My Brother Is My Husband

My Brother Is My Husband
Aku Jatuh Cinta.!!



***


Rey sudah berusaha memenjam kan mata, tapi bayangan Rania dan suara manja nya masih terbayang manis di pelupuk mata dan telinga nya. Dia sangat manis. Semakin terlihat dewasa dan anggun.


**


"Pia, cancel semua pertemuan saya hari ini"


"Tapi, kenapa Tuan?, anda sakit?" tanya pia sekretaris nya di kantor di seberang telepon sana


"Jangan bertanya, alihkan semua nya saja"


"Iya, saya lagi kurang sehat hari ini" lanjut Rey menipu


Rey yang biasa nya sangat di siplin dan rajin dalam bekerja, hari ini dia tidak pergi bekerja. Alasan nya, Rani. Ya,ya. Pucuk di cinta, hehe.


**


"Pa,ma, Nia hari ini akan pulang ke desa menjenguk Nenek ya." ucap ku membuka pembicaraan di sela sarapan


"Heyyy... baru juga semalam sampai" sahut Rey tiba-tiba


"Nia sudah lama tak bertemu dengan nenek, boleh ya pa, ma" pinta ku lagi.


Papa hanya mengangguk


Mengangguk, berarti jawaban nya Ya.


"Baik, biar kakak yang mengantar nanti" lanjut Rey


"Tapi kakak bukan nya harus bekerja?" tanya ku memastikan


"Tidak boleh kah kakak bercuti beberapa hari saja, lagi pun kakak sudah lama tidak menjenguk nenek"


Aku sudah selesai bersiap-siap memasuk kan baju dan segala sesuatu perlengkapan ke dalam koper.


Aku keluar dari kamar hendak akan ke dapur untuk mengambil air, tapi langkah ku tertahan.


Pintu kamar Rey terbuka terlihat dia pun sama sedang memasuk kan baju ke dalam koper milik nya.


Aku mengetuk pintu kamar dan terus masuk, langsung duduk di sisi tempat tidur.


"Rani sudah siap kak" ucap ku yang menyebut diri ku sendiri dengan sebutan Rani, membuat Rey menatap terheran


Lah, kenapa menatap seperti itu, bukan nya kakak selama ini memanggil ku dengan nama Rani, pikir ku.


Aku mengambil baju yang sudah tersusun di tempat tidur itu dan membantu memasuk kan baju Rey ke dalam koper.


Rey tak menahan, sambil sesekali tatapan kami bertemu.


Rey teringin menggigit bibir kecil yang merah itu tapi dia tak berani, takut Rani akan marah dan memaki nya. Karna jelas-jelas yang di pikir Rani mereka sekandung, pikir Rey.


***


Hari sudah semakin gelap. mereka masih belum sampai ke rumah nenek.


Terlihat Rania sudah menguap-nguap menutup mulut nya dengan tangan.


"Eeuumm gak apa-apa kak"


Sebetul nya aku memang sudah tidak bisa menahan rasa kantuk yang sangat mendalam


"Sini tidur... " Lanjut Rey menawarkan bahu sebelah kiri nya


Aku hanya tersenyum, dan membuang tatapan ke arah luar jendela.


Di ujung sana, sudah terlihat rumah Nenek. Senang nya tak tahu bagaimana, rumah yang dulu aku tinggali dan tempati dari sejak kecil bersama-sama dengan nenek.


Aku sangat rindu rumah ini, dan juga nenek.


Terlihat wajah nenek yang sudah semakin menua. Aku mencium tangan nya dan kedua pipi nya kiri dan kanan, memeluk dan sangat-sangat lama aku melepaskan pelukan nya itu.


Setelah berjumpa dengan Nenek, rasa kantuk ku seketika hilang. Tak menunggu besok, kami bercerita banyak dengan Nenek, yang sudah lama tidak bertemu.


**


Seperti nya kakak masih tertidur karna kecapean mengemudi kemarin malam, pikir ku.


Aku bergegas menuju ke dapur membantu Nenek memasak.


"Nek... Nenek tidak bosan sendirian di sini" tanya ku membuka pembicaraan


"Bosan, karna tidak ada Nia bersama dengan Nenek seperti dulu, hehe" terlihat Nenek bercanda


"Kalau Nia sudah menikah nanti, Nenek mau tinggal bersama dengan Nia?" tanya ku sedikit mengagetkan Nenek.


"Menikah???" tanya Nenek lagi seperti kebingungan dengan yang ku katakan baru saja


"Iyaa" jawab ku singkat sembari tangan masih dengan memotong-motong wortel


"Memang nya Nia sudah punya calon?" tanya Nenek lagi menggoda


"Sudah, hehehe" jawab ku sambil sesekali tertawa


Terlihat Rey yang sedari tadi berdiri mematung di sudut pintu ruangan menuju ke dapur. Rey mendengar semua perbincangan antara Rani dan Nenek tadi.


Siapa laki-laki yang di cintai Rani, pikir nya. Pasti nya bukan dia, pikir Rey lagi. Karna sepengetahuan Rey, Rani belum tahu semua kisah silam dan perjodohan di antara mereka berdua.


"Rey... kenapa di situ, kemari lah sarapan dulu" sahut Nenek mengagetkan lamunan Rey


"Iiii.... Iya Nek, baik" sahut Rey dan terus berjalan ke arah meja makan dan duduk


Berkali-kali Rey menatap ke arah Rania, seperti nya Rania tak acuh.


Rani menuangkan nasi ke piring Nenek dan piring nya Rey. Mereka sarapan bersama.


Terlihat Rania begitu santai saja, pikir Rey. Tak tahu bagaimana hati Rey saat itu, yang sudah berkecamuk marah dan geram. Tak rela melihat Adik nya Rani jikalau harus menikah dan menjadi istri orang lain, pikir Rey.


Rey harus ambil tindakan sekarang, menyuruh papa dengan mama cepat bertindak mencerita kan semua nya perihal kisah silam dan perjodohan di antara mereka berdua.


BERSAMBUNG...