My Brother Is My Husband

My Brother Is My Husband
Hampir nyaris



***


Kring, kring, kriing...


Beker berbunyi keras. Aku membuka mata.


Oh tidak!


Sudah jam 7. Aku bisa telat berangkat bekerja hari ini. Cepat aku beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi.


Oh sungguh Bik Sum tidak membangun kan ku pagi ini. Aku akan kena ceramah manja Boss lagi kali ini.


Dengan sarapan pagi satu roti dan minum susu sedikit aku terus beranjak pergi.


"Kau telat lagi." ujar Mia tiba-tiba melihat ku baru datang


"Yah, Boss sudah datang?" tanya ku tergesa-gesa


"Tidak, kata nya kita hari ini di beri bercuti. Bukan kah itu menyenang kan sekali." ujar Mia tersenyum lebar


"Yah, kau tahu. Aku begitu lelah, aku sangat terburu-buru tadi."


"Kau ini, sudah ku bilang. Kalau malam itu tidur jangan suka menghayal."


"Kau ini, meledek ku."


"Eh, mana ada. Aku bicara betul." jawab Mia tertawa


"Sudah-sudah. Kita pergi nonton saja hari ini, gimana?" pinta Mia tiba-tiba


"Hey, kamu tahu kalau pun di beri cuti tapi pekerjaan kita masih banyak sekali yang belum beres." ujar ku membayangkan desain yang belum habis ku kerja kan


"Alah kau ini Rani. Ayuk lah." pinta Mia memelas


"Mia plisss, bukan kah kita baru juga menonton minggu kemarin."


"Eum, iya sih. Tapi aku hari ini sudah berjanji akan bertemu dengan ayang baby ku menonton." ucap Mia lirih malu-malu


"Hey, kamu ini. Ya sudah pergi lah." ucap ku tertawa


"Tapi kamu yakin tidak mau ikut?" kembali Mia bertanya


"Eum. Pergi lah, hehe."


Berbahagia lah kalian yang sedang di mabuk cinta. Aku beranjak melangkah keluar dari kantor.


Yah, aku akan pulang. Tidak, tidak, di rumah pun akan sangat membosan kan.


Taman, iya.


Itu tempat dimana aku bisa sedikit lebih lega dan menenangkan diri sekarang.


Drrrt drttt drrrtt...


Fandi. Kenapa menghubungi ku.


"Ya." sahut ku pelan


"Rani, kamu ke kantor sekarang. Rey kecelakaan." ucap Fandi terburu-buru


"Apa? Bagaimana... "sahut ku khawatir


"Fandi, Fandi kau mendengar nya." sahut ku tapi panggilan sudah di akhiri


Aku bergegas naik taksi dan menuju ke kantor nya Rey. Aku sudah begitu khawatir, menyuruh supir taksi berkemudi lebih cepat.


**


"Kak." ujar ku cepat, dengan langkah terus masuk ke ruang kerja Rey tanpa mengetuk pintu terlebih dulu


Terhenti.!!


Yah, aku terhenti melangkah. Sorotan mata ku dengan cepat menatap Rey dan Dian terduduk di sofa. Ruangan kembali membisu.


Hati ku begitu hancur melihat nya. Kalau ini yang ingin mereka perlihat kan kenapa harus menghubungi ku. Aku berusaha kuat dan tidak menjatuh kan air mata di depan mereka.


"Sayang, ini hanya..." ucap Rey terpotong


Aku mencoba melangkah mundur dan keluar dari ruangan itu. Pintu kembali terbuka dan Fandi masuk membawa kan kotak P3K.


"Rani, kamu sudah datang. Tangan dan kaki Rey terluka parah." ucap Fandi yang melihat ku sudah di ruang itu


Aku mencoba tersenyum ke arah Fandi.


"Rey maaf. Aku yang menghubungi Rani tadi karna melihat mu begitu kesakitan seperti tadi, aku sangat khawatir sampai menghubungi Rani." ujar Fandi melihat Rey


"Fandi, aku akan balik sekarang." ucap ku sedikit tersenyum


Fandi terlihat heran, mungkin karna ada Dian, pikir nya.


"Rani, berhenti." sahut Rey menahan langkah ku


"Rani kau baru juga datang, bagaimana kau akan pergi." pinta Fandi menahan ku untuk pergi


Rey mencoba berdiri dan melangkah dengan langkah yang tertatih-tatih menuju ke arah ku.


"Sayang, ini tidak seperti yang Rani lihat." ucap Rey menatap ku serius


"Kakak tadi hampir di tabrak seseorang saat baru turun dari mobil. Dian yang menolong kakak dengan mendorong karna jarak dia tadi yang tidak begitu jauh dengan kakak. Dian pun sedikit terluka di kaki nya." ucap Rey menjelaskan


Aku melihat Dian masih begitu santai duduk di sofa dan tidak beranjak sama sekali. Lalu apa hadir ku di sini, hanya percuma.


"Baik lah, Rani akan balik sekarang." ucap ku dan melangkah perlahan keluar dari ruang kerja itu


"Fandi, kau berikan itu. Aku akan mengolesi di luka Rey." pinta Dian ke Fandi kotak P3k yang di pegang nya


Aku berharap Rey akan memanggil ku kembali dan mencegah ku untuk pergi dari ruang kerja nya itu. Tapi, sama sekali Rey tak melakukan nya.


Sejenak aku tertegun dan berhenti melangkah, menoleh kembali ke ruang kerja yang aku tinggalkan itu. Dan kembali melangkah cepat ingin pergi dari tempat itu.


"Sayang, berhenti." sahut Rey dari kejauhan di depan pintu kerja nya


Langkah ku secara tiba-tiba terhenti lagi tapi masih tak mampu menoleh. Rey berjalan cepat walau kaki nya tertatih melangkah.


"Sayang, jangan pergi." pinta Rey dengan suara yang begitu lembut


Rey memeluk ku dari arah belakang, tak peduli berapa banyak karyawan yang akan melihat dan menggosipkan nya nanti.


"Kak, masuk lah. Rani akan balik sekarang." pinta ku agar Rey kembali masuk ke ruang kerja nya


Rey masih tak melepas memeluk ku, dan menarik sisi tubuh ku ke ruang meeting di samping ku berdiri sekarang. Kembali menutup pintu ruang *mee*ting itu. Hanya ada aku dan Rey di ruang ini sekarang.


Aku tertunduk tak menatap Rey sama sekali. Ia pun mengangkat kepala ku secara perlahan kemudian wajahnya mengarah kepada ku.


Sama, Ia pun menatap mata ku dengan tajam. Begitu juga denganku. Kami saling beradu pandang.


Sedikit demi sedikit, kami pun saling mendekatkan wajah kami. Jantung ku sepuluh kali berdetak lebih kencang dari biasanya.


Begitu halus Rey menyentuh bibir ku.


Ternyata ciuman di bibir membuat ku terbuai dan hanyut ke laut Madura. Kenapa berciuman kali ini dengan nya membuat ku hingga terengah engah.


Tanpa terasa tangan Rey menyusup dari bagian bawah baju ku dan bergerak merayap ke atas. Tangan itu meremas bukit kenyal. Seketika aku tersentak dan hendak menjerit tapi Rey kembali melumat bibir ku pelan dan halus sampai aku tak bisa bersuara sedikit pun.


Aku berusaha menolak tindakan Rey sekuat tenaga yang ku punya. Tapi Rey menahan begitu kuat. Aku tidak punya cara selain menginjak kaki nya.


Maafkan Rani.


"Awwww." teriak Rey kesakitan


"Sayang, kenapa melakukan nya." ujar Rey melihat ke arah ku sendu


BERSAMBUNG...