My Brother Is My Husband

My Brother Is My Husband
Kisah Silam



***


Maafkan kakak Rani, entah apa yang ada di pikiran kakak sekarang, kakak tak paham dengan situasi yang sekarang kakak hadapi.


Setelah papa dan mama bercerita tentang kita yang bukan adik-beradik kandung, dan perjodohan di antara kita yang sudah puluhan tahun lalu di rancang dan di sepakati oleh keluarga kita ini. Membuat kakak tak selesa dengan Rani sekarang.


Kakak bersalah sudah bersikap cuek dan tak acuh pada Rani semenjak beberapa hari terakhir ini.


Jauh-jauh kakak pulang dari negera orang. Kakak berpikir, kakak hanya akan menjaga dan membina perusahaan papa. Tapi di sebalik itu semua banyak hal yang belum kakak ketahui.


Kenapa papa baru bercerita sekarang.!!


Kakak pun tak begitu paham dengan perasaan kakak yang tiba-tiba berubah begitu tidak suka dengan Rani sekarang, jelas Rani bukan tipe kakak untuk saat ini. Rani masih sangat kekanak-kanakan sekali.


Maafkan kakak padahal kemarin kakak masih bisa bersikap baik dan lembut dengan Rani, adik kakak sendiri.


Kenapa harus ada perjodohan sebodoh ini dengan adik nya sendiri. Pikir Rey keras.


Apakah perlakuan ku sekarang terhadap Rani karna dihantui akan kenangan dan ketakutan masa lalu ku dulu yang pernah jatuh cinta dengan seorang gadis barat-indo.


**


Rey terbayang kembali akan masa lalu nya dengan Dian di Newyork.


Gadis Barat-Indo yang sangat dia sayangi dan cintai. Yang telah pergi meninggalkan luka di hati nya, pergi tanpa jejak dan pemberitahuan sama sekali.


Tepat hari ini 5 tahun mereka terpisah tak ada berita, Dian meninggalkan Rey tanpa alasan yang jelas dan tak berpamit.


Rey tak paham dengan hati nya sekarang, ketakutan lama menghampiri kembali.


**


Di sela-sela makan malam,


"Pa, ma, Nia pamit pulang ke kampung nenek boleh?" pinta ku menyipitkan matanya memohon dengan sendok di kedua tangan yang sedang makan.


"Tapi bukan kah Nia sudah mau mendaftar dan akan masuk di University" jawab papa singkat dan melanjutkan makan.


Aku meletakkan kedua sendok yang di tangan ku itu, dan bicara perlahan ke papa. Sambil sesekali menatap ke arah mama dan Rey.


"Pinta apa? jarang-jarang Nia seperti ini sama mama dan papa" jawab papa tersenyum beralih melihat ke mama dan Rey.


"Nia masuk University di bagian Designer saja?Nia tidak begitu tertarik di bagian Bisnis pa, ma"


Aku memberanikan diri menyatakan keinginan ku masuk di University di bagian Designer. Lagi pun ini masa depan ku, bukan orang lain yang nikmati nanti.


Rey mendehem.


Tak pasti apa maksud dan yang dilakukannya itu, dan pastinya papa paham maksud dari Rey itu.


Papa melihat ke arah Rey, Rey hanya mengangkat kedua bahu nya. Mama pun terlihat sama seperti Rey.


Artinya, Keputusan di tangan Papa.


"Tapi Nia " Papa tak melanjutkan kata-kata nya.


Papa kembali teringat kisah silam puluhan tahun yang lalu


**


Teringat peristiwa puluhan tahun lalu, Rahmat dan Daniar adalah Ayah dan Ibu kandung Rania. Terjadi peristiwa pahit, disaat mereka sekeluarga berlibur ke puncak bersama-sama. Mobil yang dikendarai Daniar dan Rahmat tak bisa di kendali kan lagi, di depan terlihat truck besar menghantam mereka.


Daniar, Ibu Rania terluka parah dan tak terselamatkan di tempat itu juga.


Rania yang masih bayi berusia 6 bulan kala itu tak terluka, hanya sedikit goresan luka kecil saja di dahi nya.


Rahmat yang sempat di larikan ke rumah sakit, sempat memberi pesan dan amanah kepada Zakir (Papa Rey) agar menjaga anak perempuan nya kelak sampai dewasa, dan berpesan agar menikahkan nya dengan Rey jikalau mereka sudah dewasa nanti.


Semua harta dan kekayaan nya di amanah dan di serah kan Rahmat untuk Zakir sebagai imbalan membesarkan putri nya itu, Rania.


**


"Paaa... " panggil ku memecahkan lamunan papa, terlihat ada setitik air mata di sudut mata papa.


BERSAMBUNG...