My Brother Is My Husband

My Brother Is My Husband
Pagi yang Indah



***


Matahari sudah terbit dan cahaya nya masuk ke kamar Rey lewat sela-sela gorden yang melayang-layang di hembus angin pagi.


Dua insan yang masih tertidur sangat nyenyak dikamar ini. Dengan masih berpelukan, Rania tertidur di atas lengan kanan Rey dan tangan kanan rani memeluk pinggang Rey, begitu pun dengan kedua tangan Rey yang masih memeluk Rani.


Rey terbangun dan membuka mata nya. Melihat Rani disamping nya yang masih tertidur nyenyak. Dan Rey membayangkan kejadian tadi malam setelah itu dia tersenyum.


Rey tak membangun kan Rani, dia elus-elus kepala Rani dengan tangan kanan nya, sambil sesekali tangan kiri nya memegang bibir tipis Rani. Ini akan sangat indah dan menyenangkan kalau setiap hari bangun tidur melihat penampakan seperti ini, gumam Rey dalam hati sambil tertawa.


Tiba-tiba Rani pun terbangun dan membuka mata nya. Dia terlihat kaget karna Rey bersama nya. Rani terus duduk dan kembali dia memikirkan hal yang terjadi tadi malam. Aduh sungguh sangat memalukan, sambil Rani menutup wajah nya dengan kedua tangan tanpa berbicara sepatah kata pun ke kakak nya, Rey.


"Selamat Pagi Tuan Putri" ucap Rey menggombal.


Aku tak menjawab, masih saja menutup wajah ku dengan tangan. Tiba-tiba Kak Rey bangun dan duduk terus memeluk ku lagi dari belakang, dengan dagu nya menempel di bahu kiri ku dan bibir nya sesekali menyentuh kulit leher ku. Entah kenapa kancing atas baju ku pun sekarang terlihat terbuka, apakah Kak Rey yang membuka kan nya semalam atau pun terbuka dengan sendiri nya karna Kak Rey semenjak semalam terus menyentuh-nyentuh bibir nya ke leher ku.


Aku hanya menggeliat melihat tingkah kakak seperti ini.


"Apakah tidur nya nyenyak?" tanya Rey meyakinkan.


"Tidak juga" jawab ku seada nya yang padahal aku sangat nyenyak tertidur tadi malam, hehe...


"Owh, benar kah?" tanya Rey sambil tersenyum, karna tahu aku menjawab bohong.


"Euum" jawab ku singkat.


Dan kini tangan Rey meraba payudar* ku dan merem*s-rem*s, denga gerakan cepat aku menahan dan menolak memindahkan tangan kakak ke sisi lain.


"Kenapa?" tanya Rey lagi.


Aku tak menjawab. Tapi bibir Kak Rey tetap tidak berpindah-pindah sedari tadi di leher dan bahu kiri ku.


"Bukan kah kakak harus ke kantor hari ini?" tanya ku mengalihkan pembicaraan.


Tangan Kak Rey mulai nakal lagi yang sedari tadi sudah diam pas di pinggang ku kini kembali menaikkan ke atas memegang payudar* ku lagi.


Perlahan aku terhanyut dengan sentuhan nya itu dan kecupan bibir nya di leher ku.


Kembali Rey merem*s-rem*s lagi payudar* ku dan membuat ku tersentak kaget sampai ke ujung ubun-ubun.


"Eeeemmhssst..." Tiba-tiba mulut ku mengeluarkan desahan nikmat.


Ya ampun, ini sungguh memalukan. gumam ku dalam hati yang kembali tersadar atas apa yang aku lakukan.


Kembali aku memindahkan tangan Rey ke sisi lain dan berharap Rey tak menyentuh nya lagi.


Kali ini Rey menurut, mungkin paham aku tidak ingin melakukan nya terlalu jauh. Apalagi kami yang berstatus Keluarga dan adik-beradik.


"Maafkan kakak, kakak ceroboh Rani" Rey memulai pembicaraan dan merasa menyesal atas apa yang sudah dilakukan nya terhadap Adik nya Rani.


Tapi jujur jauh di lubuk hati yang paling dalam, Rey tidak rela kalau Rani jadi pendamping atau istri mana-mana lelaki, hanya dia saja yang boleh menyentuh dan mendapatkan Adik nya ini.


Aku tak menjawab, terus keluar dari kamar Rey. Kembali terpikir kan di pikiran ku kata-kata ny, mungkin kah yang di katakan Rey di rumah Nenek kalau Kak Rey ingin menikahi ku. Tapi Rey tak pernah meluah kan perasaan nya terhadap Rani.


Dan aku tahu kita bukan sekandung. Nenek sudah pernah menceritakan nya dulu ke aku jauh sebelum Rey mengetahui nya.


Tapi, aku tidak pernah tahu isi hati kakak untuk ku bagaimana. Andai saja aku tahu.


Apakah perasaan Rey juga sama seperti yang aku rasakan dan pendam bertahun-tahun lama nya dan menanggung nya sendirian.


Aku tak bisa melakukan nya terlalu jauh Kak, Maafkan Rani.


BERSAMBUNG...