
***
Braak. Pintu terbuka lebar.
"Kenapa ke sini?" tanya ku yang tiba-tiba tubuh ku terduduk melihat sosok yang sangat ku kenal.
"Hey, di pintu kamar tak tertulis Dilarang masuk." Ucap nya tak bersalah dan tersenyum.
"Kenapa masih enak-enakan di atas tempat tidur, cepat bangun dan bersiap-siap." Ucap nya lagi.
Hey, tolong lah aku juga baru pulang bekerja dan capek. Aku juga butuh berehat sejenak. Aku bukan Robot. Lagi pun ini bukan hari bahagia ku. Gumam ku dalam hati kesal.
Aku tak menjawab, menatap nya saja. Dan kembali merebahkan tubuh ku di tempat tidur menutup wajah dengan bantal. Aku tak ingin melihat nya, tak ingin sama sekali.
Bantal yang ku gunakan menutup wajah ku kini melayang terjatuh ke sisi tempat tidur. Bukan terjatuh tapi dijatuhkan oleh seseorang. Siapa lagi, seseorang yang baru saja masuk ke kamar dan bicara dengan ku, tak lain tak bukan ialah Rey. Iya, Kakak ku.
"Apa lagi." ucap ku mulai kesal dan melampiaskan ke diri nya.
"Hey... sejak kapan adik kakak yang begitu lembut tutur kata nya sekarang suara nya meninggi seperti ini ke kakak nya sendiri." ucap nya lagi.
Aku tak menjawab, menatap wajah nya lama dan penampilan nya itu.
Owh sungguh.
Malam ini Rey memakai kemeja berwarna hitam sangat enak di pandang mata. Aku yang biasa nya melihat Rey memakai baju kerja dengan ciri khas nya memakai jas. Malam ini kakak ku berpenampilan sangat formal sekali, Dia terlihat keren dan sangat rapi. Tiba-tiba bibir ku tersenyum dengan sendiri nya.
Aku menepis pandangan ku ke arah lain. Melihat Rey mengetahui ku yang tersenyum sengek sendirian.
"Keluar lah, Rani akan pergi mandi dulu." Ucap ku dan beranjak turun dari atas tempat tidur.
Rey kembali menahan tangan ku, "Berdandan lah yang cantik." Bisik Rey di telinga ku.
Dan aku menggerak kan cepat wajah ku menatap nya, tapi bibir ku berpapasan dengan wajah nya menempel pas di pipi kanan nya, karna jarak antara wajah kami saat ini sangat dekat sekali hanya beberapa centi saja.
Rey tersenyum, aku cepat-cepat pergi masuk ke kamar mandi.
**
Owh sungguh Dress yang sangat indah, tapi aku enggan memakai nya. Walau terlihat sangat menarik. Tapi mau tidak mau aku harus memakai nya kali ini. Bagaimana pun, aku memakai nya demi mama yang sudah bersusah payah memberikan nya khusus untuk ku.
Pelan tapi pasti aku memakai Dress itu dan terpamer sudah punggung ku, bahu dan belahan dada kiri dan kanan.
Aku melanjut mendandani diri ku sendiri. Sebagai sebagian dari keluarga ini aku tidak ingin mengecewakan mereka dengan penampilan ku yang tidak terlihat cantik nanti nya.
Aku memakai apa yang sepatutnya harus ku gunakan. Aku yang enggan menggunakan softlens tapi kali ini aku mengunakan nya di mata ku dengan motif unik 3 tones color, yaitu dominan grey, sedikit kuning dibagian tengah, dan ring hitam tipis dibagian luar.
Pipi yang sedikit terlihat merona dan dengan polesan lipstik berwarna Nude. Agar tampilan wajah ku terlihat sempurna dan sesimple mungkin tidak membuat ku norak sama sekali.
Rambut ku yang biasa nya terurai setiap hari, kali ini aku bereksperimen dengan gaya french twist, sanggul yang biasa nya dipilih pramugari saat bertugas. Hihii, karna aku suka tampilan yang sederhana.
Dengan anting yang menjuntai jatuh. Ditambah memakai hight heels. Owh Tuhan, ini sebenar nya sungguh hukuman berat untuk ku.
**
Aku turun menyusuri anak-anak tangga itu lagi dan melihat tetamu sudah begitu ramai yang datang.
Acara sudah di mulai sedari tadi, hanya aku yang terlambat untuk turun. Tapi proses akad pertunangan nya belum di mulai.
Kaki ku terus melangkah pelan.
Di ujung sana terlihat Ameli sangat cantik, dengan balutan Dress hitam juga. Yang sangat elegen. Aku kalah cantik dari nya, karna aku bukan apa-apa kalau di bandingkan dengan nya itu.
"Owh gadis ku yang sangat cantik..." Terdengar suara seseorang memanggil ku dengan lembut dari arah belakang ku.
Ya Tuhan.
Aku tidak sedang bermimpi sekarang bertemu dengan nya. Wajah nya yang sudah tua dan mengerut. Aku terus melangkah cepat memeluk nya erat.
"Nia sangat rindukan Nenek." Ucap ku yang mulai terisak dan menangis.
"Nenek pun sangat merindukan Nia." ucap Nenek dengan mengelus-ngelus punggung ku pelan.
"Hey janganlah menangis sayang nanti hilang aura cantik nya." puji nenek tersenyum dan mengusap pelan air mata ku yang terjatuh itu.
Aku tersenyum dan kembali memeluk nya.
"Banyak yang ingin Nia cerita kan Nek." ucap ku lagi.
"Iya, iya, Nenek tahu, apalah arti seorang Rania tanpa Nenek kan, hehe." jawab Nenek sedikit manja dan membuat ku tersenyum.
Di sana Rey, Mama dan Papa sibuk dengan tamu-tamu nya.
Sesekali Rey menatap ku tersenyum tapi aku tak bergeming dan memilih memandang ke arah lain.
Ameli pun sama terlihat di samping Rey terus tak berpindah jarak dengan nya.
"Rania..." Seorang wanita paruh baya memanggil ku membuat ku tersentak kaget melihat nya.
BERSAMBUNG...