My Brother Is My Husband

My Brother Is My Husband
Rey termenung



***


"Rey... ini data pekerja baru di kantor kita." Ucap Fandi dan memberikan Rey berkas lamaran nya.


Rey mengambil berkas itu.


"Dia sudah masuk seminggu, dan hasil kerja nya bagus. Kau bilang hari ini kau akan menemui nya. Sekarang dia sudah menunggu diluar" Ucap Fandi mengingatkan.


"Suruh dia masuk." ucap Rey meletak kan berkas itu di atas meja.


"Baik." ucap Fandi santai.


Dreett...


Pintu terbuka, dan Fandi mempersilahkan untuk duduk pekerja baru itu yang merupakan seorang wanita.


Belum selesai perempuan itu duduk Rey sudah melontarkan pertanyaan nya dan menatap wanita itu tajam.


"Mengapa anda ingin bekerja di perusahaan ini?" tanya Rey cepat dengan mata tak berkedip menatap.


"Rey, I want to make up for the mistake I made to you before, leaving without saying goodbye." (Rey, saya ingin menebus kembali kesalahan yang pernah saya perbuat dulu kepada mu, pergi tanpa berpamit.) Ucap perempuan itu bernama Dian.


"Because I have a reason at that time." (Karna saya punya alasan masa itu). Lanjut Dian lagi, Rey tak berhenti menatap nya.


"Maaf Nona, anda belum menjawab pertanyaan yang saya tanya kan." Ucap Rey santai, tak ingin mengingat kisah silam nya dengan Dian.


Karna itu akan membuat nya semakin sakit hati.


Fandi yang berdiri di sisi perempuan itu kini mulai melangkah mundur, mencari arah untuk keluar dari ruangan itu.


"Fandi, kamu berhenti di sana." Ucap Rey tegas.


Tiba-tiba Fandi berhenti melangkah dan sudah berdiri tegak seperti patung.


"Kau bilang pekerjaan nya sangat bagus. Kau tidak bisa membukti kan nya kepada ku." Ucap Rey kepada Fandi tegas.


"Tapi Boss, saya benar-benar sudah cek dan melihat nya." Ucap Fandi membenarkan.


"Kau tahu, dia bahkan tidak bisa menjawab pertanyaan ku." Ucap Rey tersenyum sinis.


Dian menunduk tak menjawab apa-apa.


"Kau pindah kan dia ke bagian produksi." Ucap Rey tegas.


"But Rey... Saya.." Ucap Dian membela diri nya dengan logat kei-nggris-an nya itu.


"Boss... Dia..." Ucap Fandi pun membela karna hasil kerja nya memang bagus di bagian pemasaran.


"Fandi. Kau mendengar ku." Ucap Rey dengan suara meninggi.


"Ya Boss." Jawab Fandi dan meg-iyakan yang dikatakan Rey baru saja.


**


Apa yang sebenarnya di inginkan Dian. Kenapa dia ke sini dan bekerja di kantor ku. Hati ku sudah terlalu sakit atas apa yang kau buat Dian. Gumam Rey dalam hati.


"Kak... minum lah selagi masih hangat." Ucap ku dengan menyodorkan segelas coffe ke arah Rey.


"Makasih." Ucap Rey santai.


"Lama kakak tidak balik pulang kerumah ini, semenjak tidak ada kakak dirumah terasa sangat sepi." Ucap ku dengan wajah manyun.


Rey hanya tersenyum tak menjawab.


Rani meletak kan gelas yang berisi coffe di tangan nya itu di atas meja, dan memegang tangan kakak nya Rey dan merebahkan kepala di bahu Rey. Rey masih tak peduli masih dengan pemikiran nya sendiri.


"Kakak ada masalah?" tanya ku pelan dengan menoleh ke arah nya.


"Tidak, hanya saja di kantor lagi banyak pekerjaan yang harus kakak selesai kan akhir-akhir ini." Ucap Rey menatap ku sekilas dan kembali menatap ke arah lain.


Kenapa sikap nya begitu dingin kali ini. Aku terus menatap nya tapi Rey tak bergeming. Aku mencoba sedikit jail dengan wajah ku yang semakin mendekati nya.


Mulut ku mendekati telinga nya itu dan berbisik lembut memanggil nya "Sayang".


Sedikit membuat nya tersentak kaget dan cepat menarik tubuh ku mendekap di peluk nya itu.


"Jangan bermain-main." Ucap Rey manja tapi terdengar serius dengan tangan yang masih memeluk ku.


Aku hanya mampu tertawa tak menjawab.


Rey melepas pelukan nya, dan menatap ku dalam.


Aku mendekatkan bibir ku di sudut bibir nya dan mengecup nya pelan kemudian melepaskan nya kembali. Kemudian wajah ku tertunduk karna tak tahan Rey terus menatap ku.


"Serindu itu kah dengan kakak?" Tanya Rey menggoda.


"Eh, mana ada." Jawab ku dan aku melepas tangan nya yang menggenggam tangan ku dan duduk menjaga jarak dengan Rey.


Rey tersenyum dan kembali duduk mendekati ku lagi dan memeluk tubuh mungil ku ini.


"Kaak... Cepat lah." Pinta ku memelas dengan ciri khas ku yang begitu manja.


"Cepat?. Kenapa ni?." Tanya Rey penasaran.


BERSAMBUNG...