
***
"Sayang, gaun nya kesempitan." ujar ku memelas kepada Rey
Rey tak menjawab, akan tetapi malah menertawai. Bagaimana tidak, ini semua ulah nya karna mengajak ku makan di luar terus sejak beberapa hari terakhir. Karyawan butik pun yang melihat ikut tertawa.
Kalau mama mengetahui pasti akan memarahi habis-habisan. Yah, karna kemarin masih oke-oke saja body ku tapi sekarang, hiks hiks.
Pernikahan sudah akan di depan mata. Bagaimana dengan gaun yang sudah di fitting minggu lalu sudah tidak muat begini.
**
"Kan sudah kakak bilang kalau makan di kontrol jangan sembarangan dan suka ngemil."
"Eh, bukan nya ini salah kakak." sahut ku kesal
"Kakak hanya mengajak keluar, hehe" ujar Rey merasa tak bersalah
Mobil terus melaju, dan memasuki parkiran restoran ter-enak di kota itu.
"Kita akan kemana lagi?" tanya ku melihat sekitar
"Makan." sahut Rey cepat
"Nanti.." ujar ku terpotong
"Sudah, nanti saja diet nya." jawab Rey tersenyum
Rey melangkah masuk dan langkah ku mengikut di belakang Rey. Rey memilih meja yang di pojok.
"Rani pesan minum sour plum tea saja." ujar ku tiba-tiba
"Yakin sayang tidak mau makan?"
"Eum." sahut ku pelan
"Kenapa harus berdiet. Gemuk pun kakak tetap suka." sahut Rey manja mengedip kan mata
Aku hanya tersenyum yang ku buat-buat. Sama sekali tidak lucu.
**
Malam yang sunyi. Dentingan jam di ruang atas terdengar begitu jelas memasuki seisi kamar Rani.
Yah, Rani merindukan sosok ibu kandung nya dan Bapa nya yang telah lama tiada. Kerinduan yang entah sudah menyelimuti jiwa raga nya itu. Air mata terjatuh berderai di kedua pipi gadis manja itu.
Detik berganti menit bergantikan jam. Mata yang belum mampu di penjam nya. Kerinduan yang begitu mendalam.
"Ma, Pa, Rani akan menikah dalam beberapa hari lagi. Iyah, dengan Kak Rey. Rani akan menjalan kan amanah dan keinginan papa dengan mama. Rani sangat merindukan papa dengan mama" ujar Rani pelan melihat foto kedua orang tua nya dengan tangis yang sudah tak mampu di bendung sedari tadi
Rey yang sedang berlalu ingin ke dapur mengambil minum. Mendengar tangisan Rani dan bicara nya itu. Rey terpaku di depan pintu kamar Rani.
Bagaimana tidak, sosok yang begitu ceria setiap hari nya. Tapi, menyimpan kesedihan dan duka yang begitu mendalam seumur hidup nya.
Rey membuka pintu kamar Rani tanpa mengetuk terlebih dulu dan terus melangkah masuk.
Terlihat dari jarak yang tidak begitu jauh, Rani terpaku di atas tempat tidur nya dengan mata memenjam dan foto di tangan nya.
"Sayang." panggil Rey lirih
Rani membuka kan mata nya pelan yang masih terurai air mata di pipi.
Rey beranjak melangkah ke sisi tempat tidur dan memeluk Rani lembut.
"Sayang, kakak berjanji akan selalu menjaga Rani, apa pun yang terjadi." ujar Rey pelan dan melepas pelukan nya
Aku hanya mampu tersenyum, dengan bibir yang tak mampu berkata sama sekali.
"Sekarang tidur lah, hari sudah begitu malam sayang." pinta Rey mengusap wajah ku lembut
Aku tersenyum mengangguk pelan. Rey menutup tubuh ku dengan selimut dan berlalu ingin pergi.
"Kak, teman kan Rani tidur malam ini." pinta ku menatap wajah nya dalam
"Tapi sayang.." sahut Rey terpotong
"Hanya malam ini." pinta ku menyipitkan mata
"Baik lah." ucap Rey pelan mengangguk
Rey duduk di sisi ku yang sedang tertidur. Rey mengangkat kepala ku halus dan meletak kan pelan ke sisi paha nya yang terduduk itu. Mengusap lembut kepala ku dengan tangan nya yang begitu halus.
Aku merasa kan kenyamanan yang begitu mendalam. Sentuhan yang begitu lembut membuat ku terbuai dan benar-benar tertidur lelap malam ini.
BERSAMBUNG...