
***
"Kamu yakin dengan keputusan yang kamu buat Rani?" tanya Mia kawan baik nya di kantor
"Yah Mia, aku akan berhenti bekerja." sahut ku sangat menyesali nya
"Aku tahu itu permintaan suami mu dan kamu harus nurut akan segala perkataan nya. Tapi pernah tidak terpikir kamu sudah terlalu jauh mengerjakan pekerjaan mu sebagai designer dan kamu bisa, kamu mampu dan kamu hebat dalam menyelesaikan setiap pekerjaan mu itu." timpal Mia meyakinkan
"No Mia, aku... " sahut ku tak melanjut kan hanya menatap Mia nanar
"Mia, suami ku sudah datang menjemput. Aku balik dulu." lanjut ku sembari memeluk dan mencium pipi kanan dan kiri Mia
"Baik lah, oke." sahut Mia seraya melambaikan tangan ke arah ku
**
Mobil terus berjalan menyusuri indah nya pemandangan ibu kota, dan jauh meninggal kan tempat kerja Rani.
Rey dengan mengendalikan kemudi, sesekali tatapan nya menatap Rani tak berpindah.
"Sayang marah dengan kakak?" tanya Rey membuka pembicaraan
Aku hanya menatap nya sekilas dan sama sekali tak menjawab. Kembali menatap keluar jendela mobil.
"Kakak tahu, sayang sangat suka dan cinta dengan pekerjaan sayang, tapi sayang..."
"Tolong kak, jangan bahas ini lagi. Rani oke." sahut ku cepat tak ingin mendengar Rey membicarakan hal yang sama
"Baik lah, kakak minta maaf." ujar Rey menyesal melihat ku lama
Suasana kembali hening, hanya terdengar deruan suara mobil dan kendaraan saja.
"Ini kan bukan jalan kerumah." ujar ku tiba-tiba melihat Rey mengemudi mobil ke arah yang berbeda
"Kita ke kantor kakak dulu." sahut Rey menatap ku dan tersenyum
"Tapi kaaaak, Rani ingin pulang lah." sahut ku kesal
"Oke. Kita akan pulang tapi kita mampir ke kantor dulu sebentar." ujar Rey tersenyum
"Oke lah." jawab ku seadanya
**
"Sayang tunggu di sini, kakak akan kembali secepat nya." ujar Rey menyuruh ku tak turun dari mobil
Aku hanya mengangguk dan Rey berlalu pergi tak lagi terlihat punggung nya memasuki loby perusahaan nya itu.
Lama menunggu. Rey tak kunjung kembali. Aku berinisiatif turun dari mobil dan keluar. Dan ya, Rey keluar dari kantor nya berbarengi dengan Dian. Tak pasti apa yang di bicarakan mereka tapi Dian tak berhenti tersenyum. It's Oke. Mungkin hanya hal pekerjaan, aku tak ingin ambil pusing tentang mereka. Karna status ku sekarang adalah sah istri nya Rey.
"Maaf sayang, lama menunggu. Dian minta tolong cek data ini dulu tadi. Itu yang membuat kakak jadi lama." ujar Rey menjelaskan sambil menunjukkan laporan di tangan nya
"Oo...oke." timpal ku pelan dan ku menatap Dian penasaran berada di antara kami
"Hai." sahut ku kembali membalas tersenyum
"Sayang, Dian minta pulang bareng dengan kita tidak apa-apa. Mobil nya pagi tadi masuk bengkel." kembali Rey berujar bak seorang penyelamat
"Oke. Tidak masalah." sahut ku pelan
"Baiklah, masuk lah Dian." ujar Rey mempersilahkan masuk mobil nya kepada Dian
Suasana kembali hening, tidak ada yang mulai membuka pembicaraan. Dan aku pun begitu enggan untuk berbicara. Rey tak berhenti menatap ku seperti biasa setiap hari yang dilakukan nya. Entah tidak bosan Rey terus menatap ku lama-lama.
Rey menyentuh lembut tangan ku, dan seketika membuat ku terkaget, reflek aku pun melihat ke arah belakang Dian tempati. Dian menatap ku tersenyum dan pandangan nya beralih melihat tangan ku yang di genggam Rey.
Aku berusaha melepas, tapi cengkraman tangan Rey begitu kokoh. Sesekali jari nya mulai jahil menyentil-nyentil paha ku yang terlihat. Aku memohon menyipitkan mata ke arah Rey, tapi Rey tak peduli malah bersemangat dan tersenyum sengek-sengek.
Selesai mengantar Dian ke rumah nya. Mobil kembali menyusuri jalan pulang ke rumah.
"Sayang, kita makan dulu?" tanya Rey melihat ku cepat
"No, kita terus pulang saja." sahut ku cepat
"Kenapa ni?" tanya Rey melihat raut ku ngambek
"Kenapa kakak begitu gatal di depan Dian?" ujar ku menatap nya tajam
"Heheheheee, hanya itu dan membuat sayang marah ke kakak sekarang. Sayang, sayang istri kakak, apa pun yang kakak ingin lakukan itu sah-sah saja." sahut Rey tertawa
"Kakak lihat reaksi nya tadi itu?"
"Lihat."
"Lalu, kenapa kakak melakukan nya."
"Tidak ada, sengaja saja. Hehhee..."
"Kakak ingin membuat Dian cemburu. Kakak masih mencintai nya?" tanya ku tak menahan-nahan kata-kata ku keluar
Dret. Seketika mobil terhenti.
"Sayang bicara apa ini?" tanya Rey mulai khawatir
"Lalu, apa maksud kakak ta.... Eeeuummm lepas kak" seketika Rey mencium bibir ku cepat dan dengan cepat gerakan ku menolak mendorong tubuh nya
Rey kembali mengendarai mobil.
"Lain kali kalau sedang bersama istri jangan suka bawa wanita lain bersama." ujar ku kembali kesal menatap nya
"Baik lah Tuan Putri." timpal Rey tersenyum
BERSAMBUNG...