My Brother Is My Husband

My Brother Is My Husband
Doesn't she look like a bride?



***


"Ini proposal yang kau minta kemarin Rey, aku menyuruh sekretaris mu Pia memberi untuk mu tadi, tapi dia menyuruh ku memberikan sendiri untuk mu, ini." ucap Fandi dengan proposal ditangan mengarah ke hadapan Rey.


Diruang kerja nya.


Rey masih jauh termenung, tatapan nya mengarah ke luar jendela kaca sana, melihat ke arah mobil yang sedang berlalu-lalang di jalan raya. Tapi pikiran Rey entah sudah menerawang jauh kemana-mana.


Fandi melihat hanya mengernyitkan dahi dan beranjak untuk duduk di sofa setelah meletak kan proposal di atas meja.


"Kau ada masalah?" tanya Fandi lagi.


Rey membalikkan tubuh nya ke arah Fandi, dan kini melangkah duduk bersandarkan di meja kerja dengan posisi kedua tangan bertumpukan di meja menahan tubuh nya.


"Coba kau katakan kalau ada seseorang yang kau sayang tiba-tiba sikap nya berubah cuek tak peduli, apa yang akan kau lakukan?" tanya Rey serius.


Jauh di dalam hati Fandi ingin tertawa sepuas-puas nya yang sedang melihat kawan nya ini galau.


Tapi Fandi menahan.


Bisa-bisa nya dia memendam selama ini tidak menceritakan apa-apa dengan ku, dan sekarang giliran hati nya sudah terpatahkan baru nak meluahkan rasa. Memang kau ini Rey.


Fandi tersenyum simpul sebelum menjawab nya.


"Kau yakin perhatian dia selama ini karna memang dia sayang kan kau Rey?" jawab Fandi yang balik menanyakan ke Rey.


Rey seperti sedang berpikir.


"Mungkin dia hanya menganggap mu sebatas teman saja." lanjut Fandi lagi.


Rey masih belum menjawab, kembali dia memikirkan setiap kisah nya dengan Rani. Kalau benar Rani hanya menganggap nya sebagai seorang kakak saja selama ini, bagaimana dengan semua kisah yang kami lalui itu manis-manis semua nya, bahkan kami sudah melakukan nya terlalu jauh sekali. Pikir Rey.


Rey mengusap wajah nya dengan kedua tangan dan menghembus nafas panjang, dan beranjak pindah lagi untuk duduk di sofa di samping Fandi. Terus merebahkan tubuh nya disana.


"Bisa saja dia punya alasan juga kenapa dia berubah sikap dengan mu Rey" ucap Fandi lagi santai.


Rey terduduk kaget mendengar ucapan Fandi saat itu.


Alasan. Pikir Rey.


Rey terus beranjak keluar dari ruang kerja nya dan tak memperdulikan Fandi lagi.


"Heyyy... Rey kau mau kemana, proposal ini belum kamu lihat." Ucap Fandi setengah kaget melihat Rey terus keluar.


"Mati aku, besok presentasi nya. Aaah begini lah dia kalau sudah menyangkut hal cinta." Ucap Fandi lagi yang kini bicara sendiri dengan menunjuk-nunjuk proposal dengan jari nya karna sangat kesal.


**


Kini mobil nya terhenti di depan sebuah perusahaan Fashion Designer Golden.


Rey keluar dari mobil dengan memakai kan kaca mata keren nya itu dan terus masuk ke dalam perusahaan itu.


"Selamat datang, ada yang bisa kami bantu Sir" tanya seorang karyawan di resepsionis.


Belum sempat Rey menjawab.


"Hey.... Reyyyy..." Panggil seorang perempuan paruh baya dengan suara nya yang lembut dan manja, tapi kalau sudah galak melebihi singa yang di bangunkan.


Siapa lagi, tak lain tak bukan ialah Jenny pemilik Fashion Designer Golden.


"Mau fitting baju pengantin?mana pengantin nya sayang." tanya Jenny melihat ke arah luar, yang memang bicara nya seperti itu.


"Pengantin nya sudah di dalam, bisa kau panggilkan dia sebentar Jen." jawab Rey sedikit genit dan manja.


"Owh my god sudah di dalam, kenapa I tak lihat rey" jawab Jenny manja dan membalikkan badan akan melangkah.


"Itu dia." jawab Rey menemukan sosok Rani.


Rania pun kini tatapan nya sama, melihat ke arah Rey. Pandangan mereka bertemu.


Bagaimana dia disini, pikir ku. Mati aku kena marah Boss lagi.


"What? RANIA." jawab Jenny terkaget.


"Hey Rey, you mean Rania pengantin nya?" tanya Jenny lagi meyakinkan.


"Yes, doesn't she look like a bride?(apakah dia tidak terlihat seperti seorang pengantin?)" jawab Rey sedikit tertawa dan tersenyum.


"No, bukaan, hanya I kaget. Hah, you ini, kenapa tak bilang I dari awal." jawab Jenny lagi sambil tersenyum.


"Rania, kemari temankan calon husband you ini, you boleh pulang awal hari ini." Jawab Jenny tersenyum.


"Tapi Boss.." ucap ku dan Boss berlalu pergi.


Entah apa yang dikatakan Rey ke Boss ku sampai ku harus pergi dengan nya kali ini. Terlihat Rey berdiri santai dan tersenyum sendiri.


"Yuk cepat" ucap Rey menyuruh ku untuk ikut dengan nya.


BERSAMBUNG...