My Brother Is My Husband

My Brother Is My Husband
What?? Hotel.



***


"Yuk cepat" ucap Rey menyuruh ku untuk ikut dengan nya.


Aku masih saja mematung berdiri seolah-olah tak mendengar yang dikatakan nya baru saja. Rey kembali membalik tubuh nya menatap ku. Dan menghampiri ku lagi.


"Atau mau kakak menggendong nya" Bisik Rey manja di telinga ku, membuat ku sedikit geli mendengar nya.


Rey menggenggam tangan ku dan menarik nya keluar dari kantor ku bekerja. Aku menepis tapi genggaman nya terlalu kuat.


Padahal masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini. Kenapa dia tiba-tiba kemari menemui ku.


Ah, aku bisa apa sekarang Boss pun menyuruh ku menemani nya. Sebenar nya aku bekerja untuk siapa. Aneh.


Rey mengemudikan mobil dengan santai dan pandangan nya tak henti-henti nya menatap ku. Aku tak merespon seolah-olah tak tahu. Pandangan ku jauh memandang keluar jendela mobil dengan sesekali menatap handphone ku. Kami akan kemana aku tidak menanyakan nya sama sekali ke Rey. Aku sangat malas berbicara.


Sepanjang perjalanan di sisi sebelah kiri ku terlihat pantai yang begitu indah. Aku melongo keluar sedikit mengeluarkan kepala. Aku memenjamkan mata dan menghembuskan udara.


"Rani suka?" tanya Rey mengagetkan ku.


Kembali aku duduk dengan posisi seperti semula, dengan tatapan masih memandang lautan.


Sama sekali aku tidak menjawab yang dikatakan Rey. Rey pun sama tak banyak bertanya juga kali ini, berbeda dengan dulu-dulu hubungan kami yang begitu dekat.


Rey terus mengemudikan mobil nya dan tiba-tiba berhenti di suatu tempat. Mungkin sudah sampai di tujuan nya sih, pikir ku. Aku tetap tidak peduli dan tak melihat Rey turun dari mobil.


What..!!?


Ini hotel.


Mau ngapain Rey membawa ku kemari. Tidak Tidak Tidak, ini tidak boleh terjadi. Buru-buru aku turun dari mobil dan hendak pergi. Aku membalikkan tubuh ku.


Waaaaaaw..!!


Ini tempat yang sangat indah dan menakjubkan, tatapan ku terhenti pada satu titik. Dan aku terus melangkah ke arah sana.


Owh Tuhan ini tempat yang sangat indah sekali aku belum pernah ke tempat yang seindah ini. Terlihat pantai disana yang begitu indah, yang sebentar lagi akan tiba nya sunset.


Hotel dimana tempat kami berdiri ini di puncak yang tinggi, untuk turun ke bawah tepian pantai sana harus menuruni puluhan anak tangga.


Wow... sangat indah, dengan anak tangga bertindih-tindihkan bebatuan besar tertata rapi dan tangga yang berliku-liku.


(ini hanya sekedar rekayasa di bayangan Author aja ya, jangan tanya tempat nya dimana, Author pun tak tahu, sebenar nya ada sih, yaa... di hati ku 😊. udah jangan senyum. kita lanjut lagi).


Seumur hidup aku belum pernah ke tempat ini. Ini tempat yang sangat indah sekali. Rey sedari tadi hanya tersenyum melihat tingkah ku.


"Kamar?" jawab ku kaget.


"Iya" jawab Rey mengangguk.


"Kita akan menginap, tidak mungkin kita akan balik hari ini juga kan setelah beberapa jam perjalanan ke sini." lanjut rey bicara.


Aku berjalan mengikuti langkah nya Rey.


"Tunggu." ucap ku dan berhenti melangkah.


Rey membalikkan badan nya menghadap ku.


"Pesan 2 kamar, 1 untuk Nia." ucap ku dan berlalu melangkah lagi.


Rey hanya tersenyum.


**


"Selamat sore. Selamat datang di Rainbow Beach Hotel." Sapa manis seorang karyawan hotel yang berdiri di Resepsionis.


"Sore. Saya ingin memesan dua kamar untuk malam ini. Apakah ada kamar kosong?" tanya Rey ke karyawan hotel itu.


"Akan saya cek dulu. Mohon di tunggu sebentar." Jawab karyawan itu lagi dan kini sibuk dengan Komputer yang di depan nya.


Aku hanya berdiri mematung saja melihat Kak Rey yang sedang memesan kamar.


"Mohon maaf Tuan, Hanya bersisa 1 kamar saja untuk hari ini. Berhubung besok adalah weekend." ucap Karyawan itu lagi sambil tersenyum.


Kak Rey menatap ku. Aku hanya mengangkat bahu saja.


"Baik lah yang itu saja, untuk 2 orang. Dan saya mau tempat tidur double." Ucap Rey lagi.


Rey menyelesaikan permasalahan nya dengan karyawan hotel. Setelah selesai kami langsung menuju ke kamar hotel.


Aku duduk di sisi tempat tidur. Setelah perjalanan tadi aku sangat lelah sekali, tapi aku tak berani merebahkan tubuh ku di tempat tidur.


Aku takut Rey tiba-tiba akan naik ke atas tubuh ku bagaimana, siapa yang akan menolong ku disini.


Ah, kenapa pemikiran ku jorok dan bodoh sekali sih. Aku memukul jidat ku sendiri. Rey menatap ku tertawa, apakah dia membaca pikiran ku sekarang.


"Berehat lah, kakak akan mandi dulu dan kita akan turun melihat sunset." Ucap Rey melihat ke arah ku


BERSAMBUNG...