My Brother Is My Husband

My Brother Is My Husband
Oh Berat badan



***


"Jadi kau yang mengatakan nya ke Dian?" tanya Rey di sela mereka duduk dan minum-minum di cafe biasa mereka menghabis kan waktu luang


"Yah, kenapa kamu tidak bisa berterus terang dengan Dian tentang hubungan kamu dan Rani." sahut Fandi kembali bertanya


Rey tersenyum, tak menjawab sama sekali.


"Kau tahu, kamu sudah melukai dua hati perempuan sekaligus. Kau tahu itu, kenapa masih berbohong?" ujar Fandi melanjutkan


"Aku tidak berbohong. Hanya Dian saja yang masih mengharapkan ku." jawab Rey sedikit tertawa


"Tapi kamu sudah melukai hati dan perasaan Dian dengan tidak berterus terang kepada nya."


"Hey, apakah dengan dia pergi tak berpamit sama sekali itu tidak membuat ku sakit hati." sahut Rey kesal


"Tapi ada Rani yang terluka. Kamu tidak merasakan nya." tanya Fandi kembali


"Tidak." Rey tersenyum


"Aku suka saat Rani cemburu dan marah-marah kepada ku. Dia terlihat begitu manja dan sedikit nakal." sahut Rey tersenyum sumringah


"Apa? Bisa mati gila Rani kalau tingkah mu seperti ini Rey." sahut Fandi menggeleng-geleng kan kepala


"Aku bisa apa?" tanya Rey yang masih tertawa


"Bisa apa. Kenapa menanya ku. Seharus nya kamu yang berpikir." jawab Fandi menyerah


"Kamu menyukai Dian?" tanya Rey serius


"Hey, apa yang kau tanya kan ini. Bodoh sekali." sahut Fandi kesal


"Aku melihat nya. Kenapa kamu begitu canggung sekarang saat aku menanyakan itu." ujar Rey tertawa


"Apakah aku terlihat seperti sedang jatuh cinta sekarang?" tanya Fandi polos


"Ehem." jawab Rey mengangguk kepala sembari menyodot minuman di depan nya


"Kamu tidak sedang bercanda kan Rey?" tanya Fandi kembali


"Kenapa masih berbohong. Kalau suka ungkap kan. Atau perlu aku..." ucap Rey terpotong


"Saat aku menyelidiki tentang Dian hari itu membukti kan kalau Dian tidak bersalah. Aku awal nya hanya merasa simpati saja atas apa yang terjadi di kehidupan nya itu Rey. Dia tinggal sebatang kara sekarang, dan memulai hidup dari nol. Itu membuat ku merasa kasihan. Tapi lama-lama rasa kasihan itu menjadi..." Fandi menjelaskan tak melanjut


"Sayang, benci atau cinta." sahut Rey cepat masih mampu tertawa dan bercanda di saat Fandi sedang serius mencerita kan


"Kau ini, aku sedang bercerita." lanjut Fandi menjelaskan


"Kau ini terlalu berbelit-belit dan bertele-tele. Suka katakan." jawab Rey tertawa


**


Handphone Rani berdering yang terletak di sisi tempat tidur. Rani baru selesai mandi. Beranjak melangkah ke sisi tempat tidur nya dan mengangkat.


"Bersiap-siap lah, kakak akan menjemput. Ini lagi menuju ke rumah." ujar Rey di seberang telpon


Hey, tak memberi salam langsung menyuruh orang bersiap-siap.


Ya, aku bercuti hari ini, harapan tidak sesuai ekspetasi. Berharap hanya jingkrak-jingkrak kaki saja di rumah hari ini.


"Eum." sahut ku pelan


"Kenapa ni sayang? sakit?" tanya Rey khawatir


"Tidak. Baik lah Rani akan bersiap dulu." sahut ku pelan


Dia akan mengajak ku kemana lagi sekarang. Beberapa hari ini terus mengajak ku keluar, makan malam diluar, jalan-jalan, belanja. Bisa-bisa kaki ku bengkak mengikuti ingin nya terus.


Oh Tuan Muda Rey, kenapa menyiksa ku sebegini rupa.


Tit tit tiiiiit...


Terdengar suara klakson mobil di halaman depan.


Kenapa begitu cepat Rey sampai. Sedangkan aku belum selesai berpakaian dan berias sama sekali.


Kenapa semua baju yang ku pakai sudah tidak muat lagi. Ini karna aku tidak menjaga pola makan dalam beberapa hari ini. Oh bagaimana ini.


"Kenapa begitu lama?" tanya Rey tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu


Aku masih mengenakan pakaian mandi dan belum berias sama sekali. Rey melihat seisi kamar ku mengernyit kan kening karna sudah begitu berantakan dengan pakaian-pakaian yang ku lempar tak satu pun yang muat dan cocok. Jelas bulan kemarin masih oke-oke saja aku mengenakan nya di tubuh ku.


Aku hanya mampu tersenyum kecil dan mendorong tubuh Rey keluar dari kamar ku. Setelah itu menguncikan pintu. Aku tidak ingin mendengar ocehan Rey yang akan mengatai ku yang tidak-tidak. Tidak rapi lah, tidak ini lah, tidak itu lah. Dengan memilih baju saja sudah membuat ku pusing sekali, apalagi mendengar ocehan nya itu.


"Kakak tunggu 5 menit." sahut Rey cepat dari arah luar


5 menit. Berias saja aku butuh waktu 15 menit, itu paling cepat. Memang ngajak berantem Reynand Afiq Zakir itu.


Ini, ini, ini. Semua tidak ada yang cocok dan muat sama sekali di tubuh ku sekarang


Yah, dapat. Ini.


Halter dress.


Dress yang memiliki kerah yang melingkar di bagian leher dan dress ini tidak memiliki lengan dengan motif garis-garis vertikal.


Setidak nya aku tidak terlihat berisi sekarang saat memakai nya. Ini kesalahan Rey karna mengajak ku keluar hampir setiap hari.


BERSAMBUNG...