My Brother Is My Husband

My Brother Is My Husband
2 pihak Keluarga



***


Aku turun menyusuri anak-anak tangga, dengan memakai dress model ruffles tanpa lengan, leher terbuka menampak kan belahan dada sisi kiri dan kanan, dress yang sepanjang lutut.


Kini aku terhenti melangkah, kenapa si gatal tadi masih saja di sini belum kembali pulang, pikir ku.


Terlihat Rey pun sedang turun menyusuri tangga.


Aku yang masih saja berdiri tadi karna berhenti melangkah, melihat ke arah Rey dan sesekali melihat ke arah meja makan.


"Kenapa masih disini?" tanya Rey tiba-tiba.


Aku tak menjawab terus melangkah beriringan dengan langkah nya Rey.


Rey kembali berbisik agak mendekat telinga ku "Cantik" aku hanya tersenyum dan duduk di meja makan berdampingan dengan nya, yang tapi aku sangat il-fil dengan yang di depan ku si gatal (maksud;Sony).


"Marii... Silahkan di makan" ucap mama ke semua mempersilahkan untuk melanjutkan makan.


Kenapa si gatal terus memandang ku. Aku menepis lengan kanan Rey dengan lengan kiri ku mengisyarat kan kalau si gatal terus menatap ku sedari tadi.


Tapi kenapa saat di pandang Rey dia beralih pandangan nya ke sisi lain.


Setelah selesai makan malam, kembali melanjutkan berbincang-bincang antara kedua keluarga ini.


Aku tidak tahu pasti apakah mereka akan menginap. Terlihat Rey pun sedang berbicara dengan Sony karna mama menyuruh menemani nya.


Aku sendiri hanya berdiam duduk di antara mereka, kini ku termenung sendiri jauh entah kemana-mana.


Tiba-tiba telinga ku terdengar Aunti Lina bicara, kini aku fokus dengan ucapan nya.


"Sebenar nya kedatangan kami ke sini ada maksud nya juga Maria (maria;mama rey)" ucap aunti lina pelan.


"Maksud? apa itu Lina?" jawab mama seraya tersenyum.


"Ameli, kakak perempuan nya Sony, kau ingat?" ucap aunti Lina lagi.


Aku terus mencuri dengar, tapi tak paham maksud yang dikatakan nya itu.


"Iya, aku ingat. Kawan dekat Rey masa kecil dulu, hehee" jawab mama tersenyum lebar.


"Aku ingin menjodohkan Ameli dengan Rey, bagaimana menurut mu Maria?" tanya aunti Lina pelan dan tersenyum percaya diri.


Mama yang tadi nya tersenyum kini wajah nya sedikit berubah mendengar ucapan aunti lina, dan kembali menatap ku. Aku berusaha tersenyum kecil.


"Rey... kau masih ingat Ameli?" tanya aunti lina tiba-tiba.


"Yah, aku masih mengingat nya, cuma sudah lama kita tidak bertemu." jawab Rey dengan pandangan menatap ku.


"Dalam minggu ini dia akan balik dari australia, nanti berjumpa lah dengan nya" ucap aunti lina lagi penuh semangat.


Kini wajah ku tertunduk sudah tak melihat siapa-siapa lagi, pikiran ku entah sudah kemana-mana. Aku menitik kan air mata tapi cepat-cepat ku sapu dengan tangan ku, dan kembali mengangkat wajah tersenyum.


Rey paham yang ku pikirkan, mata nya jauh memandang ku dan melihat setiap gerak-gerik ku.


"Harap-harap bisa berjumpa ya aunti, soal nya sekarang terlalu banyak pekerjaan di kantor." ucap Rey sesekali menatap ke arah ku.


"Memang anak mu ini Maria, seorang pekerja keras dan bertanggung jawab, Ameli sangat menyukai pria yang seperti ini" jawab aunti lina memuji.


Aku sudah tidak tahan duduk ditempat ini sekarang, aku berpamit ke mama untuk ke kamar dengan alasan sudah sangat ngantuk, padahal masih jam 8 malam.


Bagaimana aku akan bisa tidur setelah mendengar semua itu, ini hanya alasan ku saja agar bisa pergi dari mereka.


"Maria, dia anak yang kau ambil dulu semasa bapa dan ibu nya kecelakaan kan?" ucap aunti lina lancang menunjuk ke arah ku yang sudah pergi dari mereka.


Samar-samar aku masih mendengar yang di kata kan Aunti Lina. Owh, ini sungguh terlalu sakit mendengar seseorang mengatakan tentang ku demikian. Sedang kan mama papa tak pernah sekali pun mengungkit nya. Kenapa ada orang lain yang begitu lancang berucap seperti demikian.


Mama tak menjawab tapi mimik wajah nya berubah terlihat tidak suka yang dikatakan aunti lina.


"Kami semua menyayangi nya aunti bahkan lebih dari nyawa kami sendiri dan tidak menganggap nya berbeda dirumah ini." jawab Rey lancang, yang paham maksud aunti lina itu ingin memojokkan Rania.


Kemudian Rey pun beranjak pergi ke kamar. Bukan ke kamar sendiri. Tapi ke kamar Rani.


BERSAMBUNG...


Alhamdulillah, terimakasih semua nya. Yang sudah meluang kan waktu untuk membaca Novel Saya ini dan sudah membaca nya sejauh ini. Saya akan berusaha membuat cerita nya semenarik mungkin. Mungkin ada kata dan peng-ejaan nya yang salah mohon maklum karna masih tahap belajar. Ini sebenar nya hanya sekedar hoby saya menulis semenjak sekolah menengah pertama dulu, hitung-hitung mengasah kembali hoby yang pernah nempel dulu disaat sudah tua (berkeluarga & punya anak) begini, hihiii...


Salam kenal dan salam sayang dari Aceh 😘


Mohon Like, Vote dan Coment nya guys 😍😘


Kunjungi juga novel ku yang lain nya.


"Jangan Berhenti Mencintaiku"


"Sang Penggoda"