
***
Pagi yang dingin. Matahari enggan menampakkan sinar nya.
Hujan rintik-rintik masih saja turun dari kemarin malam.
Dengan kaki yang masih sedikit sakit aku melangkah perlahan menuju ke kamar Rey dan mengetuk pintu tapi Rey tidak di kamar nya.
Kamar nya sudah terlihat sangat rapi.
Kemana dia, pikir ku berkali-kali mencari nya dengan langkah yang sedikit tertatih-tatih.
Aku terus melangkah menuruni anak-anak tangga perlahan. Mencari sosok Rey yang masih belum kutemukan.
"Bik... Bibik melihat kakak?" tanya ku yang melihat Bik Sum di dapur.
"Semalam Tuan langsung pergi keluar setelah mengantar Non Nia ke kamar." Ucap Bik Sum polos.
Pergi. Kemana?
Kenapa dengan diri nya. Gumam ku dalam hati.
Aku mengambil handphone dan ingin menghubungi nya, tapi tiba-tiba mengurung niat ku itu dan kembali meletak kan handphone di tempat semula.
Oke. Tidak masalah, kita lihat nanti. Gumam ku kesal.
Aku dengan kaki yang masih tertatih-tatih melangkah kembali menuju ke kamar bersiap-siap akan pergi berangkat bekerja.
Terdengar suara mobil memasuki halaman depan rumah. Aku tak begitu peduli karna sedang merias di depan cermin. Palingan juga Pak Uki.
Terdengar ketukan pintu kamar dari luar.
Tok, tok, tok...
"Masuk." sahut ku yang sedang memegang memakai lipstik, dan hanya menoleh sekilas melihat nya.
Dan itu Rey.
Kenapa dia kembali, bukan nya semalam pergi begitu saja. pikir ku kesal.
"Mau kemana?" Tanya nya tiba-tiba.
Hey, kenapa bertanya. Kamu tidak melihat aku akan pergi bekerja sekarang dengan pakaian yang seperti ini. Gumam ku dalam hati.
"Lepas pakaian itu." Ucap nya lagi meminta ku untuk tidak pergi bekerja.
Aku masih tak menjawab masih dengan aksi ku yang sedang berias. Aku tak ingin bicara dengan nya. Aku sangat kesal dengan perlakuan nya kepada ku kemarin malam.
Aku meletakkan semua perkakas tempur ku itu kembali di meja rias dan mengambil tas, melangkah menuju ke luar kamar.
Rey langkah nya yang lebih lincah dari ku menutup pintu cepat dan mengunci nya. dan melepas kunci di pintu di pegang oleh nya.
Aku menatap setiap gerak-gerik yang dilakukan nya itu. Kenapa dengan dia ini. Kemarin malam pergi tak berpamit sekarang kembali membuat ku bertambah kesal.
"Rani akan pergi bekerja, sini kunci nya." Ucap ku yang masih berdiri belum melangkah.
"Kemari dan ambillah" Jawab Rey memegang kunci kamar itu dengan tangan nya terangkat melayang-layang menghadap ke arah Rani, dengan wajah tersenyum sinis sekali.
Apa dengan tersenyum seperti itu, kamu pikir aku tidak bisa mengambil dan melangkah cepat untuk mengambil nya. Aku mendekat, perlahan melangkah untuk mengambil kunci itu. Aku ingin cepat-cepat pergi dari hadapan Rey sekarang.
Krrik.
Aku menemukan kunci nya dengan tangan masih menggengam tangan Rey. Tiba-tiba kunci terjatuh dan terlempar ke bawah tempat tidur. Rey tersenyum karna sengaja menjatuhkan nya. Aku dengan wajah yang sangat masam dan merah terus melepas genggam tangan dengan nya.
Aku masih berdiri mematung tak berbicara. Rey mendekati ku dari arah belakang, menarik rambut sisi kanan ku pelan ke belakang dengan mulut mendekati telinga ku. Aku menahan geli dan menolak mendorong Rey dengan siku tangan kanan ku.
Tapi Rey jauh lebih kuat dari ku.
"Kenapa menolak, bukan kah semalam begitu bersemangat menarik tangan kakak yang hendak pergi?" Tanya Rey menggoda dengan wajah tersenyum.
Aku sangat malu dengan yang di katakan nya, bukan kah dia semalam tidak peduli, kenapa sekarang mengungkit nya lagi.
Rey mencium leher ku pelan, membuat kepala ku rebah ke bahu sisi kiri nya, semakin membuat Rey bebas melakukan kecupan nya. Dengan tangan yang memeluk melingkari pinggang ku.
"Sudah tahu kaki lagi sakit kenapa nakal sekali masih ingin pergi bekerja." Ucap Rey santai dan lembut dengan mulut yang masih sedang mencium-cium leher ku.
Aku melepas pelukan Rey yang memeluk ku dari belakang dan beranjak menjauh dari nya.
Tiba-tiba handphone Rey berdering, Fandi menelpon dari kantor.
"Ada apa?" tanya Rey cepat.
"Ada banyak wartawan di depan, kau harus ke kantor sekarang." Ucap Fandi di seberang sana.
Rey menutup telepon cepat.
Dia menyuruh ku berganti pakaian untuk ikut dengan nya. Aku tetap bersikeras tidak mau tapi Rey memaksa.
"Kita hanya punya satu nyawa, bisa pelan kan kemudi nya?" Pinta ku memelas melihat ke arah nya.
Aku yang cerewet sepanjang perjalanan, Rey tak peduli dengan ocehan-ocehan yang ku keluar dan katakan. Masih dengan kendaraan yang melaju cepat.
BERSAMBUNG...