My Brother Is My Husband

My Brother Is My Husband
Kepulangan Rey



***


Pagi yang cerah, terlihat matahari berdiri tegak dan memancarkan sinarnya lewat jendela kaca kamar tepat di wajah Rania yang masih tertidur pulas, badan mungilnya yang masih tertutupi selimut.


Ah, aku hanya ingin bermalas-malas saja hari ini. Disini sangat-sangat membosankan dan tidak ada sesuatu hal yang bisa di kerjakan.


Ditariknya selimut untuk melanjutkan tidur. Rania berharap akan melanjutkan mimpi yang indah lagi.


Teriakan Bik Sum di luar membuat aku terbangun kaget dan cepat-cepat turun kebawah dengan wajah yang belum ku basuh air sama sekali.


*Maafkan aku yang berdosa ini, aku lagi menstruas* jadi aku lagi cuti untuk sholat subuh dan itu menjadi alasan terkuat untuk aku bermalas-malasan bangun pagi ini, hehe...*


“Bik Sum kenapa?” teriak ku dari kejauhan dan lari yang setengah ngos-ngosan karna turun dari tangga.


“Tuuuu... Tuan Muda sudah sampai” jawab Bik Sum kegirangan.


Tuan Muda.


Iya, Tuan Muda Rey.


Aku menepuk jidat ku sendiri.


"Aw sakit." keluh ku sendiri


Owh ya ampun. Masalahnya apa ini, atau aku yang lupa kalau Bik Sum memang orang nya yang super sibuk dan super heboh sedunia kalau ada yang membuat hati dia riang, tapi tidak perlu teriak-teriak juga kali, dan sekeras itu. Mengganggu tidur ku saja. Pikir ku kesal.


"Ih, Bibik sengaja lah membangun kan ku yang sedang tidur." Sahut ku menyentil pinggang Bik Sum dengan tangan ku.


"Hehe... Maaf lah Non Nia." Ucap Bik Sum sedikit tertawa.


Aku yang melihat penampilan sendiri masih acak-acakan. Secepat kilat kabur naik kembali ke kamar yang di lantai atas.


Yes, aku akan pergi mandi dulu.


Mana mungkin aku berjumpa Tuan Muda Rey dengan piyama tidur seperti ini, pasti Rey akan mengatakan aku masih sangat kekanak-kanakan. Ih, itu sungguh memalukan sekali.


"Untung Tuan Muda Rey tidak melihat tadi, karna masih dipintu gerbang depan" Bicara ku sendiri dengan dada yang masih naik turun bernafas.


Aku menghembus nafas kasar.


Selesai mandi, aku berpakaian dengan baju seperti biasa.


Dengan penampilan ku yang masih kekanak-kanakan.


Rania yang mempunya jenis kulit putih bersih kekuning langsat, mata bulat berbinar kecoklatan, bibir tipis merah merekah.


Bagi diri nya cukup dengan polesan bedak saja sedikit tanpa lipstik itu akan terlihat dia nampak natural dan sempurna. It's perfects.


Bergegas Nia turun kebawah dan menemui mama, papa dan tuan muda pastinya. Siapa lagi tuan muda itu ya kan kalau bukan Rey, Kakak Rania sendiri.


**


Terlihat dari kejauhan Rey sudah tersenyum lebar.


Menerka-nerka siapa gadis yang datang menghampiri mereka yang sedang duduk berbincang di ruangan itu. Mata Rey tertuju pada mama dan papa harap-harap memberitahu siapa gadis belia itu yang semakin dekat datang menghampiri.


“Salam Kakak.” Sapa ku tersenyum sambil mendekat dan menyalami tangan Rey


Rey tersenyum sangat manis.


Owh ya ampun.


Benarkah ini Rey, kakak ku. Penampilan nya sangat keren. Dulu terlihat begitu cool dan jaim. Ah, sekarang begitu tampan, tinggi semampai, lengan berotot, bidang dadanya itu yang terlihat sixpacks, dengan kulit putih kuning dan hidungnya yang masih seperti dulu sangat indah dipandang mata, rambutnya yang sekarang aduhai, di tambah sedikit bulu-bulu di sisi pipi kiri dan kanan bak seorang *a*rtis turki.


Aku memikirkan apa sih.


Toh bagaimana pun dia Kakak ku.


"Pa, ma, ini benaran Rani kan?" Tanya Rey tersenyum seraya menunjuk ke arah Rania adik nya, untuk membenarkan kalau yang di depannya sekarang benar-benar Rania.


Rey dari kecil memanggilku dengan nama Rani. Entah, aku juga tidak tahu dan tak begitu paham kenapa dia suka memanggilkan ku dengan nama Rani.


Aku yang tadinya berdiri langsung duduk di dekat mama dan memegang tangan mama erat.


Rey terlihat tidak percaya gadis yang dulu suka menangis, manja dan kekanak-kanakkan sekarang menjadi seorang gadis belia nan dewasa, padahal hanya beberapa tahun dia meninggalkan kota kelahiran nya itu.


Rey menatap Rani tak memindah-mindah kan pandangan nya. Semakin lama Rey menatap dalam mata Rania, Rey merasa seakan teduh dan tenang.


Rania mengeliat tidak paham atas sikap dan tatapan Rey terhadap nya itu.


Perbincangan dan perbualan di antara keluarga ini pun berlanjut penuh dengan canda, tawa dan bahagia, seperti biasa disaat satu keluarga sudah berkumpul, sama seperti keluarga lainnya, menceritakan apa yang mereka ingin curahkan.


Ruang keluarga yang dulunya membisu hanya suara dentingan jam, kini sudah mulai hidup kembali dengan kehadiran nya anak-anak manusia ini.


BERSAMBUNG...