My Brother Is My Husband

My Brother Is My Husband
Keputusan Papa



***


Di depan pintu masuk dalam rumah telah berdiri sesosok lelaki yang sangat tampan. Ya, sangat tampan, tapi tidak untuk pandangan Rani kali ini. Dia sangat menyebal kan sekali. Rani terus berlalu acuh masuk ke dalam rumah melewati sosok tampan itu. Rey melangkah di belakang Rani pelan tak berujar sama sekali.


Di ruang tamu terlihat mama papa sedang duduk. Terlihat wajah-wajah mereka yang begitu serius, seperti menanti kepulangan ku. Jarang-jarang keluarga ini duduk di ruang tamu kecuali saat kedatangan tamu saja.


"Ma, pa." ujar ku dan menyalami tangan mereka


Mama hanya tersenyum.


Aku terlihat kebingungan melihat mereka dengan wajah yang begitu serius menatap ku. Rey masih berdiri dengan tangan di saku celana nya.


"Sayang, duduk lah." pinta mama pelan


Aku mengangguk, dan duduk sopan di depan mama papa.


"Rani, sebelum nya Rani memang sudah mengetahui kan kalau Rani dengan kakak Rey bukan saudara kandung." Ucap mama pelan membuka pembicaraan.


"Ya ma, Rani tahu itu. Nenek pernah mencerita kan nya dulu semasa Rani sekolah." jawab ku polos menatap arah mama dan papa


Papa terlihat tegang. Melihat ke arah Rey dan mama, dan kembali melanjutkan pembicaraan nya menatap ku. Aku mulai merasa khawatir dengan yang akan di katakan papa.


"Sebelum Bapa Rani meninggal, sempat memberi amanah ke papa. Bahwa sanya semua harta kekayaan Bapa Rani di amanah kan untuk papa yang menjaga nya dan.." lanjut papa bicara terpotong


"Pa, Rani sama sekali tidak pernah dan tidak akan mengungkit masalah harta itu semua. Dengan kasih sayang mama, papa dan nenek itu saja sudah membuat Rani berbahagia sekali sampai sekarang. Lagi pun sekarang ada kakak yang menjalan kan bisnis Bapa. Ya kan kak?" ucap ku lirih menatap ke arah mereka dan meyakin kan ke Rey


"Sayang, bukan hanya itu saja." Ucap mama kembali membuka bicara


"Sekarang Rani sudah bertunang dengan Rey. Itu juga pesan Bapa Rani yang terakhir ke papa, sebelum menghembus kan nafas nya yang terakhir kali." ucap papa kembali melanjut kan bicara nya


Aku menatap Rey seketika. Rey masih berdiri mematung dengan tatapan yang juga begitu serius.


"Maafkan kami semua yang baru bercerita kepada Rani sekarang." kembali mama berucap


Aku beranjak duduk ke dekat mama dan menggenggam tangan nya "Ma, kenapa meminta maaf. Rani yang seharus nya meminta maaf karna sudah sejauh ini merepotkan mama dengan papa dan semua orang di rumah ini." ucap ku lirih


"Ma, kalau memang ada orang lain yang sekarang kak Rey inginkan. Rani tidak apa-apa, Rani rela di lepas kan. Lagi pun ini juga tentang perasaan dua orang. Bagaimana kita bisa hidup dan tinggal bersama kalau tidak ada rasa sayang dan cinta sama sekali. Tidak seharus nya juga perjodohan itu di jalan kan walau sudah di amanah kan." ucap ku pelan dan tak ingin menyakiti hati mereka semua


"Sayang, bicara apa. Dengar mama, Rey menyuruh kami melangsung kan akad nya dalam minggu ini." ucap mama begitu cepat dan tersenyum lebar


Minggu ini.


Apa yang sedang di pikir kan lelaki ini. Ih, kenapa dia sekarang tersenyum-senyum sengek seperti itu. Sebahagia itu kah dia sekarang. Gumam ku dalam hati.


"No." ucap Rey refleks dan melangkah duduk di dekat papa


Papa dengan mama terlihat tersenyum dan sedikit tertawa. Aku merasa heran sekali.


"Bagaimana ini sebenar nya, tadi Rey bilang. Rani sudah siap melangsung kan akad nikah dalam minggu ini. Tapi..." ucap papa terpotong dan tertawa


Ah, papa ini sekarang. Sama sekali tidak bisa di ajak kerjasama. Malah menertawai ku. Gumam Rey dalam hati.


"Pa." ucap Rey pelan dengan mata menyipit ke arah papa takut Rani akan mendengar


Owh, jadi ini ide nya. Menyuruh mama dengan papa melangsung kan akad nikah secepat nya. Dasar gatal. Ih, gatal. Menggelikan sekali keinginan nya itu. Aku rasa nya ingin muntah sekarang. Gumam ku dalam hati.


"Tetap pada keputusan kakak, kita menikah dalam minggu ini." ucap Rey lancang


Hey, hello. Memang menikah itu untuk sehari saja. Aku akan menghabiskan seumur hidup ku dengan mu oh duhai kakak ku. Belum lagi aku harus meladeni sikap nya yang gatal. Iih.


"No." jawab ku juga lancang


Rey membelalak kan mata ke arah ku.


"Ma, lihat." ujar ku ke mama untuk membela ku


"Minggu ini." ujar Rey kembali


"Tidak, tunggu 3 bulan."


"Minggu ini, titik."


"Tidaaaak, 3 bulan lagi."


Suasana sudah begitu riuh dan tidak terkontrol lagi. Lemparan kata-kata sudah memenuhi seisi ruangan itu. Mama sudah sangat kebingungan dengan tingkah anak-anak nya itu.


"KALIAN AKAN MENIKAH DUA MINGGU LAGI. INI KEPUTUSAN PAPA TIDAK BOLEH DI GANGGU GUGAT." ucap papa keras begitu serius dan tegas


"APAAA??" sahut Rey dan Rani bersamaan


Papa berlalu pergi meninggalkan bayang nya.


BERSAMBUNG...