My Brother Is My Husband

My Brother Is My Husband
Malam air mata



***


"Sayang." panggil Rey dari kejauhan dan terus berlari ke arah ku


Rey terus memeluk tubuh ku. Tapi aku menepis pelukan nya kali ini. Rey tak paham dengan sikap ku yang tiba-tiba menjadi seperti ini.


Aku kembali beranjak masuk ke kamar.


"Sayang, kenapa?" tanya Rey khawatir


Kembali Rey memeluk ku dari belakang dan menghentikan langkah ku yang akan masuk ke kamar.


Aku kembali melepas kan peluk nya dan masuk ke kamar. Rey masih tak berhenti mengikuti langkah ku sampai ke kamar.


"Sayang." panggil Rey lebih lembut


Aku mengambil beberapa lembar foto di atas tempat tidur yang tersimpan rapi dalam sebuah box. Aku memberikan untuk Rey.


Yah, foto Rey dengan seorang perempuan. Dan masih banyak foto-foto lain yang begitu mesra dan buku kecil berisi catatan-catatan tentang nya dengan Dian, yang Rey simpan di dalam box di kamar itu.


"Lihat." pinta ku menahan air mata, mengarah foto-foto itu ke wajah Rey


"Sayang, ini.." ucap Rey terpotong


"Yah, masa lalu kakak, tapi sekarang dia sudah kembali. Dan bekerja di kantor kakak." ucap ku lirih


Rey menatap foto-foto itu, kenapa dia begitu ceroboh masih menyimpan kenangan nya dengan Dian. Ah sial, kenapa juga harus aku menyimpan nya, pikir Rey keras.


Tapi ini Rey menyimpan nya, jauh sebelum Rania kembali dari UK. Jauh sebelum hubungan Rey dan Rani seperti sekarang. Kenapa Rey bisa begitu lupa membuang nya.


"Rani pernah melihat dia di kantor kakak, dan bau parfum di baju kakak hari itu adalah bau parfum dia." ucap ku menerka dengan pikiran ku, setelah melihat foto perempuan yang di gambar itu dan dengan perempuan di kantor Rey


"No. Rani tidak pernah cemburu. Tapi kakak telah membohongi Rani selama ini." ucap ku masih menahan tangis


Tapi terlihat jelas raut wajah ku begitu cemburu sekarang. Bagaimana aku sama sekali tidak cemburu, laki-laki yang setiap hari bersama ku tahu-tahu menyimpan rahasia masa lalu yang besar.


"Sayang, apa masalah nya sekarang. Hubungan kita baik-baik." ucap Rey menenangkan


"Kenapa kakak tidak pernah jujur?" tanya ku pelan dan melihat ke arah nya dengan tatapan tajam


Aku mulai duduk di sisi tempat tidur, sudah tak bisa menahan air mata dengan kepala tertunduk.


Rey kembali menyentuh ku memeluk, tapi berkali-kali aku menepis.


"Sekarang, kakak pergi lah dengan nya. Dia sudah kembali." pinta ku tak melihat sama sekali ke arah Rey


"Sayang bicara apa ini, kakak sama sekali tidak pernah berpikiran untuk meninggalkan Rani." ucap Rey dengan suara keras dan meninggi


"Selama ini, beberapa tahun ini, Rani hanya sebagai pelarian kakak saja, disaat hati kakak yang sedang terluka." ucap ku terisak


Rey memeluk tubuh ku. Aku sudah tak mampu menolak nya. Aku hanya mampu menangis sejadi-jadi nya di pelukan Rey.


Rey menyentuh lembut punggung ku dan memeluk ku begitu erat.


"Percaya lah sayang. Kakak menyayangi Rani lebih dari segala apa pun itu. Jangan menyuruh kakak untuk pergi dari hidup Rani. Rani yang sudah membuat hidup kakak lebih berwarna." sahut Rey pelan yang masih memeluk ku dan mencium ku di ubun-ubun


Aku melepas pelukan Rey. Menatap wajah dan mata nya dalam.


"Bagaimana dengan Dian yang masih mencintai kakak?" tanya ku lirih dan kembali dengan tatapan tertunduk


BERSAMBUNG...