
***
Rey masuk ke kamar Rani tanpa mengetuk pintu. Terlihat begitu sepi, dan tidak ada Rani dikamar nya.
Beberapa kali Rey memanggil tapi tidak ada sahutan, Rey melihat ke kamar mandi pun tidak ada.
Rey mencari melihat seisi rumah pun tak kunjung menemui Rani. Kini Rey mulai khawatir dan tak sedap hati.
Rey mengambil handphone nya dan menghubungi Rani tapi Rani tidak mengangkat. Rey semakin panik dan tak bisa berpikir panjang lagi.
"Dimana kamu Rani, mengapa pergi tak berpamit seperti ini." Bicara Rey sendirian
Mata Rey sudah berkaca-kaca dan memerah, kalau terjadi sesuatu dengan Rani, Rey tak bisa memaafkan diri nya sendiri. Rey keluar menuju ke pintu gerbang depan, melihat sekitar.
Yah. Bukan kah itu Rani dengan tukang gerobak sate. Rey terus menghampiri nya.
Rani sedari tadi tertawa karna tukang sate nya bicara lucu bak seorang komedian. Tak henti-henti nya Rani tertawa sambil memakan sate itu.
"Ternyata di sini, capek kakak mencari seisi rumah, kakak call pun tak Rani jawab" ucap Rey mengagetkan ku.
"Alah kakak ini, Rani cuma keluar ke sini aja bukan jauh pun dari rumah." ucap ku santai.
"Iya, tapi setidak nya beritahu kakak dulu" jawab Rey kemudian duduk di sisi Rani.
"Kakak mau?" tawar ku santai.
Seperti nya enak yang di makan Rani, Rey mencoba mencicipi nya.
Eumm benar, memang sangat enak.
"Enak kan." tanya ku lagi meyakinkan.
"Iya sayang, enak." ucap Rey santai.
"Bang, jangan makan punya awek nya atuh, di beli lain dong mas." canda tukang sate serius.
Aku kembali tertawa terbahak-bahak karna memang abang tukang sate ini super gokil kalau bercanda dan melawak.
Rey nggak tahan di ledek tukang sate, apa lagi di depan Rani, pujaan hati nya.
"Bang sate berapa sebungkus?" tanya Rey serius kali ini.
"Widih bang mahal bener, kalo kagak pake lontong berapa bang?" tanya Rey lagi.
"8 ribu."
"Masih kemahalan bang. Hmm, kalo nggak pake kuah bang?" tanya Rey lagi yang semakin gila
Membuat Rani merasa heran, kenapa dengan diri kakak nya itu, apakah di rasuki setan atau gak bawa uang untuk bayar. Haa
"5 ribu, sebenernya mau beli kagak sih? Nanya mulu." jawab tukang sate mulai sedikit kesal dengan pertanyaan Rey.
"Weitss, sabar dong bang, pembeli adalah raja. Tapi apa kagak ada yang murahan dikit ya bang?" tanya Rey lagi dengan mimik wajah yang serius.
"Ada noh, tusuknya doang." jawab tukang sate kesal menunjuk ke arah tusuk nya.
"Boleh lah bang, saya beli tusuknya aja, berapa bang?" jawab Rey semakin serius.
Rani semakin tertawa tak tahan mendengar dua manusia itu sedang berbicara aneh bak sedang bermain komedian, entah benar-benar mereka berbicara serius atau hanya bercanda saja.
"Tuh gratis buat kamu, memang buat apa sih tusuk doank." tanya tukang sate lagi.
"Ya buat tusuk gigi lah bang. Biar entar cewek-cewek yang lagi duduk disana ngira kalo saya habis makan sate, pasti bakalan teriak. Wuiihh cowok ganteng lewat abis ngeborong sate." (Jalan busungin dada sambil ngorek-ngorek gigi).
"Grreeee." tukang sate terlihat cekikikan tertawa.
Rani tak bisa menahan sakit perut nya karna tertawa terbahak-bahak sekali melihat tingkah Rey dan tukang sate.
Kini tatapan Rey tak berpindah-pindah memandang Rani yang sedang tertawa. Gadis kecil yang dulu selalu menangis dan manja kini sudah begitu dewasa.
Kakak tahu, Rani sedang bersedih sekarang. Dan Rani keluar rumah seperti ini ingin menghilangkan beban pikiran yang ada. Gumam Rey dalam hati.
"Kakak masih mau?" tanya ku lagi menawarkan yang sudah berhenti tertawa tapi sesekali masih dengan ruman wajah ingin tertawa.
"Tidak, kakak tusuk nya saja" bercanda Rey lagi.
Rani kembali tertawa.
BERSAMBUNG...