My Brother Is My Husband

My Brother Is My Husband
Bersama keluarga



***


Newyork.


Kelap-kelip lampu kota terlihat jelas, malam yang semakin larut. Jalanan pun semakin sepi terlihat. Tenang dan damai. Sama akan dengan hati nya Rey yang masih kosong sejak beberapa tahun terakhir ini. Yang terlalu sibuk dan fokus dengan pekerjaannya itu, demi mencapai target bisa kembali cepat ke tanah kelahiran nya dalam waktu dekat ini juga.


Sudah terlalu lama bekerja di negara orang, Rey memilih melanjutkan untuk bekerja di perusahaan papa nya di kota kelahiran nya sendiri, karna dia lah anak lelaki satu-satunya penerus perusahaan dan kekayaan orang tuanya.


Rey. Iya... Rey anak konglomerat terpandang di kota kelahiran nya itu, adalah juga seorang Kakak laki-laki dari Rania.


**


Mobil terus menyusuri jalan, Rania jauh termenung memandang keluar jendela mobil. Ini akan membosankan, pikirnya.


Pintu gerbang rumah sudah terbuka lebar, terlihat Mama dari kejauhan sudah tersenyum sumringah melihat kedatangan putri semata wayang nya yang sudah lama tak di jumpai nya itu.


Pak Uki membukakan pintu mobil, Nia keluar disambut mama, dan papa seperti biasa tidak ada, pulang nya malam setelah selesai bekerja.


“Sayang, mama sangat merindukan putri mama” Bicara mama memeluk dan mencium ku dipipi kanan dan kiri.


Aku hanya tersenyum simpul tak berkata apa-apa.


Toh ini akan membosankan sekali akan tinggal dirumah besar seperti ini. Aduuuuh nenek jemput aku.


hiks hiksss


**


Di meja makan hidangan sudah tersajikan dan terhidang rapi, papa dan mama sudah duduk duluan menunggu Nia turun dari kamar nya yang terletak di lantai atas.


Terlihat Nia turun menyusuri anak-anak tangga dengan pakaian nya yang begitu anggun dan rambut terkepang dua, meletak nya ke sisi depan.


“Selamat malam pa” sapa ku mendekati papa, menyalami dan mencium tangannya itu.


“Selamat malam putri kecil papa, sudah besar putri papa yah ma, dan semakin cantik, hehee” sahut papa memuji, terlihat bergombal canda sambil mengiyakan ke mama, terlihat senyum ceria di wajah papa kali ini.


Aku hanya tersenyum begitu manis dan manja.


Makan malam selesai kami lalui.


Mama mengajak melanjut menonton televisi sambil mengobrol bercerita-cerita panjang lebar.


Dan terhenti pada satu pernyataan yang di katakan papa.


"Nanti kalau mama dengan papa sudah tua dan rentan, ada Nia dan Rey yang akan mengurus Perusahaan itu” Pinta Papa melanjutkan permintaan nya itu.


Aku tak menjawab. Dari tatapan mata papa sangat berharap kali ini gadis belia nya itu bisa menerima tindakan papa nya itu.


Jauh di lubuk hati ku yang paling dalam.


Aku kecewa dengan apa yang aku dengar sekarang, Papa telah merancang semua pendidikan dan kehidupan masa depan ku, tanpa menanyakan terlebih dulu apa yang aku ingin dan cita-citakan.


Pa, please tolong paham, aku hanya ingin melanjutkan pendidikan ku di bagian designer bukan bisnis pemasaran yang seperti papa dan mama harap kan.


Ma, mata ku memelas melihat kearah mama. Dan tampaknya mama juga ikut serta mendukung seperti yang papa katakan tadi. Aku tidak berani membantah, toh apapun mereka yang memberikan ku kehidupan sejak kecil seperti sekarang.


Aku hanya diam, belum sempat menjawab. Sedikit mencari ide dulu bagaimana aku akan menjawab nya dengan papa.


"Besok Kak Rey akan balik pulang dari Newyork" bicara papa melanjutkan ke permasalahan lain.


Mungkin karna melihat ku berdiam tak menjawab apa-apa sedari tadi.


Aku baru mendapat kan ide dan ingin menjawab permasalahan pendidikan ku itu tapi papa sudah menggantikan ke topik lain.


"Rey akan menggantikan posisi papa bekerja di perusahaan nanti." Lanjut papa menceritakan.


Aku tersenyum mengiyakan setiap perkataan papa.


Rey akan pulang dan bekerja di perusahaan papa. Ini akan lebih bagus. Oke, Biar Rey saja yang akan mengurus perusahaan papa. Dan aku. Ya, aku melanjutkan pendidikan ku seperti yang aku ingin dan cita-cita kan sedari dulu. Pikir ku dalam hati.


Aku berharap, Rey bisa membantu hal yang aku hadapi sekarang.


Memang, semasa kecil kami tidak terlalu banyak menghabiskan waktu bersama, karna sejak kecil aku sudah tinggal terpisah dengan nya. Aku tinggal bersama dengan nenek di desa.


Tapi Rey selalu care sama aku dan bersikap baik walau kami terpisah antara satu sama lain. Ah, itu sudah puluhan tahun lalu lama nya.


Sekarang.!!


Sekarang akankah dia menolong ku dari perangkap papa ini ingin memasukkan ku ke university yang sama sekali bukan aku minati dan ingin kan.


Owh, papa. Kenapa diri mu begitu tegas.


BERSAMBUNG...