
***
"Maaf Boss, saya sudah menahan nya tapi..." ucap Pia sekretaris Rey ikut masuk ke ruang kerja Rey di belakang Ameli
"Oke. Kamu boleh keluar sekarang." sahut Rey sopan kepada Pia
"Baik Boss." kembali Pia manyahut dan keluar dari ruang kerja Rey
Rey menatap Ameli sekilas tak acuh dan kembali sibuk dengan dokumen yang sedang di lihat nya.
"Rey, aku minta maaf dari pihak papa." ujar Ameli membuka pembicaraan
"Maaf kan dia Rey. Aku tahu kamu sangat marah pada kami semua. Tidak seharus nya papa melakukan ini. Tapi karna papa sangat geram kala itu karna perjodohan antara kita gagal dan kita tidak bisa bersatu seperti yang mama papa ku harap kan." bicara Ameli penuh penyesalan yang mendalam
Rey menutup dokumen yang di baca nya dan mulai serius menanggapi pembicaraan Ameli.
"Rey, perusahaan papa sedang di ambang kesulitan sekarang." ujar Ameli kembali menatap Rey dengan tatapan penuh harap
"Lalu?" sahut Rey seperti tahu maksud yang di katakan Ameli
"Kamu harus menolong nya." pinta Ameli memelas
"Kamu tahu berapa sudah kerugian yang perusahaan kami tanggung setelah apa yang papa mu lakukan itu." sahut Rey menjelas kan
"Iya, aku tahu. Tapi Rey hanya kamu satu-satu nya yang mampu menolong perusahaan kami sekarang." ujar Ameli meyakin kan
"Kenapa kamu yang kemari? bukan kah seharus nya..." ujar Rey terpotong
"Papa sedang di rawat di rumah sakit. Serangan jantung nya kambuh." ucap Ameli cepat penuh air mata
**
Hari semakin sore. Samar-samar terlihat Rani di dapur sedang memasak untuk makan malam.
Shiiiiiittt Aaaaaaoh (suara aneh).
"HAH, SIAPAA?" teriak Rani keras begitu merinding mendengar nya dan mulai khawatir
Cepat-cepat Rani menyajikan makanan dan meletakkan di atas meja. Selesai. Kenapa begitu sepi, ini hampir magrib.
Drek-drek, drek.
Kembali terdengar seseorang hendak membuka kan pintu di depan. Semakin membuat Rani khawatir.
"Siapa??" tanya Rani ketakutan dan perlahan melangkah melihat
Hah.
Terlihat bayangan seseorang lewat di jendela depan. Rey. Tidak mungkin Rey. Rey pulang lambat malam ini. Siapa sosok itu, lampu di ruang tamu tidak menyala jadi Rani tidak bisa memastikan siapa yang datang.
Handphone, yah mana handphone. Aku harus menghubungi Rey sekarang dan menyuruh nya cepat pulang.
Rani melangkah cepat menuju ke kamar. Tiba-tiba tertegun.
Oh, tidak tidak. Bagaimana aku akan menelpon Rey sekarang. Sedang kan maling itu sudah masuk pekarangan dan di depan rumah.
Tanpa pikir panjang, ku ambil panci saucepan di dapur. Dan melangkah pelan ke ruang depan.
Hah, bagaimana bisa maling itu sudah masuk ke rumah. Heum, memang kamu maling pandai sekali. Oke, aku lebih pandai. Buru-buru ku hampiri dan ku pukul nya keras-keras dengan panci.
"Mati kamu maling, mati mati matiii." ujar ku terus memukul nya dan sampai sosok itu terjatuh tersungkur ke lantai
"Aaaaw awww kenapa ni?" sahut sosok itu kesakitan
"What???" sahut ku dan cepat berhenti memukul nya
Mata ku terbelalak melihat dan hanya bisa menulan ludah.
"Aduh, mati aku." bicara ku sendiri
Sosok itu berdiri dan melangkah duduk di sofa dekat nya berdiri.
"Kak, kakak tidak apa-apa?" tanya ku khawatir dan ketakutan duduk di depan nya melihat kepala nya yang ku pukul
Rey masih meringis kesakitan, karna panci yang mengenai kepala nya.
Disaat keadaan seperti itu Rey masih mampu tersenyum dan membuat canda.
(Aduuh ada nggak ya suami yang kek gitu di saat di tuduh istri nya maling dan di pukul-pukul lagi masih mampu bertutur kata baik terhadap istri nya. Hehe, iya sebagian sih ada, semoga salah satu nya adalah suami kita. Aamiin.
Tapi, ada juga yang anak nangis dengan sendiri nya malah si suami nyalahin kita ya mak.
Eits, jangan mikir aneh-aneh loh emak-emak, walau bagaimana pun dia tetap suami kita, hehe, semangat. Yuk lanjut baca lagi 😊)
"Kenapa kakak pulang tidak bilang-bilang? Rani pikir tadi maling." sahut ku ketus dan kesal
"Hey, berkali-kali kakak nelpon, kemana saja Rani?" sahut Rey mulai kesal
"Oh, sorry. Rani dari tadi di dapur dan handphone di kamar." sahut ku menyipitkan mata
"Kepala nya yang sakit?" tanya ku khawatir
"Bukan." sahut Rey cepat
"Lalu?" tanya ku polos
"Iya kepala lah, dimana Rani pukul tadi?" sahut Rey mulai kesal
"Yaaa, di kepala." sahut ku khawatir
"Ya, kepala. Obati sekarang" pinta Rey aneh
"Obati. Tapi tidak ada luka." sahut ku polos melongo melihat
"Yang penting obati, apa kek." sahut Rey mulai mengada-ngada
"Obati??" tanya ku lagi merasa aneh
"Ya, cepat." sahut Rey tegas
Obati. Mana nya yang harus ku obati ini. Oh Tuan Muda Rey plisss tolong jangan mengada-ngada.
"Sudah." sahut ku pelan setelah menyentuh kepala nya itu dengan tangan dan meniup nya dengan mulut ku pelan-pelan ke kepala nya yang terasa sakit
"Sudah??" tanya nya kembali mengernyit kan dahi
"Iya." sahut ku polos menatap nya
"Apakah begitu cara nya?" tanya Rey meyakinkan
"Yah, memang begitu, lagi pun tidak terluka." sahut ku menjelaskan
"Salah." sahut nya ketus
"What? salaaaaaah..." ujar ku membelalak kan mata ke arah nya
"Heum, salah." sahut nya kembali
"Oke, sekarang kata kan bagaimana yang benar." ujar ku kesal
"Sini, mendekat." ujar Rey tersenyum
Aku mendekat kan wajah ku mendekati nya mengikuti arahan nya itu.
"Lebih dekat." pinta Rey masih tersenyum polos
"Mau ngapain?" tanya ku cepat
"Bukan kah Rani tanya tadi bagaimana cara mengobati yang benar, akan kakak ajari sekarang." sahut Rey masih tersenyum
"Oke. Awas kalau macam-macam" sahut ku kesal
"Paling juga semacam saja" ujar Rey masih tersenyum
Tatapan kami beradu dan Rey mulai mendekatkan wajah nya lebih mendekat lagi. Secepat kilat tanpa ku sadari Rey telah menyentuh lembut bibir ku. Pelan dan sentuhan yang begitu halus.
BERSAMBUNG...