
***
"Kak bangun lah cepat. Kenapa kakak tidak bilang terlebih dulu ke Rani kalau kakak mempekerja kan pembantu di rumah. Rani pun bisa mengerjakan tugas rumah, kenapa harus mencari pembantu sih. Kaaaak." rengek Rani menggoyang kan tubuh Rey yang masih tertidur.
"Apa sih sayang. Kakak masih ngantuk kali." sahut Rey manja di balik selimut.
"Banguuuuun." suara Rani meninggi.
Rey membuka mata dan tersenyum menyipitkan mata. Menarik tangan istri nya yang sedari tadi begitu cerewet. Tubuh Rani terjatuh terkulai di peluk Rey.
"Sayang tidak capek, sepagi ini terlalu banyak berbicara." canda Rey tertawa.
Rani tak menjawab hanya menatap Rey kesal. Berkali-kali kecupan melayang di pipi Rani, Rani sudah tak mampu menghitung, Rey terlalu bersemangat melakukan nya.
***
"Udah rapi aja, kakak mau kemana?" sapa Rani melihat Rey turun dari tangga atas rumah mereka.
"Kakak harus keluar sebentar, ada masalah penting di kantor yang harus di selesaikan hari ini juga." tegas Rey
"Baik lah kak, hati-hati di jalan." sahut Rani dan Rey berlalu pergi setelah mengecup di kening Rani.
"Huuuufft baru kemarin pindah suami kembali di sibuk kan dengan pekerjaan, di rumah begitu membosankan." ujar Rani kembali mengernyitkan dahi dan berlalu masuk kembali ke rumah.
***
Waktu terus berlalu, Rania menunggu kepulangan suami tersayang memenuhi makan malam bersama seperti biasanya. Setelah beberapa jam menunggu Rey tak kunjung pulang dan handphone nya tidak bisa di hubungi. Terlihat gelisah yang begitu mencekam di wajah Rani, menanti suami tak kunjung sampai.
Kring.. Kriing.. Kriing.. (telepon rumah berdering)
Buru-buru Rani berlari ke arah suara telepon rumah nya, sebelum Bik Ati sempat mengangkat telepon tersebut.
"Halo... Benar ini dengan istri nya Bapak Reynand." ujar seorang lelaki di seberang telepon.
"Iya benar." sahut Rani sudah mulai tak karuan.
"Kami dari pihak Rumah Sakit.................(menjelaskan bahwa terjadi kecelakaan di..)
Sekujur tubuh Rani seperti di sambar petir, Rani terpaku dan terjatuh lemah tak berdaya. Bik Ati pun yang melihat terkejut dan mendekati Rani sembari menolong nya.
***
Di Rumah Sakit, di depan ruang Operasi Rani tak melepas pelukan nya memeluk Mama, menangis sesunggukan tak berhenti.
"Sayang..." sapa Nenek yang baru sampai di sana.
"Neeek..." Rani memeluk Nenek tak melepas pelukan nya.
"Neekk, Kakak Neek, Kakakkkkk.." hanya itu yang keluar dari mulut Rani.
"Sabar sayang, sabaaar, kita do'akan semoga operasi nya lancar." ujar Nenek mengelus rambut Rani pelan.
***
Ini hari pertama setelah Rey melakukan Operasi. Kondisi nya masih belum sadarkan diri di ruang ICU.
Rani tak berpindah selalu berada di dekat suami nya, Rey. Berusaha menjadi wanita kuat.
"Nek, Rani...." ujar Rani melihat Rey yang terbaring kaku di depan nya itu.
"Rani, kita pulang dulu nanti kita balik lagi ya sayang. Rani tidak mau kan nanti saat Rey bangun dengan keadaan dan pakaian seperti ini." ujar Mama meyakinkan Rani.
"Ya Ma, kita pulang." sahut Rani berusaha tersenyum tipis dengan tatapan yang masih di penuhi air mata.
Terlihat tangan Rey sedikit bergetar dan bergerak, mata perlahan terbuka sedikit demi sedikit.
"Kakak.." ujar Rani melihat Rey yang perlahan membuka mata nya.
"Seseorang panggil Dokter" ........
"Dokter, Dokter.... " ( Papa Rey keluar memanggil Dokter)
"Ini dimana?" tanya Rey menatap seisi ruangan tersebut.
"Kamu tidak ingat apa yang terjadi?" tanya Nenek sangat serius.
Rey sedikit menggelengkan kepala nya.
"Kenapa Rey di sini, bukankah Rey baru pulang dari New York?" tanya Rey perlahan.
"New York???" ujar Rani ternganga dan berpikir keras.
"Dok.. apa yang sebenarnya terjadi dokter?" tanya Rani serius penuh harap.
"Semua nya silahkan tunggu di luar sebentar." pinta Dokter yang menangani Rey.
***
"Maa.. apa maksud ini semua Ma??" tanya Rani tak henti-henti nya menangis.
"Sabar sayang, sabar. Kita tunggu penjelasan dari Dokter." ujar Mama menenangkan Rani.
Terlihat dari jauh Papa dengan Dokter berbincang serius dan terus berjalan ke arah kami.
"Apa yang sebenarnya terjadi Dok?" tanya Rani tak sabaran.
"Saya khawatir bahwa kabar yang akan saya sampaikan ini adalah kabar yang kurang baik." Ujar Dokter sangat berhati-hati melihat raut wajah mereka.
"Apa itu Dok?" tanya Rani tegang.
"Saya tahu bahwa hasil ini adalah hasil yang tidak kita harapkan... " ucap Dokter penuh penyesalan.
"Maksud Dokter??"
"Iya, Rey terkena benturan di kepala nya yang membuat dia lupa ingatan, atau di sebut dengan Amnesia." Ujar Dokter menjelaskan.
"Apaa?? Amnesia." kembali Rani terduduk dan menangis.
"Jangan khawatir, kehilangan ingatan yang terjadi pada kondisi ini biasanya bersifat ringan dan sementara. Saat mengalami amnesia ini, penderita akan merasa bingung atau gelisah yang hilang timbul dan berulang. Kami akan berusaha melakukan yang terbaik." ujar Dokter memberi semangat.
BERSAMBUNG...