
***
Aku sudah tidak menghitung nya berapa menit aku hanya berdiri di kamar mandi dan tergesa-gesa tidak menemukan ide sama sekali mengelak dari keinginan Rey malam ini.
Kembali aku keluar dari kamar mandi. Rey masih di atas tempat tidur, kini tubuh nya terduduk merebahkan nya bersandar di bantal.
"Lama nya di kamar mandi. Sayang Oke?" tanya Rey menatap khawatir
"Ooo.. oke" sahut ku pelan dan tersenyum
Kenapa aku begitu gugup sekarang. Rey pun tak berhenti memandang ku dan menatap setiap gerak-gerik yang ku lakukan.
Sebelum aku beranjak merebahkan diri ke atas tempat tidur kembali. Aku mengambil handphone ku yang terletak di nakas sisi tempat tidur. Aku melihat jam sudah pukul 3 pagi.
Pelan tapi pasti, aku kembali merebahkan tubuh ku di atas tempat tidur dan menutup tubuh ku dengan selimut.
"Sayang, apakah kepala nya masih terasa sakit." tanya Rey begitu khawatir dan peduli
"Sedikit enakan sekarang." sahut ku pelan dan singkat
"Sayang, kenapa ni? setiap kali kakak bertanya sayang hanya jawab itu-itu saja, hehe.." ujar Rey pelan dan melihat ku aneh berbeda dari biasa nya
"Sini tidur di pangkuan kakak" pinta Rey menepuk paha nya sendiri
"Tidak apa-apa, Rani.." sahut ku terpotong
"Sayang, kakak janji tidak akan macam-macam dan tidak akan menyentuh Rani terlalu jauh." sahut Rey sedikit tertawa
Mati aku.
Apakah Rey tahu kalau aku sedang mengelak dari nya sekarang. Aduuuh, aku memenjam kan mata secara tiba-tiba dan tidak ingin melakukan yang di pinta Rey itu.
**
"Good morning sayang." sahut Rey dengan wajah begitu ceria menatap ku
"Morning." sahut ku manja
Cuaca di luar begitu dingin. Lambat laun angin bertiup menghempaskan udara sejuk mengisi seluruh ruang kamar hotel yang kami tempati.
Aku menarik selimut ke atas dan menutup tubuh ku sampai ke leher. Rey memperhatikan setiap gerak-gerik yang ku lakukan hanya tersenyum.
Tiba-tiba Rey memeluk ku erat dan semakin erat. Tubuh ku merasakan kehangatan yang dilakukan nya.
Drekt.
Tiba-tiba saja, tubuh ku terangkat sudah di atas tubuh Rey menindih tubuh nya itu. Membuat ku gelagapan dan tak mampu berucap sama sekali. Mata ku melotot melihat Rey. Tatapan kami beradu dan tatapan Rey begitu serius menatap dan ingin menjamah ku.
Masih dengan tatapan nya menatap ku tak berpindah, pelan tapi pasti Rey membuka kancing baju tidur yang ku kenakan satu persatu hingga ke sisi bawah.
Taph.
Aku menahan tangan nya saat kancing sisi bawah yang terakhir di buka nya itu.
Rey menyentuh lembut tangan ku dan memindahkan ke sisi tepi dan tersenyum sinis melihat ku.
Aku refleks dan beranjak bangun membalikkan badan. Rey kembali menyentuh lembut memeluk ku tak berbicara sepatah kata pun. Membuat suasana semakin dingin dan kaku. Rey kembali berusaha membalikkan tubuh ku menghadap nya.
"Kak, tolong." pinta ku dengan wajah tertunduk
"Kenapa sayang?" sahut Rey sembari bibir sudah menyentuh lembut setiap lekukan leher dan bahu ku
"Kenapa sayang begitu ketakutan sekarang?" tanya Rey pelan dan menghentikan aktivitas nya yang sedang mencium leher ku
Aku tak mampu menjawab sama sekali. Iyah, aku begitu ketakutan saat Rey mendekati ingin melakukan ini, apalagi sampai melakukan terlalu jauh.
Rey tak menunggu jawaban ku dan tak ingin menunggu ku menjawab yang di tanya nya itu. Rey berlanjut melakukan aktivitas nya itu menjamah setiap lekukan tubuh ku.
"Aagh." aku hanya mampu mendesah pelan
Setiap sentuhan dan gerakan yang di buat Rey di setiap sudut tubuh ku, membuat ku tak berdaya sama sekali. Sungguh, aku hanya mampu menikmati nya walau ketakutan yang begitu dalam melanda.
"No." teriak ku keras saat Rey ingin melanjutkan ke hal yang lebih jauh dan jauh jauh jauh lagi.
BERSAMBUNG...