My Brother Is My Husband

My Brother Is My Husband
Malam yang dingin



***


Aku masih saja duduk tak merebah kan tubuh ku ke tempat tidur. Ku lihat laki-laki di depan ku sekarang.


Dia melepas kan baju terlihat sudah bidang dada berotot dan perut nya yang sixpack itu.


Glek.


Aku menelan ludah. Tak mampu menatap nya terlalu lama lagi dan membuang wajah menatap ke arah lain.


Tapi Rey seperti sengaja berjalan-jalan kesana kemari di depan ku dengan bidang dada yang terbuka. Setelah entah berapa menit dia mondar mandir tak jelas baru pergi untuk mandi.


Huuuft... Aku menghela nafas panjang dan terus merebah kan tubuh ku di tempat tidur sampai mata ku terpenjam dan tertidur lelap.


Aku baru terbangun saat sudah malam sekali dan perut ku sakit, aku sangat lapar, gumam ku dengan tangan memegang perut.


Aku gagal melihat sunset sore tadi karna ketiduran, aku tak bisa mengelak karna tubuh ku sudah sangat lelah.


Aku tak menemukan sosok Rey di kamar. Mungkin dia memang keluar sendiri tadi melihat sunset.


Ah, sungguh bodoh sekali kalau pergi melihat sunset sendirian. Aku tertawa cekikikan membayangkan nya.


Tiba-tiba pintu kamar hotel terbuka dan itu Rey. Iya, Rey sudah pulang yang entah keluyuran kemana.


"Ini, ambil lah dan pergi mandi, setelah itu kita makan" ucap Rey dan memberiku paperbag yang berisikan baju dan pakaian dalam untuk ku.


Aku mengambil dan sekilas membuka melihat.


What.!!!


Kenapa dia tahu ukuran br* ku, kenapa pula dia harus membelikan ini. Sungguh memalukan sekali.


"Betul kan ukuran nya yang itu?" tanya Rey lagi merasa tak berdosa sama sekali.


Aku hanya tersenyum yang ku buat-buat dan menjejerkan gigi ku rapi ke arah nya.


Sial, kamu membuat ku sangat malu sekali sekarang. Aku terus pergi mandi, pikiran ku terus membayangkan bagaimana dia bisa tahu ukuran yang ku pakai.


Ah, aku tak mau terlalu jauh memikirkan nya, semakin pikiran ini memikirkan tentang nya semakin mudah nanti aku terperangkap dengan cinta nya lagi.


Ya Tuhan.


Kenapa dia membelikan Dress yang seperti ini. Dada dan bahu terbuka. Bagaimana aku akan memakai Dress off shoulder ini di malam yang dingin seperti ini dengan memamerkan bahu dan leher ku sampai ke buah dada. Memang laki-laki kalau membeli sesuatu tak pernah berpikir panjang, gumam ku kesal.


Rey duduk di tempat tidur memegang gadget milik nya. Sesekali menatap ke arah ku yang sedang berpoles di depan cermin.


Aku yang tengah sibuk tak memperdulikan nya, terus memakai kan syal dileher ku, agar tidak begitu terlihat leher ku yang jenjang ini, karna memakai dress yang di belikan Rey tadi.


Deg.


Dia sudah terlihat di cermin pas di belakang ku yang sedang berias.


Aku bisa apa, Rey terus memeluk ku dan menenggelam kan wajah nya ke leher kanan ku.


Aku memberontak melawan dan melepas pelukan nya di bawah dada ku tapi cengkraman nya sangat kuat membuat ku kuwalahan melawan nya.


Semakin Rey membuat ku tak berdaya dengan sentuhan bibir nya yang lembut di leher ku dan sesekali sentuhan nya mengenai telinga ku.


"Ini hukuman nya sayang." ucap Rey lirih di telinga ku.


Hukuman apa, aku telah membuat nya kenapa. Oh sungguh lelaki aneh.


"Ini hukuman karna Rani selalu menjauhkan diri dari kakak." lanjut Rey bicara pelan di telinga ku.


Rey masih belum melepaskan pelukan nya. Bibir nya masih terus bermain-main di bahu ku mengecup nya.


Aku berusaha kembali memberontak, memang sungguh sangat terlalu kuat sekali dia memeluk ku.


"Kak... lepaskan lah." pinta membentak sedikit keras.


"Tidak." jawab Rey lancang dan terus melumat telinga ku dengan mulut nya. Membuat ku mendesah panjang dengan dada yang naik turun.


Kenapa begitu nikmat sekali, gumam ku dalam hati. Kini pikiran ku kosong tak memikirkan apa-apa lagi, hanya menikmati setiap yang dilakukan Rey.


Rey membalik kan tubuh ku dan menyandar kan nya ke dinding. Kini tubuh kami berhadapan dengan mata yang saling menatap sangat dalam.


Rey mengangkat dagu ku dan mencium nya pelan, kemudian melepas memberikan ku ruang untuk bernafas sebentar, yang seolah mengatakan tarik nafas lah dalam-dalam sekarang aku akan melumat habis bibir mu sampai kau tak mampu bernafas lagi. Hah, sungguh.


Rey kembali melanjutkan mencium ku sangat pelan, tangan nya sudah meraba-raba menyentuh tubuh ku.


Entah sudah berapa puluhan menit aktivitas yang kami lakukan ini. Rey melepas bibir nya dan menatap ku sangat dalam. Aku tak mampu menatap nya balik, wajah ku tertunduk.


Rey menyibak rambut ku ke belakang telinga dan mengangkat dagu ku pelan. Yah... tatapan kami bertemu sekarang.


"Sayang, kenapa menghukum kakak seperti ini?" tanya Rey dengan suara sangat pelan.


Aku tak menjawab hanya menatap mata nya saja.


"Sekarang katakan kalau Rani memang benar-benar tidak mencintai kakak?" Ucap Rey lagi yang membuat sekujur tubuh ku lemah.


Aku tak mampu mengatakan itu, jauh di dalam hati ku masih tersimpan rasa untuk nya. Gumam ku dalam hati dan menunduk kan kembali kepala ku.


Rey kembali mengangkat wajah ku pelan dengan memegang di dagu ku.


Tatapan kami bertemu lagi. Mata Rey seperti akan menangis dan menjatuhkan air mata. Rey tertunduk dan memenjamkan mata sebentar setelah itu kembali menatap ku.


"Kenapa Rani diam, jawab sekarang, katakan kalau Rani sama sekali tidak pernah mencintai kakak" ucap Rey lagi suara nya sudah meninggi.


Aku masih tak mampu menjawab, kembali tertunduk. Rey terlihat sudah sangat kesal dan geram.


Brraaaakkk.


Rey memukul dinding yang di belakang ku pas di sisi kiri ku.


Wajahku terangkat secara refleks melihat ke arah Rey dan tangan nya itu.


Aku menutup mulut ku dan tak mampu melihat darah yang di tangan nya itu.


Aku masih membisu, kini membantu dan mengangkat tangan nya yang terluka itu tapi Rey menepis.


"Kakak sudah tahu jawaban nya." ucap Rey lagi dan melangkah akan pergi keluar dari kamar hotel itu.


Aku menatap nya sangat menyesal, ini semua karna kesalahan yang ku buat membuat Rey seperti ini.


"Kak, Rani............ " belum habis ku melanjutkan perkataan ku Rey cepat-cepat membalikkan tubuh nya menatap ku lagi.


BERSAMBUNG...