My Brother Is My Husband

My Brother Is My Husband
Mengelak



***.


Sebelumnya Author mohon maaf yang sebesar-besar nya kepada semua pembaca setia. Mohon maaf dalam beberapa hari kemarin belum sempat nulis novel nya, sebenar nya ada beberapa ide yang masuk sejak dari kemarin, tapi memang betul-betul tidak sempat menulis nya. Mohon kesabaran dan kesetiaan nya untuk para pembaca semua dalam menunggu setiap episode yang saya up. Saya ucapkan terimakasih.


Pantai Cenang, Langkawi.


Sore yang indah. Rani menikmati pantai ini, menghirup udara lebar-lebar. Udara nya begitu bersih. Pasir pun yang cukup putih. Rani berjalan sambil menikmati ombak dan memandangi sunset di ufuk sana.


Rey. Iya, Rey masih di kamar hotel nya masih lagi bersiap-siap. Aku yang sudah terburu-buru ingin melihat sunset meninggalkan Rey sendiri di kamar hotel nya tanpa menunggu nya dan pergi melihat bersama-sama. Hehe.


Aku menghentikan langkah ku, dan pandangan ku tetap tak buyar memandangi sunset yang begitu indah. Membuat ku tersenyum lepas dan manja.


"Hai" sapa seseorang di belakang ku membuat lamunan ku pecah


Aku menoleh dan melihat ke arah nya itu. Iya, seorang lelaki tampan dengan kedua tangan yang memasuki saku celana. Dengan tatapan tertunduk melihat pasir.


Aku mengernyit kan kening melihat ke arah nya. Merasa terheran, apakah aku yang di panggil nya sekarang.


"Anda memanggil saya?" tanya ku pelan kepad lelaki itu


Laki-laki itu mengangguk dan tersenyum begitu manis.


Plak.


Owh Tuhan, bagaimana bisa?


Aku begitu terkejut melihat nya. Bukan kah dia...


"Yah" jawab dia singkat dan menghela kan nafas keras


"Sendiri?" tanya lelaki itu lagi


"Eeumm..." jawab ku terpotong


"Apa kabar?" ujar nya tiba-tiba ingin menjulurkan tangan ingin menyalami dengan ku


"Baik." sahut ku pelan dan tersenyum ku buat-buat sama sekali tidak membalas menyalami tangan nya itu


"saya pergi dulu" ujar ku kembali dan berlalu meninggalkan nya berlari kecil


**


"Sayang, tunggu" panggil Rey tiba-tiba


"Sayang, dari mana?." sahut Rey kembali merasa khawatir


"Tidak, Rani tadi habis dari sana." sahut ku sedikit kaku


"Siapa lelaki tadi yang bersama Rani?" tanya Rey penasaran


"Jangan bohong, kakak melihat Rani bertegur sapa dengan nya." ujar Rey menatap ku tajam


"Kak, Rani lelah. Rani ke kamar dulu." sahut ku pelan dan berlalu pergi


"Sayang, tunggu." sahut Rey tapi Rani sama sekali tak mendengar masih terus saja melangkah pergi


Siapa laki-laki yang bersama Rani tadi itu, kenapa begitu membuat Rani ketakutan dan menjauh melihat nya. Gumam Rey dalam hati.


"Sayang." panggil Rey pelan dan meletak kan makanan yang di beli nya itu di meja


Rani terduduk di atas tempat tidur dan sama sekali tidak mengetahui Rey sedang memanggil dan berbicara dengan nya.


"Sayang." kembali Rey memanggil dan sudah duduk di depan Rani dengan tatapan menatap Rani terheran


"Sayang, kenapa ni? Sayang tidak suka kita honeymoon kemari?" tanya Rey serius


"Heum, tidak ada. Hanya sedikit sakit kepala saja dan..... Rani sangat suka tempat ini." sahut ku pelan dan berusaha tersenyum


"Sayang, kalau ada masalah bilang sama kakak." pinta Rey melihat Rani dengan tatapan lembut dan manja


Aku hanya mampu mengangguk dan tersenyum.


"Istirahat lah, kalau Rani masih merasakan sakit kepala" pinta Rey dengan ucapan yang begitu lembut


Aku kembali mengangguk dan merebahkan tubuh ku. Rey menutup tubuh ku menyelimuti nya dengan selimut. Setelah mengecup pelan di kening ku Rey berlalu ke kamar mandi.


**


Aku sudah berusaha segala upaya agar bisa memenjam kan mata, tapi sama sekali tak bisa. Rey di sisi ku sudah tertidur. Rani kembali terbayang pertemuan tadi sore dengan lelaki itu.


Rey memeluk ku pelan dan menenggelam kan wajah nya ke leher ku. Aku tahu, ini tak-tik Rey teringin berhubungan dengan nya malam ini. No, aku belum siap.


Yah, memang kami sudah menikah semenjak beberapa hari.


Tapi, tapi aku benar-benar belum siap melakukan nya terlalu jauh. Istri macam apa aku ini, tidak bisa melayani suami dengan baik. Maafkan Rani kak. Rani begitu takut memulai nya.


Pelukan Rey semakin aneh saja dan menyentuh lembut setiap sudut kulit leher ku dengan bibir nya itu.


Aku mengelak semampu dan sekuat aku bisa lakukan agar Rey tidak terlalu jauh melakukan nya. Aku benar-benar sedang tidak mood sekarang.


Rey tiba-tiba membuka kan mata nya dan menatap ku sendu.


"Kenapa sayang?" tanya Rey lirih menatap kedua bola mata ku begitu dalam


"Tidak, Rani ke kamar mandi dulu." jawab ku mengelak dan terus melangkah


BERSAMBUNG...