
***
Sungguh pagi yang indah. Matahari hari ini bersinar terang. Seindah senyum pasangan yang baru memulai kehidupan baru.
Rani membuka mata pelan. Tatapan nya melihat Rey manja yang masih tertidur pulas di bawah selimut.
Rani menyentuh lembut memain-main kan jari di wajah Rey di rahang tegas yang di tumbuhi bulu-bulu halus itu. Membuat Rey terbangun membuka mata nya. Rani tertawa kecil melihat suami nya yang menahan geli karna tingkah nya yang suka mengganggu.
Begitu Refleks Rey memeluk Rani tanpa menanya dan bersahut terlebih dulu. Ah, aku benar-benar tidak bisa bernafas di peluk nya itu.
Rey menyentuh dan menyentil pinggang ku dengan tangan nya, membuat ku tak bisa menahan geli sama sekali. Hanya suara tertawa kebahagian yang keluar dari mulut kami. Seisi kamar di penuhi dengan suara candaan dan tawaan sepasang pengantin.
Tatapan kami beradu dan semakin mendekat. Aku sudah begitu pasrah saat apa yang akan di lakukan Rey kali ini. Rey pun tak mampu menahan gejolak yang melanda nya semenjak tadi malam tidur di sisi Rani. Dekat, dekat, dan semakin dekat bibir kami akan bertemu dan bersentuhan.
Tok, tok, tok...
"Tuan muda, Tuan besar sudah menunggu di bawah. Kata nya ada hal yang mau di bicara kan." Ujar Bik Sum dari arah luar pintu kamar
Aku hanya mampu tertawa menatap Rey sudah di ambang gejolak asmara nya itu.
Sial, kenapa Bik Sum malah datang di saat-saat indah seperti ini. Gumam Rey dalam hati.
"Pergi lah mandi dan bersiap-siap, papa sudah menunggu." ujar ku menertawai suami ku sendiri
"Sayang, 5 menit." pinta Rey memelas
"Apa lagi? cepat mandi sana." timpal ku mendorong tubuh Rey turun ke bawah dari tempat tidur
"Euum, baik lah. Kali ini gagal, siap-siap berteriak memohon ampun nanti." sahut Rey dengan mata menyipit
"Eeumm, semoga berhasil." timpal ku tertawa
"Jangan meminta pertolongan." sahut Rey sudah di depan pintu kamar mandi
Sungguh, ini pagi yang penuh keceriaan.
**
"Besok kita pindah" ujar Rey tiba-tiba yang sedang menikmati secangkir kopi, dengan tatapan menatap ku tak berpindah
"Pindah?" tanya ku cepat
"heu eumm." sahut Rey mengangguk
"Bukan kah itu terlalu cepat kak, Rani masih ingin tinggal di sini." ujar ku pelan penuh harap
"Baik lah, seminggu?"
"Seminggu? kak itu terlalu singkat sekali." timpal ku kesal
"Hem, baik lah. Kita pindah besok saja." sahut Rey tegas
"Tidak, tidak, tidak, oke. Seminggu." sahut ku dengan senyum yang ku buat-buat menjejerkan gigi rapi
Rey tersenyum masih dengan menikmati aroma dari secangkir kopi yang di pegang dengan kedua tangan nya itu mendekati hidung.
Baru kemarin hari berumah tangga dengan nya, sudah seperti ini. Apa-apa harus menuruti perkataan nya, sedikit memberi pendapat pun tidak bisa. Iiih, kesal. Oke, tidak masalah. Gumam Rani dalam hati dengan wajah tersenyum lebar.
"Yah." sahut ku tak paham menatap Rey
"Bagaimana?" tanya Rey kembali yang aku sama sekali tidak tahu apa yang di tanya nya sekarang, karna aku sedang sibuk dengan pemikiran ku kali ini
Rey mengernyit kan kening menatap ku lama. Dan sama sekali tidak mengulang pertanyaan nya itu kepada Rani. Rey hanya tersenyum menatap wajah Rani tak memindahkan pandangan nya sama sekali.
BERSAMBUNG...