
***
"Bagaimana dengan Dian yang masih mencintai kakak?" tanya ku lirih dan kembali dengan tatapan tertunduk
"Sayang, percaya dengan kakak, hanya Rani yang sekarang di hati kakak, bukan orang lain." jawab Rey kembali meyakin kan
Rani kembali duduk menjaga jarak dengan Rey.
"Sayang, seandai nya kakak masih ingin kan Dian. Setelah pertama kali bertemu dengan nya di kantor kakak tidak mungkin menyuruh Fandi memindah kan posisi dia ke bagian produksi. Padahal jelas di bagian produksi itu bukan skill dia dalam bekerja. Tapi kakak ingin menjauh kan diri dengan nya." ucap Rey pelan
"Memang, bukan mudah melupakan seseorang yang dulu pernah kita sayang. Tapi dengan pergi tanpa berpamit tidak meninggalkan sepatah kata pun, di situ membuat kakak kecewa sekali, kakak merasa tak di hargai sama sekali dalam sebuah hubungan yang sudah kakak bina. Sejauh ini kakak telah berusaha menepis dia dipikiran kakak, walau kehadiran dia kembali datang di saat kakak sudah begitu serius dengan Rani sekarang. Tapi percaya lah sayang, hanya Rani yang di hati kakak untuk saat ini dan selama nya. Percaya lah." sahut Rey dengan mata penuh harap
Aku tak mampu berucap sepatah kata pun. Kepala ku begitu sakit mengetahui semua ini.
"Sayang, kakak minta maaf tidak mampu jujur dari awal hubungan kita." kembali Rey berucap melanjutkan bicara nya
"Sudah lah kak, tinggalkan Rani sendiri." pinta ku melihat ke arah Rey
Sebenar nya berat Rey untuk melangkah keluar dari kamar itu, meninggal kan Rani sendirian. Tapi apa lah daya, Rani yang sudah di ambang kesedihan nya. Rey tidak mau mengacau nya dan menambah beban masalah lain yang berdampak untuk Rani.
Rey melangkah perlahan keluar dari kamar. Dengan tatapan masih terus menatap Rani.
**
Mentari pagi telah bersinar dengan terang nya. Hujan tadi malam membuat pagi begitu segar. Ya, cuaca hari ini sangat lah cerah. Terlihat awan putih yang menggantung indah di atas langit. Burung-burung pun tak ketinggalan meramaikan pagi yang cerah ini. Rani bangun dan menyibak gorden membuka jendela kamar nya itu. Ku hirup udara luar dalam-dalam hingga memenuhi rongga perut ku.
Kemudian ku hembus kan perlahan-lahan "Segar..." Aku hanya mampu tersenyum.
Aku merapikan kamar yang sedikit berantakan. Ku lihat jam dinding menunjuk kan pukul 08:00 pagi. Aku bercuti bekerja lagi hari ini.
Aku tertegun sebentar, kembali teringat kejadian tadi malam dengan Rey. Tidak, aku tidak boleh terlalu jauh memikirkan masalah ini.
Aku beranjak keluar kamar. Seisi rumah begitu sepi. Iya, karna hanya aku dengan Rey saja di rumah ini.
Aku ingin membangun kan Rey di kamar nya. Tapi, kembali mengurungkan niat. Aku beranjak mendekati dapur. Memasak sesuatu yang bisa aku makan dengan Rey nanti.
Aku membuka kulkas, melihat sesuatu yang bisa aku masak. Yah, tidak ada sayuran sama sekali. Ya lah, Rey bukan tipe lelaki yang suka memasak sendiri di rumah. Aku memasak nasi goreng saja dengan telur ceplok. Karna hanya alat tempur itu yang ku dapati di dapur sekarang.
Aku tidak mungkin menunggu Rey bangun baru akan makan di luar, bisa mati kelaparan karna menunggu nya itu.
**
Selesai makan aku hanya menonton televisi saja di ruang tengah, bersandar kan tubuh di sofa yang empuk.
Hari sudah mulai siang menunjukkan pukul 11:20 siang.
Grek.
Langkah nya menuju ke dapur tanpa melihat ku sama sekali. Aku mendongak kepala melihat apa yang hendak di lakukan nya di dapur. Yah, dia hanya minum.
Akan kah dia memakan nasi goreng yang ku buat itu, pikir ku. Aku kembali mendongak kan kepala curi-curi melihat nya. Rey melihat ke arah ku. Cepat-cepat aku duduk dengan posisi semula, seakan tak acuh dengan nya.
Terlihat dari jauh, Rey memakan nasi goreng habis. Aku sedikit tersenyum melihat.
Langkah nya terdengar menuju ke arah ku lagi sekarang. Aku masih pura-pura tak ingin peduli.
Tanpa basa-basi Rey terus merebahkan tubuh nya di sofa. Di dekat ku, iya di dekat ku dan dengan asal nya saja merebah kan tubuh nya itu dan sedikit mengenai tangan kanan ku, sakit sih.
Rey menatap ku, dan sesekali menatap ke arah televisi. Seperti nya ingin menertawai ku yang sedang menonton film anak-anak. Jelas, bukan kesukaan ku sama sekali.
"Sini remote nya." pinta Rey tiba-tiba
Aku tak menjawab, masih menahan gengsi dan sedikit sakit hati.
"Siapa yang masak nasi goreng itu?" tanya Rey cuek kembali membuka pembicaraan
Hello. Memang ada orang lain dirumah ini yang memasak nya. Jelas aneh dengan pertanyaan nya itu. Memang ada peri yang turun dari langit menyiapkan sarapan untuk nya. Jelas aku yang memasak nya lah. Gumam ku dalam hati.
"Nasi goreng nya nggak enak, asin sekali." ucap Rey menatap ku
Sial. Bagaimana bisa asin. Aku sudah habis memakan nya tadi dan tidak asin sama sekali. Aku membuat nya seperti nenek biasa membuat nya untuk ku. Jelas resep dari nenek aku membuat nya. Kalau betul asin, kenapa habis?. Aneh, mengada-ngada. Ih sebel. Kembali aku bergumam dalam hati.
"Nanti buat kan lagi nasi goreng yang sama." pinta Rey serius yang kini tatapan nya menatap ke arah televisi
What?
Membuat nya lagi. Nasi goreng ku kan asin, kenapa menyuruh ku membuat kan lagi. Kembali aku bergumam dalam hati.
"Jangan sampai asin." pinta nya lagi menatap ku
Aku hanya mampu menatap nya kesal. Apa yang sekarang di inginkan nya itu. Aku beranjak bangun dari sofa, dan melangkah pergi dari situ.
Brakk.
Aku terjatuh ke atas tubuh Rey. Sial, kenapa Rey sengaja menahan kaki nya itu dan membuat ku terjatuh ke atas nya. Rey tersenyum begitu genit.
"Lain kali kalau jalan hati-hati, lihat-lihat ke bawah. Jangan sampai kesandung. Untung ada kakak kalau tidak mungkin sudah terjatuh ke lantai kan." ucap Rey tersenyum seakan tak bersalah
Hebat. Entah lakonan apa yang sedang di peran kan Rey sekarang.
BERSAMBUNG...