
***
Rey mendadak menghentikan aktivitas nya itu. Pelan wajah nya mendekati ku kembali dan menatap penuh kasih sayang.
"Sayang, kenapa? katakan?" tanya Rey memelas
"Kak... ja.. jangan lakukan." sahut ku terbata dan sungguh pinta-an yang aneh
Rey tersenyum dan merebahkan tubuh nya di sisi ku.
"Kenapa sayang begitu takut?" tanya Rey pelan
Aku sama sekali tak menjawab dan hanya menatap nya sekilas. Aku telah mengecewakan nya, suami ku. Jauh-jauh diri nya membawa ku kemari pergi ber honeymoon tapi ini yang di dapat kan nya.
"Maafkan Rani." pinta ku menyesal
Rey hanya mengangguk tersenyum dan tak terlihat marah sama sekali. Rey memeluk dan mencium ubun-ubun dan kening ku berkali-kali.
**
Hari-hari berlalu begitu saja. Tanpa terasa kami harus mengakhiri perjalanan honeymoon ini dengan sangat memilukan sekali.
Rey dengan sikap yang masih seperti biasa sama sekali tidak memaksa dan memarahi ku. Dikarna kan keinginan nya berharap honeymoon berjalan semesti nya seperti orang-orang inginkan, tapi sama sekali tidak tercapai seperti yang di harap kan.
Aku tahu, jauh di lubuk hati nya. Rey sangat menyesali semua perbuatan dan kelakuan ku ini.
"Heum, bagaimana honeymoon nya?" tanya mama dengan ekspresi penasaran bercampur bahagia melihat kami yang baru sampai ke rumah masih dengan koper di tangan
Yah, aku tahu. Mama mengharap kan selalu yang terbaik untuk kami berdua.
"Sangat menyenangkan." sahut Rey sumringah ke mama melihat ke arah ku
Aku sama sekali tak menjawab dan hanya sedikit tersenyum saja.
"Sayang, oke?" tanya mama kepada ku
"Yah ma, Rani ke kamar dulu ma." sahut ku pelan
"Ya sayang." sahut mama singkat
**
Aku beranjak dari tempat tidur dan melangkah ke ruang kerja nya itu.
Perlahan membuka pintu ruangan kerja nya yang sama sekali tidak terkunci. Tatapan ku terhenti pada Rey dengan mata terpejam dan tubuh bersandarkan di sofa dengan laptop dan dokumen-dokumen yang sudah tertata rapi di atas meja di depan nya itu.
Tapi kenapa Rey memilih tidur di sini bukan nya kembali ke kamar. Aku kembali melangkah mendekat dengan Rey.
"Sayang." panggil ku lirih
Sama sekali Rey tak bergeming. Tidur nya begitu terlelap. Oh sungguh, suami ku sangat lelah setelah seharian bekerja di kantor.
"Sayang, kita tidur di kamar." ujar ku pelan dengan tangan menyentuh nya tapi Rey masih dengan mata terpenjam
"Kak, maaf kan Rani. Rani sudah buat salah. Maaf kan Rani membuat kakak kecewa dengan sikap Rani. Rani benar-benar belum siap, Rani takut." ujar ku kembali menatap Rey sangat dalam dan masih tertidur dan sekilas menyapu air mata ku yang terjatuh
"Rani sangat-sangat sayang kan kakak." sahut ku pelan di telinga Rey
Aku beranjak keluar dari ruang kerja itu dan kembali ke kamar.
"Kakak pun sangat sayang kan Rani." sahut Rey pelan setelah kepergian Rani dari ruang kerja nya itu
Iya, Rey mendengar semua yang di katakan Rani baru saja.
Rey kemudian beranjak dari ruang kerja nya dan kembali ke kamar nya untuk istirahat. Besok adalah hari pertama Rey akan masuk bekerja setelah beberapa minggu bercuti.
Rani sudah di bawah selimut tertidur. Rey beranjak mendekat dan tidur di sisi Rani. Rey begitu penasaran kenapa setiap kali Rey menginginkan tapi Rani terus menolak. Sebenar nya apa yang di takut kan Rani.
Rani sudah pernah melakukan nya sebelum ini. Tidak, tidak. Tidak mungkin Rani melakukan hal bodoh apa lagi menyangkut dengan marwah juga harga diri nya. Aduh, kenapa aku begitu bodoh memikirkan yang tidak-tidak tentang Rani. Jelas aku tahu bagaimana kehidupan Rani selama ini. Tapi, aaah. Gumam Rey terus memikirkan yang tidak-tidak.
Rey mendekat dan menyentuh lembut tubuh Rani, dan pelan melepaskan lingerie yang di pakai Rani. Rani tertidur begitu pulas dan nyenyak sama sekali tidak memgetahui yang di lakukan Rey.
Apapun yang terjadi aku harus melakukan nya malam ini. Aku ingin tahu apa sebenar nya yang di takut kan Rani. Pikir Rey dengan perasaan tergesa dan keegoisan nya itu.
BERSAMBUNG...