
***
"Kakak akan pulang ke rumah yang di Pondok malam ini?" tanya ku dengan wajah mendekat dengan wajah Rey
"Seperti nya tidak." Ucap Rey tersenyum
"Kita pulang ke sana malam ini?" pinta ku tersenyum
"No." ucap Rey singkat
"Hey, memang kenapa? ayuk lah kak." pinta ku memelas
"No Rani. di sana tidak ada siapa-siapa." ucap Rey meyakinkan ku
"Ada kakak, hehe." jawab ku manja dan tertawa
Rey menatap ku tak menyahut sama sekali. Aku tersenyum karna melihat jalan yang kami lalui sekarang sudah melewati jalan pulang ke rumah.
Yes, berarti kami akan pulang ke rumah kakak yang di daerah Pondok Sari.
"Sekarang katakan?" ucap Rey kembali membuka bicara
"Katakan, katakan apa?" aku kebingungan dengan yang di tanya Rey
"Katakan kalau Rani akan tidur dengan kakak malam ini." ucap Rey setengah tertawa
"Ih, gatal." sahut ku kesal mencubit pinggang nya
Rey tertawa tak berhenti-henti karna melihat wajah ku yang sudah manyun dan kesal terhadap nya.
**
Hari sudah malam, dan kami baru sampai.
Aku sama sekali belum pernah ke rumah ini. Daerah perumahan yang berjejer rapi dan komplek perumahan yang begitu bersih.
Rumah hasil kerja keras Rey selama ini. Lumayan. Rumah dengan hanya 3 kamar tidur saja. Cukup untuk di tempati 2 atau 3 orang saja sih.
"Sayang, kenapa masih di sana." tanya Rey mengagetkan perhatian ku yang sedang memandangi sekeliling
Aku tak menyahut, berlalu melangkah masuk ke dalam rumah mengikuti setiap langkah Rey.
"Rani duduk dulu disini, kakak akan mengambil minum." pinta Rey melangkah ke dapur
Aku mengangguk saja dan menjatuhkan tubuh di sofa. Menghidup kan televisi berharap akan ada siaran yang cocok untuk di tonton.
Rey kembali datang membawa kan minuman untuk ku.
"Kakak betah di sini?" tanya ku dengan tatapan melihat sekeliling isi rumah
"Mau gimana lagi, tidak mungkin kakak tinggal di rumah mama papa kan. Nanti Nenek tahu, habis kakak di ceramahi." jawab Rey seada nya
"Sayang suka tempat ini?" tanya Rey menatap ku
"Entah." jawab ku mengangkat bahu
"Nanti juga sudah terbiasa." ucap Rey tersenyum
"Kita tinggal di desa Nenek?" tanya ku mengada-ngada
"What?" ucap Rey terkaget
"Kenapa? Rani betah saja tinggal di desa semenjak dari kecil malah." jawab ku sedikit menjahili Rey
"Pekerjaan kakak?" tanya Rey begitu serius
"Eum, kakak boleh pulang menjenguk Rani sesekali pulang ke desa?" sahut ku polos sekali dan tersenyum, masih ingin menjahili Rey
"Bagaimana dengan kakak yang setiap pagi sebelum pergi bekerja dan pulang bekerja yang tanpa istri di samping, dan tidur tanpa istri?" tanya Rey sangat serius
"Hello, sekarang pun kakak tidur nya sendiri dan berangkat bekerja, pulang bekerja tidak ada sesiapa yang mengurus. Oke. Semua berjalan lancar Rani lihat." Ucap ku lebih serius manjahili Rey
"Berbeda." bisik Rey di telinga ku pelan
Aku sudah tidak bisa menahan tawa lagi. Rey pun juga ikut-ikutan tertawa melihat ku. Rey terus memeluk menenggelam kan wajah ku ke dada nya itu.
Aku mendongak kan wajah ke atas melihat ke wajah Rey dengan dagu ku menekan menempel di dada Rey, kini sudah menahan tawa ku dan menatap nya serius.
Rey mendekatkan hidung nya di hidung ku menempel dan kembali tersenyum melihat ku.
Kembali aku memeluk Rey erat.
Aku merasa begitu nyaman bila di dekat Rey. Berharap perasaan di antara kami selalu bersemi dan mekar setiap hari.
"Sayang, pergi lah mandi dulu dan beristirahat lah." pinta Rey
Aku hanya mengangguk dan berlalu pergi ke kamar.
**
Jauh Rey termenung belum bisa memenjam kan mata nya. Malam sudah begitu larut.
Terbayang kembali awal pertemuan nya dengan Dian di Newyork. Rey hanya mampu menghela nafas panjang. Setelah beberapa tahun Rey baru mengetahui nya sekarang sebab di sebalik Dian pergi dari nya tanpa berpamit.
Kembali Rey terbayang Rania yang sudah beberapa tahun mengisi kekosongan hati nya di saat di tinggal pergi seseorang yang begitu dia cintai. Rani yang sudah menyembuhkan luka itu. Membuat nya mampu tertawa kembali, dan membuat nya berani untuk jatuh cinta untuk ke dua kali nya.
Rey di ambang Dilema.
Rey masih sangat mencintai Rani dan sama sekali tak ingin melepaskan Rani bahkan melukai hati Rani sedikit pun.
Tapi di satu sisi kehadiran Dian hubungan masa lalu nya itu membuat Rey lemah tak berdaya. Antara kasihan atau kah masih ada rasa cinta.
Priiiing.
Suara gelas terjatuh.
Rey cepat keluar dari kamar nya dan menuju ke dapur.
Terlihat Rani di sana, seperti ketakutan sekali dan berdiri mematung gelas di tangan nya yang sudah terjatuh.
"Sayang." panggil Rey dari kejauhan dan terus berlari ke arah ku
BERSAMBUNG...