My Brother Is My Husband

My Brother Is My Husband
Rey semakin kesal



***


Terlihat wajah Rey sudah memerah menahan amarah nya mendengar kata-kata Faiz tadi untuk Rania dengan tatapan yang memandang nya dari atas sampai ke bawah. Bik Sum yang ingin meminta maaf pun sudah tak berani. Rey terus naik ke atas mencari Rani di kamar dan menemui nya untuk bicara.


Aku sedang memikirkan bagaimana nanti aku akan meminta maaf ke Rey dan menyesali perbuatan ku tadi. Tiba-tiba seseorang mendorong buka pintu kamar ku dengan lancang.


Braakk.


Dan kini pintu kamar sudah terbuka lebar. Siapa, pikir ku dalam hati. Aku melihat ternyata sosok Rey sudah berdiri di depan pintu.


Apa yang akan di lakukan nya kali ini, mata nya memerah dan terlihat sangat marah dan kesal. Aku tak mampu menatap Rey saat ini, dan aku membuang wajah ku ke arah lain dan kembali menatap nya sesekali, terlihat dia masih mematung berdiri di depan pintu sana. Dan kini dia melangkah semakin membuat ku ketakutan.


Ah, aku tidak boleh takut. Kalau aku takut akan semakin mudah dia memarahi ku dan melampiaskan emosi nya itu. gumam ku dalam hati.


Aku pun coba melangkah menghampiri Rey dan menatap mata nya dalam, Rey dengan mata yang masih memerah menatap sayu ke arah ku.


Tangan nya memegang kedua tekuk leher ku agak sedikit terasa kasar sentuhan nya kali ini. Bibir nya mulai mendekat dengan bibir ku. Dan bibir kami semakin mendekat.


"Kak... Maafkan Rani" pinta ku memelas.


Rey tak menjawab, kini bibir kami bersentuhan dan gerakan nya sangat tidak enak untuk di nikmati. Dan aku menggigit bibir nya karna tidak tahan.


Rey terkaget dan melepas kan cepat *** bibir nya itu. Aku melihat ada luka dan keluar darah di bibir nya karna gigitan yang ku lakukan. Aku mendekati Rey dan kini mendekat kan tangan kiri ku ke bibir nya untuk mengelap darah yang keluar itu tapi Rey menepis nya, dan terlihat masih sangat kesal.


Kini aku mendorong tubuh nya kuat ke sisi sofa dan sampai tubuh Rey benar-benar tejatuh. Seperti nya Kak Rey tak paham apa yang akan ku lakukan dan terlihat mimik wajah nya yang sedikit bingung menatap ku, dengan mata Rey yang masih merah.


Aku terus naik ke atas Kak Rey dan duduk di atas nya. Kini tatapan ku sangat tajam menatap nya dan Rey pun kini menyentuh tubuh ku dengan tangan nya mulai dari paha naik sampai ke atas dada.


Mata kami bertatapan sangat lama. Dengan tangan Rey masih terus bermain-main menyentuh tubuh ku.


Apa yang ku lakukan sekarang, kenapa aku bodoh sekali tidak seharus nya juga aku melakukan ini untuk mereda amarah Rey. Gumam ku dalam hati yang kini melihat diriku sendiri di atas Rey. Ini sangat memalukan sekali.


Kini tatapan ku menatap ke arah lain, dan beranjak turun dari atas tubuh kakak. Tapi tangan kakak menahan, melarang ku untuk turun.


"Mau kemana? bukan nya tadi sangat bernafsu?" tanya Kak Rey.


Aduh, ini sangat memalukan sekali. Kenapa aku bertingkah bodoh.


"Lanjut kan lah apa yang hendak dan ingin Rani lakukan tadi" lanjut Rey bicara dengan bibir sedikit tersenyum seperti sedang menggoda dan menjaili ku.


"No." jawab ku ketus dan berusaha untuk beranjak berdiri.


Tangan Rey masih menahan ku, dan tak bisa bergerak untuk bangun.


"Baik lah, katakan apa yang Kakak ingin kan?" tanya ku pasrah.


"No, tidak ada" jawab Rey tersenyum.


"Baik lah, lepaskan biar Rani berdiri" pinta ku lagi.


"Selesai kan dulu apa yang hendak akan Rani lakukan lagi setelah menjatuhkan tubuh kakak di sini dan Rani naik ke atas kakak?" jawab Rey polos sekali, dan tersenyum menggoda.


Dia ini benar-benar, pikir ku.


Apa yang bisa ku lakukan agar dia puas. Berkali-kali aku berpikir tapi tak mendapatkan ide sama sekali. Kenapa pikiran ku sangat buntu sekarang.


Sekarang tatapan ku mengarah keluar pintu kamar. Yah aku dapat, aku dapat ide, terlihat bibir ku tersenyum sengek sendirian.


"Ya ampun Biiiik, Bibik sudah berdiri disana sedari tadi dan melihat kami..." ucap ku begitu serius yang setengah hampir ingin tertawa terbahak-bahak.


Rey terus beranjak berdiri dan melepaskan tangan yang memegang ku tadi, sampai terjatuh tubuh ku ke atas sofa. Tanpa di minta sekarang Rey sudah berdiri.


"Bik bik ini tidak seperti yang Bik Sum lihat, lihat lah Rani yang..." Rey berucap tak menoleh ke arah keluar pintu dan saat dia menoleh sama sekali Bik Sum tidak ada disana.


Hahahaahaaa...


Aku terus tertawa terbahak-bahak.


"Kamu mengerjai kakak lagi?" tanya Rey geram.


"No, Bik Sum baru saja pergi setelah melihat kita tadi" jawab ku yang masih tertawa.


Rey melangkah keluar, memastikan apakah yang di bilang Rani betul.


Ah sungguh bodoh aku mempercayai nya kali ini. Awas kamu Rani. Akan ada hukuman yang berat untuk mu nanti.


BERSAMBUNG...