
***
Rey menatap tubuh Dian begitu lama tak berkedip. Melihat setiap sudut, sungguh Dian sudah terlihat begitu kurus.
"Rey, aku minta maaf." pinta Dian lembut.
"Kamu sedang ada masalah?" tanya Rey.
Rey tak menjawab permintaan maaf Dian sama sekali.
"Sebenarnya aku tahu siapa pelaku di sebalik yang memalsukan produk itu Rey." ucap Dian sangat pelan.
"Kau tahu, kenapa kau tak memberitahu ku." sahut Rey sedikit kesal.
"Aku tahu, tatapan mu itu tadi di tempat kerja, tatapan mu menuduh ku yang melakukan nya Rey. Aku tidak berani mengatakan yang sebenar nya Rey" ucap Dian tertunduk
"Tiga orang laki-laki yang mengejar ku itu suruhan lelaki itu, untuk menangkap ku. Karna aku tahu yang mereka lakukan." ucap Dian masih dengan kepala tertunduk merasa bersalah.
"Mereka takut, aku akan memberitahu mu yang sebenar nya." tambah Dian menceritakan
"Kenapa kau baru memberitahu ku sekarang." sahut Rey semakin kesal.
"Aku tahu, kamu tidak akan mempercayai ku lagi Rey. Maafkan aku Rey." pinta Dian dan terlihat air mata nya terjatuh.
"Aku tidak tahu tempat aku bekerja itu perusahaan kamu Rey. Karna aku sangat membutuhkan pekerjaan pada saat itu. Keluarga kami sudah bangkrut, papa terkena serangan jantung pada saat itu dan meninggal. Berselang beberapa tahun sepeninggal nya papa, mama meninggal karna sakit-sakitan memikir kan hutang yang di tinggalkan papa begitu banyak. Aku kembali kemari dan tinggal dirumah peninggalan Oma ku sekarang." Bicara Dian yang masih menangis dan sesekali mengusap air mata nya.
"Maafkan aku yang pergi tanpa berpamit kepada mu. Karna masalah yang ku hadapi masa itu." Lanjut Dian menjelaskan di sela tangis nya.
Rey tak menjawab sama sekali. Mendengar jeli setiap sisi yang di ceritakan Dian kepada nya itu.
"Kau tinggal sendiri sekarang?"
"Ya Rey. " sahut Dian pelan
"Kau terlihat sangat lelah, beristirahat lah. Aku akan menjaga mu di luar. Dan besok aku akan mengantar mu pulang" ucap Rey merasa simpati atas apa yang sudah terjadi dengan Dian.
Rey melangkah keluar dari ruangan itu.
"Rey, kau pulang lah sekarang. Aku tidak apa-apa sendirian." pinta Dian
Rey tak menjawab. Terus melangkah keluar. Rey benar-benar menjaga dan menunggu nya sampai pagi.
Maaf kan kakak Rani. Malam ini kakak tak bisa pulang. Gumam Rey dalam hati menatap foto mereka berdua di layar handphone nya itu.
**
Sungguh pagi yang sangat cerah. Setelah beberapa hari matahari enggan menampak sinar cemerlang nya itu.
Rani seperti biasa bersiap-siap akan berangkat pergi bekerja.
Ehm, mama dengan papa hari ini akan pulang. Dan rumah ini tidak akan sesunyi ini lagi. Sedikit membuat hati ku senang.
"Bik, kakak sudah berangkat bekerja sepagi ini?" tanya ku karna tak melihat batang hidung Rey sedari tadi
Tidak pulang.
Tidak mungkin Rey akan menginap di rumah nya yang di Pondok itu. Kemana dia pergi dan kakak bukan tipe orang yang suka menginap di tempat orang lain.
Aku mengambil handphone menghubungi Rey. Tidak bisa di hubungi. Sial. Aku mulai khawatir.
Aku menghubungi Rey berkali-kali tapi sama sekali tidak bisa.
Fandi. Yah, Fandi.
"Fandi, kau sedang dengan Kak Rey sekarang?" tanya ku dengan suara khawatir
"Tidak, bukan kah dia sudah balik semalam setelah bertemu dengan ku." sahut Fandi di seberang telepon
Terdengar suara mobil memasuki halaman depan rumah. Cepat aku beranjak bangun dan melihat. Iyah, Rey.
"Fandi, sudah dulu." Sahut ku tiba-tiba menutup bicara nya dengan Fandi
**
"Kakak dari mana?" tanya ku melihat dan memegang setiap sisi tubuh Rey
Rey tersenyum, melihat tingkah ku yang sangat khawatir.
"Kenapa kakak baru pulang?" tanya ku lagi masih khawatir
Rey masih tak menjawab, terus memeluk ku pelan dan mencium di kepala ku. Kenapa bau parfum Rey sangat berbeda kali ini. Berkali-kali Rani memastikan mencium nya. Yah, sangat berbeda dengan bau parfum yang biasa di pakai nya sehari-hari. Ini semacam parfum wanita, aku seperti pernah mencium bau ini, tapi dimana.
Rani mendorong kuat tubuh Rey melepas pelukan nya.
"Sekarang kakak katakan dengan jujur, kakak dari mana?" tanya ku mulai cemburu
"Kenapa ada bau parfum perempuan di baju kakak?" tanya ku lagi sudah mulai kesal
"Sayang, nanti kakak cerita kan. Beri kakak waktu dulu untuk mandi dan ganti baju. Nanti kakak cerita kan. Oke." sahut Rey dan hendak beranjak masuk
"No." sahut ku sudah tak bisa menahan kecemburuan yang entah bagaimana, dengan mata yang sudah berkaca-kaca
"Sayang, percaya lah." ucap Rey dengan tatapan penuh kasih sayang dan kembali memeluk ku
Rani sudah tak bisa membendung air mata nya. Hanya mampu menangis sejadi-jadi nya di pelukan Rey.
Oke. Aku duduk menunggu nya bersiap-siap dan mengantar ku pergi bekerja. Berharap mendengar apa yang akan di ceritakan Rey nanti.
**BERSAMBUNG...
Harap-harap apa ya yang akan di ceritakan Rey ke Rania. Aduh... Author semakin bingung ni, hehe
Bagaimana dengan pendapat pembaca setia ku??
💛💛💛**