadi saja kau lihat, Boss terkagum-kagum dengan hasil karya mu itu." Ucap Mia lagi meyakinkan ku.
Kini ku hanya mampu tersenyum melihat teman ku ini.
"Mia... Ayuk kita keluar lunch (makan siang)?" Bicara ku mengajak nya keluar.
"Ya, ayuk." jawab nya dan terus berdiri memegang tangan ku.
**
Itu Ameli dengan Rey, sedang makan siang bersama juga. Aku terus menatap ke arah mereka. Kenapa harus bertemu mereka di sini dan harus melihat mereka berdua. Ameli memegang tangan Rey, tak pasti apa yang di bicarakan mereka itu karna jarak antara kami duduk terlalu jauh.
Aku memalingkan wajah tak menatap nya lagi. Tak mampu hati ku ini melihat semua ini walau bibir ku berkata aku tak sayangkan Rey.
Terlalu dan sangat sakit hati ini melihat mereka bersama. Aku tak bisa apa-apa, aku sadar akan kedudukan ku di rumah Rey siapa. Aku hanya anak yang di ambil oleh mereka ketika ku masih bayi. Kembali kata-kata Aunti Lina tergiang di telinga ku.
"Rania... kamu Oke.? Tanya Mia lagi melihat ku.
"Oke, aku oke Mia." jawab ku seada nya.
"Kalau ada masalah, baik nya kau cerita, jangan memendam nya sendiri." pinta Mia yang melihat ku seperti banyak beban.
"Entah lah Mia, aku tak tahu harus memulai nya dari mana dulu." Jawab ku seada nya.
"Kau lihat pasangan yang sedang makan di pojok sana" ucap ku dengan menunjuk dengan sudut mata ke arah Rey dan Ameli.
"Ya, aku melihat nya. Bukan kah mereka sangat serasi dan cocok?" Jawab Mia seadanya yang belum paham dengan cerita ku.
"Kau tahu, aku adik perempuan dari lelaki itu, tapi bukan se-darah." Jawab ku menunduk.
"Ya... katakan lebih jelas Rania, Kau...". ucap Mia polos.
"Yah, aku mencintai nya." jawab ku pun dengan polos masih dengan tatapan tertunduk.
"Rania..." ucap Mia yang setengah berteriak.
"Yah, aku bodoh Mia, mencintai kakak ku sendiri." jawab ku menitikkan air mata.
"Mereka akan bertunangan malam nanti." ucap ku lagi yang kini sudah terisak menangis.
Mia kini duduk di dekat ku dan memeluk ku erat.
Kembali aku bercerita, meluahkan semua nya dari awal kisah kami bermula kepada Mia, teman kepercayaan ku ini. Aku hanya punya Mia sekarang yang selalu berada di dekat ku mendengar keluh kesah ku.
Nenek. Iya Nenek.
Dia adalah orang pertama tempat aku menceritakan semua yang aku pendam. Tapi Nenek tidak sedang di sini sekarang. Aku mempercayakan mu Mia.
"Rania, kau pulang lah seperti biasa, seakan tak pernah terjadi apa-apa, bersikap lah seperti biasa." ucap Mia.
"Tapi Mia... aku.." ucap ku terbata.
"Kau bisa, dan kau harus bisa Rania. Jangan sampai terlihat sedikit pun kesedihan mu ini. perlihatlah seakan kau sangat bahagia dengan pertunangan mereka ini." Ucap Mia lagi meyakinkan ku.
Aku tak menjawab terus menatap nya.
**
Hari sudah hampir malam, aku memutuskan untuk pulang kerumah seperti biasa. Terlihat tetamu mulai berdatangan. Aku yang masih dengan pakaian kerja terus masuk tanpa memperdulikan mereka yang berdatangan.
Semua orang di rumah ini sedang berbahagia sekarang sampai aku pun tak ada seorang pun menyapa.
Aku menaiki tangga-tangga kecil pelan menuju ke kamar ku. Samar-samar terdengar keceriaan anak-anak yang berlari kesana-kemari. Yah keluarga Mama dan Papa, mereka sudah datang kerumah ini, mungkin sudah sedari tadi untuk menyaksikan Pertunangan Rey malam ini.
Aku meletak kan tas di sudut meja. Kembali merebahkan tubuh ke atas tempat tidur. Terdengar ketukan pintu kamar dari luar. Aku tak menyahut dan tak ingin peduli.
Braak. Pintu terbuka lebar.
"Kenapa ke sini?" tanya ku yang tiba-tiba tubuh ku terduduk melihat sosok yang sangat ku kenal.
BERSAMBUNG...