My Brother Is My Husband

My Brother Is My Husband
Kecupan Manis



***


Kakak berdiri tegap menunggu ku selesai menaiki tangga.


"Ini, biar cepat gemuk" ucap Rey meledek, membelikan kesukaan ku lagi, cheese stick


"Makasiiiiih..." ucap ku manja


"Yaa... habiskan" jawab Rey dan berlalu pergi.


"Eh, ini bukan yang coklat, tidak mau" jawab ku rewel seperti anak kecil


Dan terus mengikuti Rey ke kamar, entah apa-apa mulut ku Nyerocos karna kesal bukan yang coklat di belikan nya.


Rey tak menyahut sepatah kata pun, ini belum menikah dengan nya sudah di bikin pusing begini, bagaimana kalau benar-benar jadi suami nya pasti setiap hari bahkan setiap jam aku akan diserang dengan ke-cerewet-an nya itu, Rey hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah adik nya.


"Makan lah itu dulu, besok kakak belikan yang coklat, tadi kakak buru-buru sayang." ucap Rey menenangkan


Rey melepas jas nya dan meletak nya di atas tempat tidur dan lanjut membuka kemeja nya lagi kemudian merebahkan diri di tempat tidur sebentar.


Sayang..!!


Kenapa aku sangat geli mendengar nya. hehee...


Gumam ku dalam hati.


"Baiklah, karna kakak sudah salah membeli nya tadi, belikan double besok" pinta ku aneh.


"Eum.." Jawab Kak Rey dengan mata terpejam.


Mungkin dia lelah, pikir ku. Kini lengan nya diletakkan di atas paha ku yang sedang duduk disisi nya, ini pertanda kalau aku harus memijit-mijit lengan nya bak seorang pelayan melayan Tuan nya.


Owh Tuhan, aku pergi saja sekarang, pelan-pelan aku turunkan kaki ku dari atas tempat tidur.


"Mau kemana?" tanya Rey tiba-tiba dan kini dengan posisi setengah duduk.


Rey menarik tangan kiri ku dengan kuat dan sampai kami sama-sama terjatuh kembali di tempat tidur dengan posisi aku di atas tubuh nya.


Dada ku menempel ke tubuh nya dan terlihat belahan dada keluar.


Rambut ku pun terurai jatuh di atas dada Rey. Rey menyibak kan rambut ku ke arah belakang, dan menekan pelan kepala ku mendekat dengan wajah nya, dengan mudah Rey sudah melakukan kulum*n bibir nya begitu lembut dan perlahan.


Aku memenjam kan mata menikmati gerakan bibir Rey, yang kini mengul*m-ng*lum lidah ku sangat pelan. Seketika Rey melepas dan melanjutkan lagi kulum*n nya itu.


Rey bangun untuk duduk dan tubuh ku pun juga ikut terduduk di atas nya. Lanjut Rey menyibak baju yang ku pakai ke atas dan menarik br* agar terlepas. Terpampang sudah kedua buah dad* ku yang menantang itu di hadapan Rey. Tidak menunggu lama Rey merem*s-rem*s payudar* ku dan menjil*t nya sesekali membuat stempel cinta berwarna merah di kedua bukit itu. Kembali Rey melakukan aktivitas nya di leher ku dengan gerakan masih memegang payudar* ku.


Aku mendesah kecil menikmati nya dengan tubuh sudah naik turun mengikuti gerakan mulut Rey menghis*p-hisp ** payudar ku. Kak Rey pun terlihat semakin bertambah nafsu.


Perlahan Rey melepaskan mulut nya dan meregang kan tubuh nya dengan ku. Kini tatapan kami saling bertemu dan sama-sama tersenyum menikmati.


"Sayang" bisik Rey di telinga ku.


"Eum" jawab ku tak bersuara keras.


"Kita menikah, dan mendapatkan kenikmatan lebih dari ini." ucap rey sambil sedikit menggoda dan tertawa bercanda kepada ku.


"Benarkah?" jawab ku sok polos.


"Eum... Tapi jangan berteriak karna kesakitan" ucap Rey lagi menakut-nakuti ku dengan wajah nya yang setengah ingin tertawa.


"Akan kah mama merestui hubungan kita Kak." tanya ku kini yang sedikit berharap.


Rey tak menjawab, hanya menatap wajah ku, dengan tangan nya menurunkan kembali baju ku yang tadi di sibak nya ke atas.


Selama ini, Rani hanya mengetahui mereka bukan adik-beradik kandung saja, tanpa diketahui yang sebenar nya ada perjodohan di antara mereka berdua.


Berati Rani tidak tahu selama ini mereka sudah di jodohkan sejak mereka kecil. Apakah Nenek tidak menceritakan nya juga tentang hal ini, pikir Rey.


Belum sempat Rey menjawab, diluar terdengar seseorang mengetuk pintu kamar.


"Tuan, Nyonya menyuruh untuk turun makan malam bersama." terdengar suara Bik Sum dari arah luar.


"Ya bik" jawab Rey spontan.


"Rani, balik lah ke kamar dulu ganti pakaian lain, dan tunggu kakak di meja makan." pinta Rey kepada ku.


"Ya kak" jawab ku dan beranjak keluar.


Tapi tangan Kak Rey kembali menarik tangan ku, dan melakukan kecupan di dahi ku.


Aku hanya mampu tersenyum bahagia saat ini.


BERSAMBUNG...