My Brother Is My Husband

My Brother Is My Husband
Takut kehilangan



***


"Pia, jam berapa meeting kita dengan Tuan Lie hari ini." tanya Rey tegas


"Jam 2 siang Boss, di Resto Blenky." sahut Pia sembari melihat di buku catatan nya


"Oke, siap kan semua file untuk meeting nanti." ucap Rey dan berlalu masuk ke ruang kerja nya


"Baik Boss." sahut Pia sopan


Rey terlihat sangat mengantuk sekali, semalaman bergadang karna tidak tidur. Rey merebah kan tubuh di sofa. Tanpa di sadari nya Fandi duduk di sofa sudah sedari tadi.


"Hey, kamu." teriak Rey melihat sosok Fandi di dekat nya


"Hahaaa... kamu kenapa?" tanya Fandi tertawa


"Kau ini, mengaget kan ku saja." ucap Rey mengucek mata nya


"Kau kemana semalam?" goda Fandi karna mengetahui setelah Rania menelpon nya pagi tadi


Rey sama sekali tak menjawab. Fandi masih menertawai tingkah nya.


Rey merebahkan tubuh nya di sofa, memenjam kan mata.


"Aku sudah mendapat bukti yang Dian tak bersalah dalam hal pemalsuan produk itu Rey." bicara Fandi mulai serius


Rey tak menjawab, masih dengan mata terpenjam. Tapi masih dengan telinga mendengar detail.


"Pelaku nya seorang lelaki yang bekerja di bagian produksi, dia sudah tak masuk bekerja selama beberapa hari." Lanjut Fandi memperjelas.


Rey masih dengan mata yang terpenjam, dan mendengar jeli setiap perkataan Fandi.


"Laki-laki itu di bayar oleh Tuan Salim." ucap Fandi tertahan


Rey terkaget dengan ucapan Fandi.


Rey terduduk dan membuka mata menatap Fandi tajam.


"SALIM." sahut Rey dengan mata menyipit geram


Yah, Tuan Salim.


Telah bekerjasama dengan perusahaan nya sejak beberapa tahun lalu. Dan Rey mempercayai penuh kepada Tuan Salim. Kerjasama antara perusahaan mereka berjalan mulus sejak beberapa tahun terakhir. Kenapa kali ini mengkhianati nya. Tuan Salim, tak lain tak bukan ialah Papa Ameli.


Apa yang di inginkan nya?


"Kau sudah mempersiapkan semua bukti-bukti nya?" tanya Rey cepat


"Yah, sudah Boss."


"Baik. Atur jadwal Konferensi Pers secepat nya." pinta Rey tegas ke Fandi


Gumam Rey geram.


**


Jam sudah menunjuk kan pukul 5 sore. Meeting dengan Tuan Lie berjalan lancar dan mulus. Berjalan sesuai rencana. It's perfect.


Rey akan menjemput Rani sekarang. Jangan sampai telat. Karna tak akan berakhir omelan yang di lontar kan Rani untuk nya kalau sampai telat semenit saja.


Owh, entah bagaimana aku bisa menghadapi nya nanti setelah kami tinggal bersama, setiap hari mendengar cerewet nya itu.


Sesekali Rey tersenyum membayangkan sifat dan sikap Rani yang membuat nya mampu tersenyum.


Canda nya, tawa nya, menangis nya dan kecemburuan nya seperti pagi tadi.


Kembali Rey tersenyum sendiri.


Dret.


Mobil berhenti di depan gedung Fashion Designer Golden.


Dari jarak yang sedikit jauh. Rani keluar dari kantor dia bekerja. Dan berjalan melangkah ke arah mobil yang di kendarai Rey.


"Tepat waktu." ucap ku tersenyum ke arah Rey


Rey tersenyum tak menyahut.


"Kita makan dulu?" tanya Rey meminta pendapat


"Alah, Rani masih kenyang. Kita terus pulang saja. Oke." pinta ku manja


"Oke, oke." sahut Rey sembari membelok kan mobil nya ke arah pulang


Aku menatap Rey sepanjang perjalanan kami pulang. Entah, aku merasakan takut akan kehilangan Rey sewaktu-waktu.


Tiba-tiba handphone Rey berdering.


"Papa" ucap Rey memastikan kepada ku


Aku hanya mengernyit kan kening. Lama pembicaraan papa dengan Rey. Masih dengan permasalahan kerja nya di kantor.


"Papa dengan mama akan pulang besok." ucap Rey menatap ku setelah menyudahi pembicaraan nya dengan papa di telpon


"Bukan kah seharus nya sore tadi sudah sampai?" tanya ku memastikan


"No, kata nya masih ada hal yang harus di selesai kan dulu." jawab Rey sekilas


"Kakak akan pulang ke rumah yang di Pondok malam ini?" tanya ku dengan wajah mendekat dengan wajah Rey


BERSAMBUNG...